Skip to content Skip to footer

Kota Sebagai Ingatan Kolektif: Jejak Pemikiran Aldo Rossi dalam Revitalisasi Kota Tua Jakarta

Oleh: Asfarinal

Arsitektur (UGM) – Kajian Perkotaan (UI) – Arkeologi (Studi – UI)

 

“The city remembers before the people do.”

—  Aldo Rossi, The Architecture of the City (1966)

 

Di antara gedung pencakar langit Jakarta yang terus tumbuh, kawasan Kota Tua berdiri bagai halaman terakhir dari buku sejarah yang masih terbuka. Kanal-kanal tua, jendela bergaya neoklasik, dan lantai batu yang menua mengingatkan kita bahwa kota ini pernah menjadi panggung besar dunia kolonial.

Namun, bagaimana kita memahami kota seperti ini  bukan sekadar sebagai “pemandangan masa lalu”, melainkan sebagai bagian dari memori kolektif yang membentuk identitas bangsa?

Dalam konteks ini, pemikiran arsitek dan teoretikus Italia Aldo Rossi (1931–1997) menjadi relevan. Melalui bukunya L’Architettura della Città (1966), Rossi menegaskan bahwa kota adalah artefak kolektif: hasil dari pengalaman sosial, politik, dan budaya yang tertumpuk dalam bentuk ruang (Rossi, 1982).

FOTO:  Aldo Rossi, elpais.com

Aldo Rossi lahir pada 3 Mei 1931 di Milan, Italia  kota yang penuh sejarah dan hiruk-pikuk modernitas. Ia menempuh pendidikan di Politecnico di Milano dan tumbuh di tengah arsitektur klasik yang berlapis sejarah. Dari sanalah ia menyerap pelajaran: bahwa bangunan bukan hanya benda, melainkan simbol kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Rossi memulai karier profesionalnya pada 1950-an dengan bergabung dalam redaksi majalah Casabella-Continuita, tempat para pemikir muda arsitektur Italia berdiskusi soal arah baru desain pasca-perang. Di sinilah ia mulai mempertanyakan dogma modernisme yang menghapus masa lalu demi efisiensi.

Ia menulis, mengajar, dan merenung hingga akhirnya menerbitkan karya pentingnya, The Architecture of the City (1966). Buku itu mengguncang dunia arsitektur: bukan karena gambar rancangannya, tapi karena cara pandangnya terhadap kota sebagai makhluk yang hidup dan mengingat.

Dalam bukunya yang legendaris itu, Rossi menulis:

“The city is not a random collection of buildings. It is a collective artifact of human memory and time.”

FOTO:  Copy of Aldo Rossi’s The Analogous City, Museum Of Anthropocene Technology

Rossi menganggap kota seperti tubuh manusia: memiliki tulang, organ, dan ingatan. Setiap bangunan adalah bagian dari sejarah yang membentuk identitas kota. Maka, pelestarian arsitektural bukan sekadar soal melindungi bentuk fisik, tetapi menjaga kesinambungan makna dan memori kolektif.

Bagi Rossi, bangunan tua tidak sekadar “tua”  ia adalah saksi dari ritme kehidupan, tempat kenangan publik tersemat. Ketika sebuah gedung kolonial dirobohkan untuk mal baru, yang hilang bukan hanya dinding dan gentengnya, tetapi juga fragmen ingatan kota.

Salah satu konsep terpenting Rossi adalah tipologi. Ia berargumen bahwa sepanjang sejarah, bentuk-bentuk tertentu terus muncul: alun-alun, menara, kubah, arcade, rumah kota. Bentuk-bentuk itu, katanya, adalah “arkeologi dari kehidupan sosial.”

Misalnya, alun-alun (piazza) di Italia bukan sekadar ruang publik; ia adalah panggung sosial yang menandai pusat kehidupan kota selama berabad-abad. Maka dalam pandangan Rossi, ketika arsitek modern mengabaikan tipologi lama demi bentuk baru yang asing, mereka sesungguhnya memutus benang sejarah ruang.

Rossi bukan menolak modernitas, tetapi menolak amnesia. Ia menyebut krisis kota modern sebagai “amnesia arsitektur” ketika manusia membangun tanpa mengingat. Dalam kritiknya terhadap CIAM dan arsitektur fungsionalis, ia menulis bahwa kota modern terlalu percaya pada teknologi dan melupakan narasi sejarah.

