Skip to content Skip to footer

Tempe Goes to UNESCO

Minggu, 21 Desember 2025, diselenggarakan Festival Budaya Tempe  oleh Direktorat Promosi Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dengan mengusung tema “Budaya Tempe: Goes to UNESCO”.

Acara ini merupakan bagian dari aktivasi publik untuk mendorong pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage), sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai budaya, sosial, dan ekologis yang terkandung dalam tradisi tempe.

Foto: detik.com

Pengajuan budaya tempe telah dimulai sejak akhir Maret 2024 melalui mekanisme Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO. Berdasarkan dokumen nominasi yang dipublikasikan pemerintah, pengusulan ini menitikberatkan pada praktik budaya, pengetahuan tradisional, nilai sosial, serta peran aktif komunitas dalam menjaga keberlanjutan budaya tempe sebagai warisan yang hidup di tengah masyarakat.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, dalam keterangan pers kementerian, menyampaikan bahwa pengajuan budaya tempe yang telah berjalan sejak awal 2024 diharapkan dapat memperoleh penetapan UNESCO pada 2026. Ia menegaskan, tempe bukan hanya produk pangan, tetapi juga cerminan kearifan lokal Indonesia dalam pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, sekaligus mengandung nilai gotong royong yang kuat.

Lebih lanjut, proses fermentasi tempe dipandang sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Merujuk laporan kegiatan Kementerian Kebudayaan, keterlibatan publik dalam proses nominasi juga diperkuat melalui berbagai agenda, salah satunya Festival Budaya Tempe, yang menggabungkan unsur budaya, edukasi, dan partisipasi masyarakat guna membangun dukungan kolektif terhadap pelestarian budaya tempe.

Foto: kumparan.com

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menegaskan bahwa Budaya Tempe tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga memuat nilai filosofis dan pengetahuan tradisional yang penting dilestarikan.

“ Tempe adalah bagian dari tradisi pangan lokal, pengetahuan tradisional, dan nilai-nilai filosofis yang sudah mengakar di masyarakat,” tegasnya.
Dalam catatan Kementerian Kebudayaan, terdapat sekitar 170 ribu komunitas tempe, dengan jumlah pekerja yang terlibat mencapai sekitar 1,5 juta orang. di seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa Budaya Tempe tidak hanya warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi jutaan keluarga di Nusantara.

“Ini bagian juga dari ekonomi budaya. Karena dalam budaya itu termasuk objek pemajuan kebudayaan, yakni pangan lokal yang tak bisa dipisahkan dari ekspresi budaya,” tutur Fadli.

Foto: detik.com

Festival Budaya Tempe menghadirkan berbagai kegiatan edukasi, ekonomi kreatif, seni budaya, dan olah raga yang disambut antusias oleh masyarakat. Dengan tagline “Tidak Ada yang Tahu Semua Tempe” dan dilangsungkan pada hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta.

Kehadiran sejumlah perwakilan Kedutaan Besar negara sahabat, diantaranya Keamiran Islam Afghanistan, Republik Filipina, Republik Serbia, Republik Sosialis Vietnam, Federasi Rusia, Republik Demokratik Timor Leste, Negara Kuwait, Republik Rakyat Demokratik Laos, Kerajaan Kamboja, dan Negara Merdeka Papua Nugini turut memperkuat dukungan terhadap pengakuan Budaya Tempe di kancah internasional.

Menutup sambutannya, Menteri Fadli Zon menyatakan bahwa kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO menjadi wadah strategis untuk mengkampanyekan kearifan lokal Indonesia.
“Ini adalah bagian dari upaya mengangkat pangan lokal sebagai ekspresi budaya. Kegiatan ini adalah langkah sehat untuk mempromosikan dan memperjuangkan agar Budaya Tempe mendapatkan pengakuan UNESCO,” pungkasnya.

Foto: Kumparan

Festival ini menghadirkan beragam wajah tempe. Belasan booth kuliner menyajikan penganan lokal berbasis tempe—dari makanan berat, camilan seperti nugget, hingga smoothies dan brownies—dengan berbagai sentuhan kreativitas yang membuktikan bahwa tempe mampu bertransformasi dari pangan tradisional menjadi produk modern berbasis inovasi teknologi pangan, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai warisan budaya Indonesia.

Sumber: Detik, RRI, Kumparan, BeritaUtama, SindoNews, Universitas Al-Azhar Indonesia

Leave a Comment