Skip to content Skip to footer

Diplomasi Sastra yang Merasa dan Gastronomi yang Bercerita

Mungkin kita pernah mengalami momen membaca sebuah novel yang begitu hidup menggambarkan kopi, pasar tradisional, atau, merasakan kembali kampung halaman melalui satu suap hidangan yang disajikan.

Inilah kekuatan magis yang lahir ketika sastra dan gastronomi bersatu; keduanya bukan sekadar menjadi produk budaya, melainkan melekat sebagai arsip hidup yang menyimpan ingatan, nilai, dan cerita tentang suatu bangsa.

Sastra dan gastronomi mampu membangun jembatan pengertian melewati batas bahasa dan politik. Dalam ranah diaspora, di tengah upaya untuk “menjual” identitas ke panggung global, muncul tantangan yang kompleks: bagaimana sebuah bangsa yang terlalu kaya untuk disederhanakan ini bisa mengenalkan dirinya kepada dunia tanpa kehilangan jiwanya?

Pertanyaan itu muncul dalam gelar wicara bertema “Dari Kata ke Rasa: Diplomasi Budaya Indonesia Melalui Sastra dan Gastronomi”. Acara tersebut diselenggarakan di Jakarta pada Selasa 23 Desember 2025.

Acara ini menghadirkan dialog antara dua dunia yang kaya—sastra dan gastronomi—yang sesungguhnya merupakan saudara kandung dalam menceritakan identitas bangsa.

Foto: Antara
Membaca Masyarakat Lewat Piringnya

Roland Barthes pernah mengatakan bahwa makanan dapat dibaca sebagai mitos dan sistem tanda, sehingga membaca makanan berarti membaca masyarakat itu sendiri. Pernyataan ini bukan sekadar teori semiotika yang abstrak, melainkan kenyataan yang bisa kita rasakan setiap kali duduk di meja makan bersama keluarga atau teman.

Bayangkan tumpeng yang menjulang tinggi dalam selamatan. Bentuk kerucutnya bukan sekadar estetika, melainkan simbol hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Ayam ingkung yang utuh berbicara tentang kesempurnaan hidup. Sayur kulupan melambangkan kesederhanaan. Tumpeng bukan hanya makanan, melainkan juga medium transmisi nilai budaya seperti rasa syukur, solidaritas, penghormatan terhadap leluhur, dan kerja sama komunal.

Inilah yang disebut sebagai gastronomi sastra. Kajian yang menempatkan makanan bukan sebagai objek konsumsi belaka, melainkan sebagai teks budaya yang sarat makna. Seperti halnya sastra yang menggunakan kata untuk menceritakan kehidupan, gastronomi menggunakan rasa, aroma, dan tekstur untuk menyampaikan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.

Sastra itu adalah cermin daripada aspek sejarah, aspek peradaban, aspek sosiologi suatu bangsa. Sementara gastronomi mencerminkan temperamen dan emosi sebuah bangsa. Begitu kita tahu peradaban itu makanannya bagus, penyajiannya bagus, penataannya bagus, kita bisa langsung mengidentifikasi bahwa bangsa ini memiliki peradaban yang tinggi.”

Diplomasi yang Tak Terlihat tapi Terasa

Di era dengan perkembangan teknologi yang makin meningkat, rasa tetap menjadi hal yang tidak dapat digantikan dengan kecanggihan teknologi. Ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan gastronomi sebagai alat diplomasi budaya—atau yang kini dikenal sebagai gastrodiplomasi.

Negara-negara seperti Thailand, Korea Selatan, dan Jepang telah lebih dulu menggunakan kuliner mereka sebagai senjata lunak untuk membangun citra positif di mata dunia. Tom yum, kimchi, dan sushi bukan sekadar makanan eksotis, melainkan juga simbol identitas nasional yang dipromosikan secara strategis melalui restoran, festival, hingga program pertukaran budaya.

Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa, memiliki kekayaan gastronomi yang tak terhingga. Dari gudeg yang manis-legit di Yogyakarta, soto lamongan yang gurih di Jawa Timur, hingga dangke yang unik di Sulawesi Selatan—setiap hidangan adalah pintu masuk untuk memahami filosofi hidup, kearifan lokal, dan harmoni dengan alam.

Gastronomi telah menjadi bagian diplomasi lunak yang terbukti efektif untuk meningkatkan internasionalisasi negara dan dapat meningkatkan perekonomian sebuah negara. Bahkan, tempe, sebuah makanan sederhana yang sedang diusulkan sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, membawa misi sebagai ekspresi kearifan lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Foto: topikinformasi.com
Paradoks Keberagaman dan Potensinya

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, membuka refleksi mendalam saat menyampaikan materi soal identitas bangsa melalui sastra dan gastronomi. Dalam pandangannya, satu tahun kehadiran Kementerian Kebudayaan telah menunjukkan satu hal: diplomasi budaya Indonesia masih berada dalam tahap pencarian format yang tepat.

