Skip to content Skip to footer

Indonesia Berduka: Bangunan Cagar Budaya Hangus dalam Amuk Massa

Demonstrasi yang berubah anarkis meninggalkan jejak luka budaya: ikon sejarah Jawa Timur hingga museum daerah musnah terbakar. Suara keprihatinan menggema di seluruh negeri.

Jakarta – Indonesia tengah berduka. Gelombang demonstrasi yang pecah pada 30–31 Agustus 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan fasilitas publik, tetapi juga memporak-porandakan sejumlah bangunan cagar budaya (CB) dan gedung bersejarah yang menjadi saksi perjalanan bangsa. Dari Surabaya hingga Kediri, dari Bandung hingga kota-kota lain, api amarah massa melalap warisan arsitektur yang seharusnya dijaga sebagai identitas kolektif bangsa.

Grahadi, Ikon Jawa Timur Terbakar

Foto: radarmojokerto

Puncak kepedihan terjadi di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, rumah dinas Gubernur Jawa Timur sekaligus cagar budaya nasional. Pada Sabtu malam (30/8), ribuan demonstran yang memadati kawasan tersebut melemparkan bom molotov dan kembang api. Api cepat membesar, melahap sayap barat Grahadi yang berisi ruang kerja Wakil Gubernur, biro umum, hingga press room.

“Ini gedung sejarah, ikon Jawa Timur. Terbakarnya Grahadi sungguh menyedihkan,” ujar Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, seraya menegaskan pentingnya menjaga situs bersejarah dari aksi provokasi. Meski gedung induk Grahadi selamat, kobaran api meninggalkan luka kolektif bagi warga Surabaya.

Polsek Tegalsari: Cagar Budaya yang Hilang

Foto: Kompas

Tak jauh dari Grahadi, Polsek Tegalsari—bangunan peninggalan kolonial yang sudah berstatus cagar budaya Surabaya—ikut menjadi korban. Ribuan massa merangsek, merusak, lalu membakar kantor polisi sektor itu. Api melalap hampir seluruh bangunan, menyisakan tembok hitam berjelaga.

Kapolsek Tegalsari Kompol Rizki Santoso menyatakan seluruh tahanan dan 25 personel berhasil dievakuasi. Namun, pegiat sejarah menyesalkan musnahnya satu lagi peninggalan kolonial kota. “Detail arsitektur khas Belanda kini tinggal puing,” ujar salah satu pemerhati heritage.

Museum Bagawanta Bhari Kediri Dijarah dan Dibakar

Foto: Kompas

Di Kabupaten Kediri, amuk massa merembet ke Museum Bagawanta Bhari, museum daerah yang menyimpan artefak purbakala dan koleksi sejarah. Massa merusak, menjarah, lalu membakar gedung tersebut. Koleksi berharga—dari arca Ganesha, batik kuno, hingga plakat kolonial HVA Sidomulyo—hilang atau rusak.

Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menatap pilu puing museum. “Ini peninggalan bersejarah, mohon oknum yang mengambil agar mengembalikannya,” tegasnya. Pemkab Kediri kini melakukan inventarisasi kerugian dan berjanji memulihkan museum yang luluh lantak.

Bandung Kehilangan Rumah Cagar Budaya MPR

Foto: Detikcom

Gelombang amarah juga melanda Bandung. Sebuah rumah berarsitektur kolonial di Jalan Diponegoro, aset MPR RI sekaligus cagar budaya kota, dibakar massa saat demonstrasi di depan DPRD Jawa Barat. Diduga bangunan itu menjadi target karena dianggap tempat persembunyian aparat.

Bangunan bersejarah itu hangus total. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan pemulihan akan melibatkan ahli cagar budaya. “Perbaikannya tidak bisa sembarangan. Kita harus jaga nilai heritage-nya,” ujarnya. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menambahkan, kerusakan fisik bisa diperbaiki, tetapi yang lebih penting adalah merespons aspirasi masyarakat agar kerusuhan tidak terulang.

Gelombang Keprihatinan

Rentetan insiden ini memicu gelombang keprihatinan nasional. Akademisi, komunitas sejarah, hingga masyarakat luas menyuarakan duka mendalam. Bangunan-bangunan yang terbakar bukan sekadar tembok, melainkan penjaga memori kolektif bangsa.

“Ketika museum dibakar, yang hilang bukan hanya benda, tetapi jati diri sejarah kita,” tegas Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur Imam Mubarok. Seruan serupa datang dari komunitas heritage di Surabaya yang menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi bangunan cagar budaya di tengah situasi rawan konflik.

Pemerintah Janji Pemulihan

Pemerintah daerah maupun pusat bergerak cepat. Pemprov Jatim menyiapkan rencana pemulihan Grahadi dan Polsek Tegalsari. Pemkab Kediri fokus pada restorasi museum dan pengembalian koleksi. Pemkot Bandung melibatkan ahli untuk merestorasi rumah cagar budaya MPR.

Namun, di balik janji perbaikan, tragedi ini menjadi alarm keras. Kerusuhan telah menunjukkan betapa rapuhnya perlindungan cagar budaya di Indonesia. Bangunan bersejarah bisa lenyap dalam hitungan jam jika pengamanan longgar dan kesadaran kolektif melemah.

Indonesia Berduka, Indonesia Harus Bangkit

Peristiwa 30–31 Agustus 2025 bukan sekadar catatan kelam kerusuhan, melainkan tragedi budaya. Indonesia kehilangan bagian dari warisan sejarahnya. Tangisan pilu warga di depan puing museum Kediri, keprihatinan masyarakat Surabaya menatap Grahadi yang terbakar, dan kesedihan warga Bandung melihat rumah heritage musnah, semuanya menegaskan: bangsa ini berduka.

Kini, pekerjaan besar menanti. Pemulihan fisik hanyalah awal. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa cagar budaya adalah identitas yang harus dilindungi, bahkan di tengah gejolak. Sebab, ketika warisan sejarah musnah, bangsa kehilangan pijakan untuk melangkah ke masa depan.

Redaksi

Leave a Comment