Skip to content Skip to footer

Fenomena Meti di Maluku Tenggara Melahirkan Tradisi Harmoni Alam dan Manusia

Meti merupakan fenomena alam berupa surutnya air laut secara ekstrem yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Di Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara, setiap tahun pada bulan Oktober hingga November, air laut dapat surut hingga ratusan meter dari garis pantai. Bahkan, dalam kondisi tertentu, dua pulau yang biasanya terpisah oleh laut dapat dihubungkan dengan jalur daratan alami.

Foto: @visitnesia instagram

Fenomena ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi. Saat meti terjadi, masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai jenis biota laut seperti ikan kecil, kerang, rumput laut, hingga terumbu karang yang biasanya tersembunyi.

Tradisi Meti Kei berarti Harmoni Alam dan Manusia, saat air laut surut, masyarakat Kei melakukan tradisi “Wer Warat” atau “Tarik Tali”, yaitu menangkap ikan secara tradisional dengan menggunakan daun kelapa yang dibentangkan di laut, kemudian ditarik bersama-sama ke darat. Kegiatan ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari tradisi turun-temurun yang mencerminkan semangat gotong royong dan hubungan harmonis antara manusia dan laut.

Foto: cosmobikers.com

Meti Kei tidak hanya menampilkan keajaiban alam, tetapi juga menjadi panggung besar bagi ekspresi seni dan budaya masyarakat Kei yang diberi judul Festival Pesona Meti Kei. Salah satu agenda utama adalah tarian kolosal yang melibatkan banyak penari dan menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir, hubungan dengan laut, serta nilai adat yang dijunjung tinggi.

Selain tarian kolosal, berbagai penampilan budaya lainnya turut memeriahkan festival, mulai dari tarian tradisional, musik daerah, atraksi seni hingga lomba Dragon Boat (Perahu Naga) yang merepresentasikan identitas budaya Kei. Seluruh pertunjukan ini menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus media edukasi bagi generasi muda dan wisatawan.

Bekerjasama dengan sejumlah sponsorship baik daerah maupun pusat, pemerintah daerah juga menggandeng kementerian, BUMN dan perusahaan multinasional. Salah satu kemitraan yang sudah dimulai adalah bekerjasama dengan lembaga seperti Beyond Borders Indonesia, Invest Island, media dan perguruan tinggi.

Berbeda dengan banyak event pariwisata yang hanya berlangsung beberapa hari, Festival Pesona Meti Kei digelar selama hampir tiga pekan penuh. Konsep ini dirancang untuk mendorong wisatawan agar tinggal lebih lama di Kepulauan Kei, sehingga dapat merasakan pengalaman wisata yang lebih utuh dan mendalam.

Dengan durasi yang panjang, wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan satu acara, tetapi juga memiliki kesempatan menjelajahi berbagai destinasi unggulan Maluku Tenggara. Mulai dari pantai berpasir putih, laut biru jernih, hingga desa-desa adat dengan budaya yang masih hidup dan terjaga.

Dampaknya pun diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, khususnya pelaku usaha pariwisata, UMKM, penginapan, dan sektor jasa lainnya.

Foto: indozone.id

Festival Pesona Meti Kei menjadi momentum penting bagi pergerakan ekonomi lokal. Selama festival berlangsung, berbagai sektor terdorong untuk aktif, mulai dari transportasi, kuliner, penginapan, hingga penjualan produk lokal.

Kehadiran wisatawan memberikan peluang bagi UMKM lokal untuk memasarkan produk mereka, baik berupa kuliner khas Kei, hasil olahan laut, maupun kerajinan tangan. Dengan demikian, festival ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga sebagai strategi pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.

Festival Pesona Meti Kei mencerminkan konsep pariwisata yang berbasis alam dan kearifan lokal. Fenomena meti dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata tanpa merusak lingkungan, sementara tradisi masyarakat tetap dijaga dan dihormati.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya pengembangan pariwisata berkelanjutan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton. Melalui festival ini, nilai-nilai adat, budaya, dan kelestarian lingkungan diperkenalkan kepada publik secara luas.

Foto: suaramerdeka.com

Saat menerima audiensi Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, Selasa (7/4), Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan mendukung rencana penyelenggaran Festival Pesona Meti Kei yang akan berlangsung pada bulan Oktober 2026 mendatang. Turut mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; serta Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana.

“Budaya Kei merepresentasikan sistem budaya yang masih hidup, tertata, dan terus dijalankan dalam kehidupan sosial masyarakat. Ini menunjukkan bahwa budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga mengatur relasi sosial, adat, kepemimpinan, hingga ruang hidup komunitas,” jelas Muhammad Thaher Hanubun.

Sementara Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menekankan pentingnya pencatatan dan penguatan status warisan budaya, baik benda maupun tak benda, sebagai bagian dari strategi pemajuan kebudayaan nasional

Pemerintah daerah perlu mengawal pencatatan aset budaya secara sistematis, menyiapkan dokumen pendukung untuk diusulkan ke UNESCO. Selain itu, cagar budaya di tingkat daerah juga perlu didorong untuk dapat ditetapkan sebagai cagar budaya nasional,” jelas Restu Gunawan.

Dirjen Restu Gunawan juga menyampaikan peluang Dana IndonesiaRaya sebagai instrumen dukungan bagi kegiatan kebudayaan di daerah, baik oleh individu, komunitas, maupun lembaga kebudayaan yang dapat dimanfaatkan.

Dana Indonesia Raya dapat dimanfaatkan untuk mendorong berbagai kegiatan kebudayaan serta memperkuat ruang publik agar lebih ramah bagi aktivitas budaya,” tambah Restu Gunawan.

Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong upaya pemajuan kebudayaan berbasis potensi daerah, sekaligus tekankan integrasi data kebudayaan yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Kerja bersama antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam memastikan bahwa praktik budaya hidup, seperti yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kepulauan Kei, tidak hanya terjaga, tetapi juga terdokumentasi dengan baik dan memiliki peluang untuk diakui di tingkat nasional maupun internasional.

Kabupaten Maluku Tenggara, dengan pusat pemerintahan di Langgur, terdiri dari 76 pulau yang berada di persimpangan Laut Banda dan Laut Arafura serta berbatasan langsung dengan benua Australia. Posisi ini menjadikan Kepulauan Kei sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah peradaban maritim Nusantara dan perkembangan pendidikan di Indonesia Timur.

Hadir bersama Bupati Maluku Tenggara, Plt. Sekretaris Daerah, Rasyid; Kepala Badan Perencanaan Daerah, Clemens Welafubun; Kepala Dinas Pariwisata, Victor E. Budhi Toffi; Kepala Dinas Pendidikan, Bin Raudha Arif Hanoeboen; Plt. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Netty Dahlan Uar; serta Plt. Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Aisah Fatimah Borut.

Sumber: Suara Merdeka, cosmobikers.com

Leave a Comment