“Tantangannya adalah keterpaduan arah dan prioritas diplomasi budaya,” ujar Endah. Ia mengingatkan bahwa berbagai kesepakatan kerja sama internasional masih menggantung tanpa joint work plan yang komprehensif. “Belum diikuti dengan mekanisme yang konkret. Jadi tantangan ke depan adalah memperkuat operasionalisasi kesepakatan tersebut dan memastikan keberlanjutan program.”

Yang lebih mendesak lagi, menurut Endah, adalah kebutuhan akan sistem terpadu untuk mengukur capaian diplomasi budaya. “Belum adanya sistem yang mengukur capaian diplomasi budaya secara kuantitatif maupun kualitatif,” tegasnya.

“Maka, penting ke depan kebutuhan database dan indikator dampak ini bisa digunakan untuk mengukur soft power index, capaian kerja sama, dan nilai ekonomi budaya yang dihasilkan,” lanjutnya. Misalnya, ia menyarankan, Indonesia bisa mulai memproduksi laporan tahunan semacam Indonesia Cultural Influence Report—sebuah cermin akuntabilitas yang memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri: sejauh mana sesungguhnya budaya Indonesia berpengaruh di dunia?

Foto: Nationalgeographic.co.id
Sastra sebagai Roh Peradaban

Staf Ahli Menteri Luar Negeri Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Manusia, Kamapradipta Isnomo, menegaskan pentingnya sastra dan gastronomi dari perspektif yang lebih filosofis. “Saya pikir dua hal tersebut adalah ruh atau spirit daripada suatu bangsa, menjadi suatu identitas budaya suatu bangsa,” katanya dengan tegas.

Baginya, sastra adalah cermin peradaban. “Sastra itu adalah cermin daripada aspek sejarah, aspek peradaban, aspek sosiologi suatu bangsa.” Sementara gastronomi mencerminkan temperamen dan emosi sebuah bangsa. “Begitu kita tahu peradaban itu makanannya bagus, penyajiannya bagus, penataannya bagus, kita bisa langsung mengidentifikasi bahwa bangsa ini memiliki peradaban yang tinggi.”

Oleh karena itu, Kamapradipta menyarankan Indonesia sebaiknya segera menentukan branding yang jelas. dan melakukan riset pasar. “Kita harus melakukan riset, kita harus melakukan benchmarking dengan mitra kita,” tegasnya. “Karena kecenderungannya selama ini adalah apa yang kita pikir bagus buat kita, belum tentu bagus di luar.”

Kemudian E. Aminudin Aziz, Kepala Perpustakaan Nasional, membawa diskusi ke ranah yang lebih teknis namun tak kalah krusial: literasi dan preservasi naskah kuno. Data yang ia sampaikan mengejutkan sekaligus memprihatinkan.

“Kalau saya lihat di dalam data terakhir yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional, data manuskrip kita itu ada sekitar 143.000-an. Ini bukan jumlah yang sedikit. 143.000 yang tercatat saja. Nah, dari 143.000-an itu, yang ada di Indonesia itu sekitar 100.770. Nah, sisanya itu ada di luar negeri.”

Namun kekayaan naskah itu kontras dengan minat baca masyarakat. “Tingkat kegemaran membaca masyarakat kita untuk membangun sendiri budaya baca itu masih relatif rendah.”

Aminudin tidak menyerah, bahkan melihat celah dalam masalah ini. “Yang menjadi persoalan besar adalah bukannya masyarakat kita itu tidak mau membaca, tetapi bahan bacaan yang benar-benar sesuai dengan minat baca masyarakat kita itu yang sangat terbatas.”

Oleh karena itu, Perpusnas mengambil langkah strategis: alih wahana. “Bertepatan dengan 200 tahun peringatan Perang Jawa atau Perang Diponegoro, kami mengubah naskah kuno itu yang 200 tahun itu dan dibuatkan dalam bentuk komik. Ada 25 komik yang kami kerjasamakan dengan para kreator dari ITB dan masyarakat perkomikan.”

Foto: bantaldanbuku.com
Perjalanan Promosi Sastra

Yani Kurniawan, anggota Tim Promosi Sastra Indonesia di Luar Negeri, membawa cerita lapangan yang lebih intim. Ia menceritakan bagaimana promosi sastra Indonesia sesungguhnya berlangsung—bukan melalui kemegahan stan pemerintah, melainkan lewat percakapan kecil di antara para editor, penerjemah, dan penerbit.

Misalnya, buku anak berjudul Ayahku Seorang Nelayan karangan Choedjah. “Buku ini sudah dalam proses akan diterbitkan di tiga negara: di Filipina, kemudian Uni Emirat Arab, dan terakhir di Korea Selatan akan terbit tahun depan. Yang menarik ketika buku ini dikenalkan, para editor itu langsung hook ke capingnya. ‘Oh, caping!’. Karena ternyata nelayan juga pakai caping ya. Jadi langsung ada relasi visual yang cukup resonan sama mereka.”

Namun, Yani juga menyoroti tantangan struktural. Ia menunjukkan foto stan Indonesia di Frankfurt Book Fair tahun ini yang ternyata jauh lebih kecil dibanding tahun 2019 saat Indonesia menjadi tamu kehormatan di London Book Fair.

