Ditulis oleh Kms. Abdurrahman
Letak geografis Nusantara sangatlah strategis dalam lalu lintas perdagangan, sehingga pengaruh kebudayaan dari perdagangan dengan India, Cina, Arab, Portugis dan Belanda memang terlihat jelas eksistensinya. Keberadaan masyarakat yang sudah pandai teknik desain Tenun Pakan dan Lungsin (Warp and Weft), atau yang kemudian berevolusi menjadi “Songket”. Kepandaian dan kebiasaan mengolah benang yang lalu disandingkan dengan perdagangan yang terus berkembang menghasilkan corak-corak dan desain-desain tenun yang baru dari munculnya bahan-bahan baru yang dibawa oleh para pedagang tersebut. Menurut Kartiwa (2009), Songket secara prinsip pembuatannya adalah penambahan benang Lungsin (Warp) yang dijungkit untuk membuat pola baru.
Tradisi kerajinan menenun dan membuat kain songket tersebar di berbagai daerah Indonesia, salah satu jenis Tenun Songket yang cukup unik adalah Cual khas Bangka-Belitung, yakni kain tenun yang berasal dari Kota Muntok. Diperkirakan bahwa tradisi dan kepandaian membuat tenun pertama dibawa oleh Keluarga Bangsawan Siantan yang bermigrasi ke kota Muntok pada masa kekuasaan Sultan Mahmud Badaruddin 1 Jayo Wikramo.
Situs Cagar Budaya Makam Bangsawan Muntok. Dokumentasi Kms. Abdurrahman (2025).
Nama Cual sendiri diambil dari “Celupan Awal” yakni metode pewarnaan benang. Cual pada awalnya digunakan sebagai status symbol karena pada umumnya pemakaian dan pembuatan Tenun Cual adalah dari keturunan Bangsawan Siantan yang bermigrasi ke Kota Muntok dan bergelar Abang/Yang. Secara teknik pembuatan, kain Cual dibuat dengan menggabungkan teknik tenun songket dan tenun ikat. Teknik-teknik ini juga digunakan untuk membuat kain Songket Palembang (terutama Limar), Tenun Siak, Songket Pandai Sikek dan lainnya. Seperti tenun songket lain yang ada di Nusantara, Cual dibuat menggunakan benang kapas atau sutra yang ditambahkan benang emas. Selain itu, Cual otentik juga dibuat dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dan alat tenun gedog.
ATBM Gedog (Alat Tenun Bukan Mesin) di Tins Gallery, Pangkalpinang. Dokumentasi Kms. Abdurrahman (2025).
Terdapat berbagai jenis motif dan ragam hias Cual, seperti ragam hias hewan, floral, dan geometris. Motifnya pun banyak seperti Irisan Talam, Ubur-Ubur, Bebek Mangantup, Bunga Manggis, Rukem, Kembang Sepatu, Kembang seduduk dan lainnya. Secara umum motif-motif tersebut akan disusun, dalam pembuatan kain cual terdapat dua kategori penyusunan. Kategori penyusunan motif bercorak penuh yakni “Pengantin Bekecak” dan penyusunan motif ruang kosong yakni “Janda Bekecak”. Pada “Pengantin Bekecak” susunan motif dibagi menjadi 3 kategori lagi yakni, Bunga Penuh, Bunga Tabur, dan Bunga Bercorak.
Cual Motif Ubur-ubur, koleksi Tins Gallery, Pangkal Pinang. Dokumentasi Kms. Abdurrahman (2025).
Di abad ke-19, produksi dan perdagangan Cual mulai berkembang dan tersebar sampai Palembang, Pontianak, Singapura, Malaysia, dan banyak daerah lain. Di masa ini lah pembuatan, pemakaian, dan persebaran dari kain cual berkembang di luar kaum aristokrat. Namun, pada masa Perang Dunia I, popularitas dari kain Cual menurun, hal ini dikarenakan oleh mahalnya harga bahan baku pembuatan Cual. Selain itu, pada masa ini, banyak masyarakat yang berhenti menenun untuk fokus menanam kelekak (semacam kebon) lada dan karet. Adanya keinginan pasar akan komoditas ini lah yang merubah fokus industrial dari masyarakat Bangka. Kemunduran industri tenun di Bangka ini lah yang mengakibatkan kemunduran pemahaman makna filosofis dari pemakaian Cual, sebelumnya, setiap warna, motif, dan ragam hias lainnya memiliki makna mendalam.
Cual di Galeri Destiani, Pangkalpinang. Dokumentasi Kms. Abdurrahman (2025).
Pada tahun 1990-an, revitalisasi produksi Cual dicetus di Pangkalpinang oleh Ibu Maslina dan suaminya yakni Bapak Abi Yazid. Saat itu, produksi dan pengembangan Cual didukung oleh Kepala Dinas Perindustrian Kotamadya Pangkalpinang. Motif dan corak yang ditenun kembali mengambil inspirasi dari koleksi Cual kuno yang dimiliki oleh Bu Maslina. Saat ini terdapat beberapa bengkel produksi Cual di Pangkalpinang, seperti Maslina Cual, Galeri Destiani, Ishadi Cual dan lainnya.
Daftar Pustaka
Kartiwa, S. (1986). Kain songket Indonesia. Penerbit Djambatan.
Kartikasari, T. (Ed.). (1989). Pakaian adat tradisional daerah Sumatera Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Rohana, S. (2009). Kain cual Bangka. Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.