Ketika pada tahun 1985 Helena Vaz da Silva [1] meluncurkan seri “The Portuguese Encountering Their History” di Centro Nacional de Cultura, ia mungkin tidak membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian kita masih terus mencari pertemuan tak terduga di tempat-tempat paling terpencil di bumi. Lebih dari sekadar menilik sejarah, ini adalah tentang menciptakan duta-duta para penulis, seniman, dan warga yang tertarik untuk memupuk saling pengertian yang lebih baik – Guilherme d’Oliveira Martins
Oleh Guilherme d’Oliveira Martins [2]
Setiba di Kuala Lumpur dari Amsterdam, kami memulai ziarah ini dengan mengenang bahwa Fernão Mendes Pinto [3] berada di sini pada momen penting perjalanannya. Malaka menyambut kami seperti raja. Kunjungan ke perkampungan Portugis merupakan daya tarik tersendiri. Dari Benteng Afonso de Albuquerque kuno, “A Famosa”, hanya gerbang dengan sisa-sisa dinding, karena Inggris tidak mencegah penghancuran bangunan militer tua yang sangat mirip dengan Torre de Belém kami, sebagaimana tergambar dalam dokumen-dokumen masa itu.

Bagi kami, bagian yang paling mengharukan adalah pendakian ke Gereja Our Lady of the Mount atau Gereja St. Paul, tempat Santo Fransiskus Xaverius [4] berkhotbah dan tempat D. Miguel de Castro, putra D. João de Castro,[5] dimakamkan. Kunjungan-kunjungan itu berlangsung silih berganti, tetapi yang terpenting adalah mendengarkan dialek abad 16, lingua franca para pedagang yang dikembangkan oleh para misionaris. Kami merasa bahwa komunitas yang dulu kami tinggalkan di abad 17 itu membutuhkan lebih banyak pelajaran dan dukungan kami. Itulah yang orang-orang minta dari kami, dan kami tidak dapat tidak menanggapinya.
Dari Malaysia, kami pergi ke Bali, tempat kami mengalami total immersion dalam budaya Hindu, yang ditempa oleh animisme tertua di pulau itu. Di pura-pura yang kami kunjungi, kami temukan tiga dunia dalam budaya Hindu – alam para roh penasaran yang harus ditenangkan, alam manusia, dan alam ketiga, alam para dewa dan para leluhur.
Dalam perjalanan panjang menuju pegunungan, kami melihat teras-teras sawah hijau, juga kebun pisang, kakao, pepaya, dan mangga, serta banyak patung Hindu; kami juga menyaksikan perayaan umat Islam yang merayakan akhir Ramadan dengan penuh warna dan kegembiraan. Dan puncaknya adalah pendakian Gunung Batur, dengan pemandangan yang menakjubkan di mana bahkan matahari pun muncul dengan malu-malu.
Danaunya menempati sebagian kawah, dan tempat itu mewakili pertemuan alami antara yang sakral dengan manusia. – dan ketika kami tiba di pura Mata Air Suci [6] tempat pemurnian melalui air sangat terasa, secara alami kami merasakan dialog antara manusia dan kekuatan alam.

Mengikuti jejak-jejak kehadiran Portugis yang efektif, kami berangkat ke Flores. Kami tiba tepat waktu untuk makan siang yang agak terlambat namun menyegarkan, untuk mengunjungi keluarga kerajaan Sika – Ximenes da Silva – di Rumah Maumere dimana kami melihat harta karun kecil – namun signifikan –terdiri dari mahkota, gelang-gelang kecil, dan senjata-senjata tajam.

Mahkota kerajaan tersebut adalah helm emas abad 17, dari tahun 1607, diukir di Malaka, tampilannya mengesankan oleh kecemerlangan emasnya. Kami rasa perlu diciptakan kondisi yang lebih aman bagi warisan ini, yang mengingatkan pada perjanjian yang dibuat oleh Portugis dengan para kepala suku di pulau “Cabo das Flores” tiga ratus tahun lalu. Dan kami tersentuh melihat tanda tangan Helena Vaz da Silva di buku tamu, merasa bahwa kenangan itu tak terlupakan.
Pulau Flores, dinamai oleh Portugis, tidak pernah ditaklukkan. Secara tradisional, raja-rajanya secara otonom menjalankan kekuasaan di tanah tempat ular bertahta ini. Sebaliknya, hingga tahun 1851, penduduknya mendapat dukungan Portugis berdasarkan pemahaman leluhur – yang diperkuat oleh karakteristik budaya dan agama yang unik dari masyarakat ini.