“Stannya memang hanya kecil, jadi drop sekali dibandingkan dengan stan kita yang megah. Terus orang-orang jadi bertanya-tanya, ‘Indonesia di mana?’ gitu. Tapi ternyata memang hanya lewat gerilya-gerilya kecil seperti ini yang rekan-rekan editor, penerjemah, penerbit lakukan untuk meneruskan gerak-gerak diplomasi budaya melalui karya sastra.”

Dari pengalamannya, Yani melihat pergeseran pasar. Karena itu, ia mengusulkan strategi baru: Antologi ASEAN. “Kolaborasi dengan negara-negara ASEAN untuk membuat semacam antologi sastra kolektif yang kemudian bisa dibawa oleh masing-masing negara ke agendanya masing-masing, tetapi mereka tidak hanya mewakili negaranya sendiri, tapi mereka mewakili ASEAN sebagai regional unity.”

Di tengah arus globalisasi dan homogenisasi budaya, sastra memang menjadi benteng pertahanan identitas lokal termasuk dalam konteks memperkenalkan hidangan. Diplomasi sastra dan gastronomi adalah jembatan yang kuat untuk meningkatkan pemahaman antarbudaya.

Misalnya, Indonesia sering kali memperkenalkan bukan hanya bahasa, melainkan juga filosofi hidup yang terkandung dalam setiap hidangan melalui festival sastra internasional, program pertukaran pelajar, dan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Peran pemerintah sebagai enabler, para swasta yang sebagai amplifier, komunitas sebagai penjaga nilai, lalu akademisi sebagai penjaga pengetahuan. Itu semua harus disatukan. Jadi tanpa tata kelola, tata kelola yang terarah, kuliner kita ini ramai, viral di dalam negeri, tetapi sangat sunyi di percakapan global.”

Gastronomi dan Narasi yang Berhasil

Founder dan Chair Indonesia Gastronomy Network, Vita Datau, dalam acara ini membawa perspektif yang lebih mendalam tentang perbedaan antara kuliner dan gastronomi, dengan perbedaan yang terdengar sepele tapi sesungguhnya fundamental.

“Kalau kita ngomong kuliner kan pasti terlintas ada rasa, ada kata, apakah pedas, gurih, apakah rempah, itu yang menjadi pembicaraan pada saat kita makan,” jelasnya. “Tetapi sesungguhnya kuliner ini harus kita geser ke gastronomi. Karena kita bicara bukan sekadar lidah saja, tetapi ini adalah bahasa budaya, ini adalah jejak sejarah, ekspresi alam, sekaligus cermin dari peradaban.”

Baginya, gastronomi adalah ekosistem yang menghubungkan dari hulu ke hilir. “Artinya kalau kita bicara gastronomi, maka semuanya bisa ikut merasakan, mulai dari petani, nelayan, sampai pasar, sampai ibu-ibu ke dapur, sampai UMKM ataupun chef, semuanya merasakan itu.”

Vita membandingkan Indonesia dengan negara-negara yang telah berhasil membangun diplomasi gastronomi. “Thailand dengan Global Kitchen of the World-nya. Itu direncanakan dari tahun 1999. Thailand ingin menjual produk-produk pertaniannya ke luar negeri. Kalau nggak ada outlet-nya, maka tidak bisa dijual. Diciptakanlah restoran yang sebegitu banyak.”

Yang membuat Thailand dan negara lain berhasil, menurut Vita, adalah orkestrasi lintas sektor. “Peran pemerintah sebagai enabler, para swasta yang sebagai amplifier, komunitas sebagai penjaga nilai, lalu akademisi sebagai penjaga pengetahuan. Itu semua harus disatukan. Jadi tanpa tata kelola, tata kelola yang terarah, kuliner kita ini ramai, viral di dalam negeri, tetapi sangat sunyi di percakapan global.”

Vita menekankan pentingnya narasi nasional yang konsisten. “Dulu kita pernah punya itu, kita mengangkat namanya Indonesia Membumbui Dunia. Dan sebetulnya sebagai marketing, itu kata-kata yang sangat kuat. Nah, tetapi setelah itu tidak berlanjut narasi itu.” Padahal, berbicara tentang kejujuran gastronomi, “kuliner adalah pintu masuk paling jujur untuk memahami sebuah bangsa.”

Di akhir diskusi, Pamong Budaya Ahli Muda Kementerian Kebudayaan, Shalihah S. Prabarani, yang menjadi moderator acara, merangkum, “Diskusi ini menunjukkan bahwa diplomasi budaya Indonesia tumbuh dalam sebuah ekosistem yang saling terhubung. Pemerintah tentu memberikan arah, institusi menguatkan pondasi, jejaring internasional membuka ruang, dan komunitas, pelaku budaya, serta masyarakat menghidupkan nilai budaya dalam keseharian.”

Dialog dalam gelar wicara ini menunjukkan bahwa kata dan rasa adalah dua sisi mata uang yang sama. Keduanya adalah bahasa universal yang melampaui batas negara, suku, dan generasi. Dan Indonesia, dengan kekayaan sastra dan gastronominya, memiliki cerita yang sangat layak didengar, dan dirasakan oleh dunia. [Nationalgeographic]

Leave a Comment