FOTO: Cimitero di San Cataldo, Aldo Rossi 1971, archeyes.com

Lapisan Waktu Batavia

Kota Tua Jakarta lahir sebagai Batavia, kota pelabuhan VOC yang dibangun pada 1619 di tepi Ciliwung. Dirancang dengan pola European grid  jalan lurus, kanal paralel, dan plaza pusat  Batavia mencerminkan logika kolonial sekaligus peradaban maritim.

Meski kini fungsinya berubah, pola itu masih terbaca. Taman Fatahillah sebagai bekas alun-alun kota, Kali Besar sebagai poros perdagangan, serta Stadhuis (kini Museum Sejarah Jakarta) sebagai pusat pemerintahan, adalah struktur yang disebut Rossi sebagai permanences  elemen yang bertahan dalam waktu panjang dan menjadi inti memori kota (Rossi, 1982: 60).

“Kota adalah makhluk yang memiliki ingatan; setiap dindingnya adalah catatan waktu.”

Revitalisasi yang dilakukan sejak 2014 melalui Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC) berupaya menafsirkan ulang elemen-elemen permanen ini, bukan dengan meniru masa lalu, melainkan dengan menghidupkannya kembali melalui fungsi sosial baru.

Bagi Rossi, bentuk arsitektur bukan hanya wujud fisik, tetapi juga tipologi sosial  yakni hasil dari kebiasaan dan sistem hidup masyarakat. Tipologi pasar, rumah, gereja, gudang, atau kantor pos, semua memiliki “DNA ruang” yang muncul karena kebutuhan kolektif.

Pendekatan ini terlihat jelas di Kota Tua. Gedung-gedung kolonial seperti Kantor Pos, Bank Indonesia, dan Bank Mandiri Museum kini bertransformasi menjadi ruang publik, galeri, dan museum. Meski fungsinya berubah, bentuk dan orientasi ruangnya tetap mempertahankan hubungan dengan kehidupan sosial warga  selaras dengan prinsip Rossi bahwa kota harus menafsirkan ulang dirinya tanpa kehilangan makna aslinya (Eisenman, 1976).

“Pelestarian sejati bukan mengawetkan batu, melainkan menghidupkan makna.”

 Revitalisasi tipologis ini juga menjaga morfologi kota: tinggi bangunan, arah jalan, dan hubungan visual antar-ruang. Pendekatan morfologis seperti ini, yang juga sejalan dengan gagasan Historic Urban Landscape UNESCO (Bandarin & van Oers, 2012), memastikan bahwa pelestarian tidak menghapus semangat urban historis yang khas Batavia.

FOTO: Teatro del Mondo, Aldo Rossi, 1980, archiobject.org

Bagi Rossi, monumen adalah penanda ingatan bersama  tidak selalu monumental, tetapi berarti dalam kesadaran kolektif. Ia menulis bahwa monumen menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam satu pengalaman ruang (Rossi, 1982: 130).

Kita bisa melihat semangat ini di Taman Fatahillah. Lapangan yang dulu menjadi ruang kekuasaan kolonial kini berubah menjadi ruang publik tempat festival budaya, musik jalanan, dan kegiatan komunitas sejarah berlangsung.

Acara seperti Kota Tua Creative Festival atau Jakarta Old Town Reborn memperlihatkan bagaimana masyarakat modern berpartisipasi dalam hidupnya monumen. Mereka tidak sekadar berkunjung, tetapi menafsirkan ulang ruang itu melalui praktik budaya dan ekonomi kreatif.

Namun, di balik keberhasilan revitalisasi, terdapat kritik yang penting. Banyak pengamat menilai proyek ini terlalu fokus pada estetika visual  pencitraan kolonial yang indah di media sosial, namun kadang mengabaikan konteks sosial.

Fenomena ini diingatkan oleh Françoise Choay (2001) yang menyebutnya sebagai heritage industry: ketika warisan budaya direduksi menjadi komoditas pariwisata. Dalam kasus Jakarta, sebagian proyek restorasi dilakukan tanpa riset mendalam tentang fungsi sosial awal bangunan.

Rossi menentang kecenderungan ini. Baginya, kota harus mempertahankan authentic continuity keaslian hubungan antara ruang dan manusia. Tanpa itu, kota hanya menjadi “teater kosong” yang kehilangan ingatannya.

“Jika kota hanya cantik di foto, tapi tidak diingat oleh warganya, maka ia gagal menjadi    kota.”