Dalam perjalanan menuju Sika, tempat kami menjumpai kerajaan kuno, istananya, dan lokasi geografisnya, kami sadari pulau ini ramah dan penuh persaudaraan. Tuan Pereira juga menunjukkan kepada kami apa yang hilang dari harta karun Sika yang fantastis – Bayi Yesus, Juru Selamat Dunia, yang berbalut kemegahan Portugal. Dan jika dikatakan bahwa Pulau Flores tidak pernah menjadi objek penaklukan, hal ini memperjelas bahwa keramahan yang kami terima berasal dari sejarah panjang ini – humanisme, keterbukaan, dan kompleksitas. Kami disambut dengan tangan terbuka oleh masyarakat yang tidak menyembunyikan keramahan mereka. Kami merasakannya terutama di pegunungan, di desa Watublapi, tempat kami menghisap tembakau perdamaian, menyaksikan tarian tradisional, dan melihat bagaimana kain dibuat. Ini adalah sebuah momen emosional yang dirasakan bersama. Terlepas dari jarak, Flores mewakili situasi yang unik, dan penduduknya sangat menghargai hingga kini, dan dan kami pun sangat menghargai mereka.
Di sini di Larantuka, Paskah tak terlupakan dan mengharukan. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Portugis, bahasa suci, dan prosesi di laut merupakan cerminan yang tepat dari tradisi tertua Portugal.
Perjalanan darat yang panjang, dari Dili ke Baucau. Perjalanan ini tetap penuh petualangan, dengan jalan yang sangat tidak rata yang membutuhkan perjuangan, rintangan, dan kehati-hatian ekstra.. Awan berkumpul di cakrawala, tetapi hujan tak kunjung turun; alih-alih, matahari dan panas menggantikannya. Pertama, kami disuguhi lanskap bebatuan, lalu batu kapur, pertama hijau lalu kuning, hingga kota Manatuto, lahan pertanian kecil dan irigasi, lalu padang rumput kering. Laut selalu menemani, dengan warna biru yang fantastis, kami sempat sedikit takut karena jurang yang curam.
Semuanya terpesona; inilah sisi terbaik Timor Timur, tanah yang ramah berbatu, intens dan manis – dan bahkan hutan bakau pun menjadi pelajaran, bahwa mereka tumbuh subur di air asin, hanya membutuhkan beberapa jam di air tawar. Kami tiba di Baucau terlambat hampir satu jam, dan Uskup Basilio do Nascimento menunggu kami dengan kehangatan dan keramahan khasnya. Sekelompok gadis muda menunggu kami di katedral, dan nyanyian mereka selama kebaktian merupakan cara mereka menyambut kami. Kami mendengar bahasa Portugis mereka, terkadang ragu-ragu, diselingi senyum kecil, tetapi tatapan mereka menyentuh tulus dan ramah.
Ditemani Camões
Kami berangkat pagi-pagi sekali ke Ambon, begitu tiba di Maluku, kami mulai melihat sendiri contoh lain dari kehadiran Portugis di Timur Jauh. Meski terjadi beberapa penundaan yang tak terelakkan, terutama karena penerbangan carter khusus, kami tiba di teluk ini di penghujung pagi dan langsung menyelami suasana kota khatulistiwa di pulau kecil padat penduduk berhutan lebat. Kehadiran kami, sekelompok besar orang Portugis, sungguh mengejutkan. Pemerintah setempat berupaya semaksimal mungkin menyambut kami. Kami diantar ke hotel dan kemudian ke restoran untuk makan siang, dikawal mobil polisi kota. Profesor Luiz Filipe Thomaz, pemandu kami yang tak kenal lelah, seorang peziarah lintas waktu, mengenang secara rinci perubahan-perubahan kehadiran Portugis di sini, dari tahun 1512 hingga 1605. Ia bercerita tentang karamnya kapal Francisco Serrão di Kepulauan Turtle, perdagangan cengkeh dan pala, serta kedatangan Santo Fransiskus Xaverius.
Selama kunjungan ke Maluku ini, kami tidak bisa melupakan bahwa Ferdinand Magellan [7], meski seorang Portugis, menawarkan jasanya kepada Raja Spanyol untuk mencoba menunjukkan bahwa kepulauan ini berada di luar wilayah Portugis. Sia-sia apa yang dilakukannya, karena setibanya di sana, segera ia sadari bahwa ia salah.
Kelanjutan kisahnya sudah dikenal orang, tetapi kami mengingatnya kembali bersama Mgr. Andreas Sol, seorang Katolik Belanda yang antusias dengan kehadiran Portugis di Maluku, khususnya di Ambon. Koleksi pustakanya adalah harta karun: buku, peta, kronik, majalah – tetapi yang lebih penting adalah caranya menyambut kami di ulangtahunnya yang ke 95. Tak diragukan lagi, inilah puncak kunjungan kami di Ambon. Di antara buku-buku dan memori adalah kenangan akan orang-orang Portugis yang pernah ada di sini.
Kami ditemani Camões [8]. Setiba di Ternate, kami baca apa yang diceritakan penyair epik itu dalam Canto X , Os Lusíadas:
“Tengoklah ke sini, ke seberang laut-laut di Timur
Ke pulau-pulau yang bertebaran tanpa akhir:
Lihatlah Tidore dan Ternate, airnya yang mendidih
puncaknya, yang menyemburkan bergulung-gulung api
kau akan lihat pepohonan cengkeh yang terbakar
akan tetap dibeli, dengan darah Portugis.”
