1. Latar Belakang: Dari Kejayaan Tepi Danau hingga Kebangkitan Fantastis
Berdiri megah di tepi Danau Como sejak 30 Juli 1927, Stadio Giuseppe Sinigaglia di Lombardia bukan sekadar tempat laga sepak bola. Berlatarkan panorama spektakuler Pegunungan Alpen dan pemandangan danau yang memukau, arena ini kerap dinobatkan sebagai salah satu stadion dengan lanskap terindah di benua Eropa. Nama stadion ini merupakan bentuk penghormatan kepada Giuseppe Sinigaglia—pahlawan lokal sekaligus atlet dayung peraih medali perak Olimpiade Stockholm 1912 yang gugur dalam Perang Dunia I.
Klub Como 1907 menjadikan Sinigaglia sebagai rumah mereka sejak musim 1928–1929. Meski sempat melahirkan jajaran bintang pada era 1980-an, perjalanan klub ini dipenuhi badai krisis keuangan dan kebangkrutan yang berulang. Dampaknya, Stadio Sinigaglia terlantar dan terbengkalai. Karena masalah keselamatan struktur, kapasitas stadion yang semula menampung 13.900 penonton pada tahun 2003 dipangkas secara drastis hingga hanya diizinkan menampung maksimal 5.000 penonton.
Titik balik bersejarah terjadi pada April 2019. Dua konglomerat asal Indonesia, Robert dan Michael Hartono (Grup Djarum), mengambil alih Como 1907 lewat proses lelang senilai 800.000 Euro. Tidak hanya berfokus pada performa skuad di lapangan, tetapi juga aktif menyokong kegiatan sosial serta menghidupkan ekosistem UMKM lokal, manajemen baru membimbing perjalanan klub mendaki naik kasta yang kisahnya berjalan bak dongeng:
Musim 2019/2020: Menjuarai Serie D dan promosi ke Serie C.
Musim 2020/2021, 2021/2022, 2022/2023: Promosi dan mengamankan posisi di Serie B.
Musim 2024/2025: Resmi menembus kasta tertinggi, Serie A.
Musim 2025/2026: Mencetak rekor emas sepanjang sejarah kota dengan menduduki Peringkat 4 Serie A sekaligus mengamankan tiket kualifikasi Liga Champions UEFA.
Kemenangan ini memicu gelombang euforia. Publik dan para suporter yang semula skeptis terhadap pemilik asal Indonesia kini berbalik memberikan penghormatan setinggi-tingginya. Euforia terasa di berbagai sudut kota, mulai dari stadion, jalanan, hingga media sosial. Di tengah perayaan tersebut, satu kalimat terus bermunculan dari para pendukung Como, yaitu “Grazie Hartono” atau “Terima Kasih Hartono.”
Namun, kesuksesan di lapangan membawa konsekuensi baru: Stadio Sinigaglia wajib memenuhi standar ketat UEFA untuk laga Liga Champions. Renovasi besar-besar atas aset milik Pemerintah Kota Como ini pun tak lagi bisa ditunda.
2. Dinamika dan Kontroversi Renovasi
Rancangan Desain & Visi Modernisasi
Pada Februari 2025, Como 1907 bersama Pemerintah Kota Como dan biro arsitek kenamaan Populous Italia meluncurkan konsep awal renovasi. Mereka berkomitmen menjaga transparansi dan mengikutsertakan partisipasi publik.
Sebagai fondasi awal, diajukan Dokumen Kelayakan Alternatif Proyek (DOCFAP) dengan perkiraan garis waktu:
Mei 2026: Proses Desain Kelayakan dan Persetujuan.
Oktober 2027: Konstruksi Tahap I.
Agustus 2028: Konstruksi Tahap II.
Rancangan yang dipamerkan mencakup penataan kawasan tepi danau di sekitar stadion untuk dijadikan ruang publik multifungsi yang hidup sepanjang tahun (365 hari).