— parafrasa dari Rossi

 

Historic Urban Landscape: Kota Sebagai Ekosistem Hidup

Pendekatan revitalisasi di Kota Tua kini mulai mengarah pada paradigma Historic Urban Landscape (HUL) yang digagas UNESCO pada 2011. Pendekatan ini memandang warisan sebagai ekosistem hidup: mencakup lanskap alam, budaya, sosial, dan ekonomi yang saling terkait (Bandarin & van Oers, 2012).

Di Jakarta, pendekatan ini terlihat dari upaya menghubungkan revitalisasi fisik dengan kehidupan warga sekitar. Proyek Revitalisasi Kali Besar Barat misalnya, tidak hanya memperbaiki infrastruktur air, tetapi juga membuka ruang bagi seniman, pedagang kaki lima, dan komunitas warga.

Inisiatif lokal seperti Kampung Kunir Community Project memperlihatkan bentuk co-creation antara pemerintah dan warga  selaras dengan semangat Rossi bahwa arsitektur kota tidak lahir dari tangan tunggal, tetapi dari partisipasi kolektif.

FOTO: Kali Besar, expedia.co.id

Namun, seperti diingatkan banyak akademisi urban heritage, tantangan utama bukan lagi teknis, melainkan kultural dan institusional. Revitalisasi masih terjebak pada logika proyek jangka pendek, sementara perubahan kepemimpinan sering membuat arah kebijakan tidak berkesinambungan.

Padahal, sebagaimana ditulis Rossi, “kota yang kehilangan kontinuitasnya akan menjadi ruang tanpa makna.” (Rossi, 1982).

Oleh karena itu, penting untuk membangun:

  1. Zonasi pelestarian yang berbasis riset tipologi dan morfologi, bukan sekadar administratif.
  2. Integrasi sosial-ekonomi lokal agar pelestarian membawa manfaat bagi warga sekitar.
  3. Pendidikan publik tentang sejarah kota, melalui museum hidup dan kegiatan budaya berkelanjutan.

Tanpa itu, Kota Tua akan berisiko menjadi “kulit sejarah” tanpa jiwa.

 

Kota yang Mengingat untuk Bertahan

Rossi pernah menulis bahwa masa depan kota bergantung pada kemampuannya menghafal masa lalu dan menafsirkannya kembali. Pernyataan ini terasa sangat relevan bagi Jakarta  sebuah metropolis yang terus berubah, tetapi masih mencari makna sejarahnya sendiri.

Hari ini, ketika pengunjung berjalan di sepanjang Kali Besar atau duduk di bawah pohon rindang Taman Fatahillah, mereka sesungguhnya sedang berpartisipasi dalam ritual ingatan kota. Kopi yang diseruput di kafe kolonial, musik yang dimainkan di pelataran museum, bahkan langkah kaki di atas batu tua adalah bentuk kecil dari apa yang disebut Rossi sebagai the living memory of the city.

Revitalisasi Kota Tua Jakarta adalah cermin dari perjuangan panjang kota modern untuk berdialog dengan masa lalunya. Ia bukan sekadar proyek arsitektur, tetapi laboratorium sosial tempat gagasan Aldo Rossi diuji dalam konteks tropis, kolonial, dan pascakolonial.

Kota Tua menunjukkan bahwa pelestarian sejati bukan tentang meniru sejarah, melainkan membangun masa depan yang berakar pada ingatan. Dan di sinilah, seperti ditulis Rossi, kota menjadi bentuk tertinggi dari memori manusia.

 

Daftar Pustaka

  • Bandarin, F., & van Oers, R. (2012). The Historic Urban Landscape: Managing Heritage in an Urban Century. Oxford: Wiley-Blackwell.
  • Choay, F. (2001). The Invention of the Historic Monumen Cambridge: Cambridge University Press.
  • Eisenman, P. (1976). “The End of the Classical: The End of the Beginning, the End of the End.” Perspecta: The Yale Architectural Journal, 21, 154–173.
  • Rossi, A. (1982 [1966]). The Architecture of the City. Cambridge, MA: MIT Press.
  • Utami, R. (2019). “Kawasan Kota Tua Jakarta sebagai Warisan Dunia: Pendekatan Historic Urban Landscape.” Jurnal Cagar Budaya Indonesia, 5(1): 33–48.

FOTO HEADER: Cimitero di San Cataldo, Modena, Italia, visitmodena.it

Leave a Comment