Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CITY OF ORANJE

Oleh: Rinto Taib, MSi
(Kepala Museum Rempah-Rempah Kota Ternate)

Sebagai pusat perdagangan dan transaksi ekonomi masyarakat sejak era kolonial, maka kawasan benteng Oranje sejak dahulu menjadi episentrum denyut kehidupan sosial ekonomi masyarakat kota Ternate. Hal ini ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang dikenal dengan pasar Gamalama sejak awal kemerdekaan yang begitu ramai hingga kini seolah tidak pernah sepi dari aktivitas transaksi ekonomi masyarakat Ternate maupun dari berbagai daerah sekitarnya. Sebagai kota jasa maka kawasan ini memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi dan disaat yang bersamaan merupakan kawasan yang vital bagi segala tumpuan kehidupan sosial ekonomi masyarakat tentunya. Nilai strategis kawasan benteng Oranje inilah menjadikannya memiliki nilai lebih bagi upaya meningkatkan kunjungan ke benteng ini sebagai destinasi favorit masyarakat lokal hingga wisatawan mancanegara.

Komunitas Ons Oranje Ternate di depan Gerbang Utama Fort Oranje

Selain berada ditengah-tengah kota yang dikepung oleh berbagai aktivitas sosial ekonomi masyarakat, fasilitas-fasilitas perkotaan seperti pasar, pertokoan dan perhotelan serta sejumlah restoran dan caffe di sekitar kawasan benteng ini maka menjadikan benteng Oranje menjadi potensial sebagai sebuah destinasi wisata kota Ternate. Sebagai sebuah kawasan pusat perkotaan maka kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang beragam karakteristik sosial budaya yang berasal dari ragam suku, agama, ras dan golongan serta stratifikasi sosial ekonomi yang beragam pula. Diantaranya adalah para pedagang keturunan Tionghoa, Arab, Sumatera, Jawa, Bugis dan Makassar serta berbagai daerah lainnya di Indonesia termasuk pula dari warga asal provinsi Maluku Utara seperti Tobelo, Tidore, dan lain-lain sebagainya yang telah lama bermukim di sekitar kawasan benteng Oranje tersebut dan tersebar di berbagai kelurahan sekitar benteng antara lain: kelurahan Gamalama, Kampung Makassar, Muhajirin, Santiong, dan sekitarnya.

Keanekaraman budaya masyarakat yang berasal dari berbagai daerah tersebut membuktikan bahwa sejak dahulu kala, benteng ini menjadi pusat perekonomian dan perdagangan masyarakat tempatan sehingga menjadi menarik bagi berbagai suku bangsa untuk menetap dan mengais rejeki di sekitar kawasan benteng ini. Terlebih pasca revitalisasi benteng, berbagai kelompok masyarakat yang bergerak dalam bidang usaha UKM seperti caffe dan barang dagangan lainnya seperti alat musik (guitar) mulai menempati kawasan dalam benteng Oranje sebagai bagian wujud dari pemanfaatan benteng. Meskipun demikian, aspek pemanfaatan tersebut dalam hal dan segi tertentu masih perlu ditekankan dan diingatkan (warning) terkait dengan pelestarian benteng sebagai cagar budaya peringkat nasional. Hal ini dipandang penting karena minimnya sosialisasi dan penyebarluasan informasi dari berbagai instansi terkait khususnya tentang aspek pelestariannya sebagai salah satu cagar budaya yang memiliki nilai penting bagi bangsa Indonesia tentunya.

Malam Deklarasi Ons Oranje Ternate saat eforia Piala Dunia 2022 di Fort Oranje

Sebagai ruang pusaka yang terletak di jantung kota Ternate maka benteng Oranje secara sosiologis menjadi titik simpul interasksi sosial budaya masyarakat tempatan. Keramaian kunjungan merupakan hal yang sulit dihindari terlebih pada sore hingga malam hari benteng ini menjadi tempat yang mudah dan murah untuk mempertemukan satu dengan lainnya dalam ragam kepentingan. Mulai dari ruang diskusi pelajar dan mahasiswa, pertemuan bisnis dan transaksi jual beli, creative hub (sebagai pusat komunitas kreatif masyarakat kota Ternate), berbagai event olahraga, seni dan pergelaran budaya masyarakat (sanggar tari dan musik, galeri seni lukis daan menggambar, konser musik dan pementasan lainnya. Dalam catatan kami, bahkan tak jarang terjadi gelaran selebrasi pernikahan (weeding party) hingga kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan seperti sunatan massal dan donor darah yang dilakukan baik oleh komunitas masyarakat, pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi. Adapun beberapa alasan sebagai faktor pendorong dilakukannya kegiatan seperti yang disebutkan tersebut diatas, antara lain: karena letak kawasan benteng Oranje yang strategis, didukung fasilitas yang representatif seperti sarana parkiran, gedung dan bangunan yang layak serta tentunya gratis alias tanpa pungutan biaya apapun.

Keselurahan kegiatan tersebut seolah menjadi realitas sosial yang merepresentasikan benteng Oranje sebagai pusat aktivitas sosial, budaya, ekonomi dan pariwisata yang dapat kita saksikannya di setiap harinya. Meskipun tanpa memiliki jadwal rutin yang digelar, semua kegiatan komunitas dan masyarakat luas dalam kawasan benteng Oranje tersebut terus terselenggara hampir setiap harinya terlebih pada waktu sore dan malam hari. Pada konteks sosiologis dan kultural, keramaian aktivitas dalam wujud pemanfaatan benteng seolah merepresentasikan kawasan ini bukanlah sekedar kawasan peninggalan sejarah warisan masa lalu yang memiliki makna pusaka dalam artia sempit seolah dipahami sebagai kawasan “kuno” atau yang di sakralkan melainkan sebuah ruang pusaka yang dinamis sebagai creative space bagi upaya-upaya pemajuan kebudayaan.