Gelombang Penolakan: Cagar Budaya vs. Komersialisasi
Rencana tersebut memicu rekonstruksi dan penolakan hangat dari berbagai elemen akademis dan warga:
Petisi Para Ahli (Maret 2025): Lebih dari 100 arsitek, akademisi, dan intelektual menandatangani petisi penolakan. Kawasan Tempio Voltiano dan taman tepi danau dianggap sebagai “museum terbuka” arsitektur gaya Rasionalisme Italia (seperti Casa del Fascio karya Giuseppe Terragni dan Novocomum). Mereka khawatir penambahan struktur atap, volume bangunan yang besar, serta area komersial akan merusak lanskap sejarah antara Stadion, Monumento ai Caduti, Casa Giuliani-Frigerio, dan klub dayung (Canottieri). Mereka menuntut pemugaran konservatif dan menyarankan pembangunan stadion baru di lokasi terpisah.
Kritik Asosiasi Arsitek Como (Visioni Urbane, April 2025): Mengritik pendekatan proyek yang terisolasi dari Rencana Tata Ruang Wilayah (PGT) kota Como yang dinilai sudah kadaluwarsa. Asosiasi mempertanyakan keberadaan fasilitas pendukung seperti hotel, kolam renang, area ritel, dan gedung parkir:
Apakah fasilitas tersebut murni pendukung olahraga, atau stadion sekadar dalih proyek real estat megah?
Penambahan kapasitas dari ~11.000 menjadi 15.000 penonton dikhawatirkan memicu kemacetan permanen. Mereka merekomendasikan solusi sistematis, termasuk penyediaan transportasi publik masal seperti trem/kereta ringan.
Resistensi Komite Warga (April 2025 – September 2026): Warga membentuk Comitato Civico per la Tutela della Zona Stadio dengan slogan ikonik: “Sinigaglia yang lebih modern, YES; Disneyland, NO!”. Komite ini melayangkan tuntutan hukum ke Pengadilan Administrasi Regional (TAR) terkait kejelasan klasifikasi pengerjaan tribun baru (Curva) dan menuntut penghentian proyek yang berpotensi melanggar izin.
3. Koalisi Dukungan: “Sinigaglia Must Go On”
Di sisi lain, terbentuk koalisi dukungan yang kuat antara manajemen klub, pemerintah daerah, profesional infrastruktur, hingga komunitas suporter.
Sinergi Tiga Pilar (4 Februari 2025): Wali Kota Como (Alessandro Rapinese), Presiden Como 1907 (Mirwan Suwarso), dan GM Populous Italia (Silvia Prandelli) mempresentasikan visi bersama:
Alessandro Rapinese: Mengusung semangat “Sinigaglia must go on”. Beliau menegaskan bahwa stadion harus tetap berada di lokasi bersejarahnya dan menjadi proyek revitalisasi kawasan tepi danau bagi seluruh warga.
Mirwan Suwarso: Menekankan komitmen untuk menghormati warisan sejarah sembari mentransformasi stadion menjadi hub komunitas yang aktif dan ramah warga sepanjang tahun, bukan sekadar tempat pertandingan sepak bola.
Kompromi Berkelanjutan (Mei 2026): Merespon masukan publik, pihak klub menunjukkan sikap fleksibel dengan merespons revisi rancangan—seperti menghapus rencana pembangunan hotel dan mengurangi persentase komersial agar tercapai keseimbangan antara keuntungan swasta dan manfaat publik.
4. Kesimpulan
Kasus renovasi Stadio Giuseppe Sinigaglia membuka diskursus mendalam mengenai penataan ruang kota modern. Di satu sisi, jejaring penentang berhasil membawa isu-isu krusial terkait pelestarian cagar budaya Rasionalisme, transparansi konsesi, dan daya dukung lingkungan. Di sisi lain, koalisi pendukung menawarkan visi masa depan yang konkret—didukung oleh kesuksesan finansial dan prestasi gemilang klub di kancah Eropa.
Masa depan Sinigaglia kini berada di persimpangan jalan: bagaimana menyelaraskan kejayaan sejarah dan identitas arsitektur kota dengan tuntutan modernisasi sepak bola tingkat dunia.
Sumber: berbagai tulisan dan berita, Sumber foto: instagram como1907