Dikelilingi gunung-gunung berapi yang tak aktif, dari Makassar, Sulawesi, kami kembali ke Maluku Utara, di mana memori tentang Portugis juga sangat terasa. Kami disambut dengan penghormatan istimewa. Kami mengunjungi Sultan Ternate, Mudaffar Syah, yang mengenang keberadaan Portugis di masa lampau dan menekankan bahwa kita kini dipertemukan kembali atas nama budaya perdamaian. Sultan adalah sosok yang berbudaya dan menekankan pentingnya kehadiran Portugis bagi Kesultanan, seraya mengatakan bahwa kita masing-masing pasti akan menjadi duta bagi Ternate, di mana pun kita berada. Beliau berbicara kepada kami tentang fenomena keagamaan dan pentingnya pengetahuan dalam perbedaan budaya atau dialog antar agama. Kami ke area produksi cengkeh, di bawah hujan rintik-rintik, juga ke area produksi pala, dan, dalam perjalanan mengelilingi pulau, kami berhenti di jalan untuk melihat tanaman-tanaman tersebut dan memahami siklus produksinya masing-masing.
Armada Portugis pertama yang menuju Maluku melibatkan Nina Chatu; pedagang dari Tamil dan Ismael, nakoda bangsa Moor bersama Rui Araújo, fasilitator dari Malaka. Namun, ekspedisi António Abreu tahun 1511 adalah ekspedisi serius pertama, sarat dengan barang-barang berharga dari kepulauan rempah. Sejarah kepulauan ini dan Portugis penuh dengan petualangan dan perubahan.
Di Tidore, tiba menggunakan speedboat, kami menerima sambutan hangat yang sama, dengan tari, nyanyi, dan keramahan luar biasa. Sultan juga menekankan betapa baiknya kami disambut dan betapa bersahabatnya kehadiran kami. Panorama khatulistiwa begitu indah, dan air lautnya hangat. Ketika, pada esok harinya, berada di Jakarta, di Kafe Batavia (yang dindingnya penuh dengan foto-foto mistis), kami bertemu dengan para anggota komunitas Tugu (dari Malaka, Ceylon, dan Kochi), kami sadari bahwa kenangan akan bahasa Portugis sebagai lingua franca, bukanlah ilusi yang jauh. Sinar mata perempuan muda Tugu yang sedang belajar bahasa Portugis, memberitahu kami bahwa sejarah terus bertahan hidup!
FugasViagens 10.11.2011
[1] Helena Vaz da Silva (1939–2002) adalah salah satu jurnalis budaya pertama dan paling berpengaruh di Portugis. Ia pernah menjadi anggota Parlemen Eropa antara tahun 1994 dan 1999.
[2] Guilherme d’Oliveira Martins, presiden Badan Pemeriksa Keuangan, juga presiden Pusat Kebudayaan Nasional. Antara 27 Agustus dan 10 September 2011, beliau berpartisipasi dalam perjalanan yang diselenggarakan oleh lembaga tersebut, bekerja sama dengan Pusat Studi Masyarakat dan Budaya Ekspresi Portugis (Centro de Estudos dos Povos e Culturas de Expressão Portuguesa), melalui Malaysia, Timor Leste, dan Indonesia, dalam rangka peringatan 500 tahun berdirinya Portugis di Malaka.
[3] Fernão Mendes Pinto adalah seorang penjelajah dan penulis Portugis. Perjalanannya tercatat dalam Pilgrimage (Ziarah), otobiografinya yang diterbitkan pada tahun 1614.
[4] Fransiskus Xaverius, yang dihormati sebagai Santo Fransiskus Xaverius, adalah seorang misionaris ikut mendirikan Serikat Yesus dan, sebagai perwakilan Kekaisaran Portugis, memimpin misi Kristen pertama ke Jepang.
[5] D. João de Castro (1500 –1548) adalah seorang bangsawan Portugis, ilmuwan, penulis dan administrator kolonial, menjadi Raja Muda Portugis keempat di India dari tahun 1545 hingga 1548.
[6] Tanah Lot
[7] Ferdinand Magellan (1480 – 1521) penjelajah Portugis yang memimpin ekspedisi pertama mengelilingi dunia untuk membuktikan bahwa Bumi itu bulat. Ketika raja Portugis menolak mendanai ambisinya dengan rute ke barat menuju Kepulauan Rempah, Magellan menawarkan jasanya kepada Spanyol. Pada tahun 1519, ia berlayar dari Spanyol dengan lima kapal dan 270 orang di bawah naungan kerajaan Spanyol, terbunuh dalam pertempuran melawan para pejuang lokal di Pulau Mactan, Filipina, pada April 1521.
[8] Luís Vaz de Camões (1524-1580) penyair Portugis abad 16, karyanya yang termashur: Os Lusiadas merayakan kejayaan para navigator Portugis dalam bentuk puisi sepanjang 156 bait delapan seuntai (oktaf).
Sumber: FugasViagens, Wikipedia