Penulis saat bersama peserta Muhibah Jalur Rempah di Fort Oranje Ternate

Benteng Oranje benar-benar telah berubah wujud secara perlahan sejak tahun 2012 terhitung sejak tahapan awal program revitalisasi dan penataan kawasan benteng secara menyeluruh hingga pertama kali digunakan untuk penyelenggaraan event seni budaya dan expo batu mulia saat bumingnya batu Bacan pada tahun 2015 dalam rangkaian perayaan hari jadi Kota Ternate. Sejak itulah kawasan ini semakin menjadi tumbuh dan berkembang, bergeliat secara dinamis layaknya sebuah kota “City of Oranje”. Ya, sebuah kota yang penuh dengan hiruk pikuk aktivitas warganya dalam ragam kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Disini ada transaksi dagang dan investasi ekonomi, ruang wacana dan reproduksi ide, aktivisme politik dan sirkulasi kekuasaan dalam ragam isu kerakyatan, gelaran dan pementasan dalam ragam gendre, dan lain sebagainya.

Sebagaimana namaya benteng Oranje, kawasan ini begitu memukau bagi siapa saja yang pernah berkunjung kesini. Terlebih dengan adanya kebijakan pemerintah kota Ternate untuk menjadikannya sebagai creative hub maka benteng ini seolah menjadi miniatur sebuah “kota” yang terus bergeliat tanpa henti oleh ragam aktivitas sosial kemasyarakatan dan kebudayaan termasuk pula kepariwisataannya (destinasi). Sebagai sebuah destinasi wisata, benteng Oranje menyediakan berbagai informasi kesejarahan dan kebudayaan Ternate sebagai sebuah kota yang pernah berjaya sekaligus menjadikannya sebagai episentrum peradaban dunia yang mengendalikan perdagangan rempah-rempah dunia pada masa kejayaan rempah dimasa lalu.

Penulis bersama para siswa dalam Kunjungan ke Museum Rempah Kota Ternate.

Atas realitas kesejarahan itulah, sejak 2015 pemerintah kota Ternate menerbitkan regulasi penetapan Museum Rempah yang dikelola oleh UPTD Pelestarian Sejarah dan Permuseuman Kota Ternate hingga otonom sebagai Museum dengan badan pengelolanya sejak tahun 2019 silam melalui surat keputusan Wali Kota Ternate No. 88.A/11.24/KT Tahun 2019 Tentang Penetapan Pemanfaatan dan Pengelolaan Bangunan Cagar Budaya Benteng Oranje sebagai Museum Rempah-Rempah Kota Ternate.

Sebagai museum tematik yang merupakan satu-satunya di Indonesia, museum rempah-rempah kota Ternate terus berbenah dari segi manajemen pelayanan dan pengelolaannya. Museum rempah pada konteks ini terus berupaya sebagai pusat informasi dan edukasi yang menarik bagi semua kalangan termasuk bagi para pelajar dan mahasiswa hingga peneliti dan wisatawan. Baik lokal, regional hingga wisatawan manca negara. Berbagai kerjasama telah terjalin baik dengan lembaga pemerintah, swasta, perguruan tinggi hingga lembaga riset dalam negeri maupun luar negeri. Selain menerbitkan laporan penelitian melalui artikel, juga dalam bentuk penerbitan buku dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Para pengunjung di museum rempah dari berbagai kalangan, dari masyarakat umum, pejabat, artis hingga duta besar dari berbagai negara.

Penulis bersama pengunjung Museum Rempah Kota Ternate dari PT. Telkom Indonesia

Berbagai jenis kegiatan turut pernah digelar di Museum Rempah, dari dialog publik, field study, forum dialog komunitas intelektual (akademisi), pameran komunitas kreatif seperti pameran foto dan komik, gelaran diskusi terpumpun (FGD) unur pemerintah, perjamuan bersama para duta besar hingga konser musik di pelataran halaman depan musum rempah semuanya pernah digelar disini. Meskipun masih dengan keterbatasan koleksi yang seadanya namun upaya maksimal dari pengelola untuk memberikan informasi dan edukasi serta pelayanan prima bagi pengunjung menjadikan museum ini pernah meraih Indonesia Museum Award pada tahun 2019 silam untuk kategori sebagai museum bersahabat. Semua capaian itu merupakan buah dari komitmen dan konsistensi pengelola bagi publik tentunya.

Semoga segala capaian dan segala raihan untuk menjadikan museum rempah sebagai sumber pembelajaran menarik bagi para pelajar dan mahasiswa serta destinasi menarik bagi para wisatawan dapat ditingkatkan peranannya di tahun baru 2023 ini dan tahun-tahun mendatang terlebih bagi upaya-upaya dan agenda-agenda pemajuan kebudayaan sekaligus sebagai wujud komitmen dan konsistensi pemerintah kota Ternate sejak ditetapkan dan di launhing city branding kota Ternate sebagai Kota Rempah di penghujung tahun 2021 silam.

Leave a Comment