Foto Kompas
Di sebuah taman luas di halaman rumah jalan Pegangsaan Timur nomor 56 (sekarang Jalan Proklamasi 56) pada 17 Agustus 1945 dibacakan Proklamasi Kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, serta pengibaran Bendera Merah Putih oleh paskibraka pertama, Abdul Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan Surastri Karma (SK) Trimurti. Menarik untuk menengok kisah tentang rumah pusaka di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 ini yang menjadi titik awal perjalanan Republik Indonesia.
Saat menduduki Indonesia, Jepang membutuhkan dukungan para pemimpin, tokoh politik, dan masyarakat. Mereka mendekati tokoh-tokoh yang sudah dikenal luas masyarakat untuk membantu pemerintah jajahan dan mengambil simpati rakyat. Saat itu Bung Karno berada di Bengkulu dalam pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda, dipindahkan dari Ende, Flores, pada 1938.
Menyadari posisinya kian terdesak, Belanda pun mengungsikan Bung Karno dan keluarganya ke Padang, dan menurut rencana akan menuju ke Australia. Namun karena ketiadaan transportasi, saat Jepang memasuki kota Padang pada 17 Maret 1942, Bung Karno masih berada di kota Padang (Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998, 2005).
Kehadiran segera Bung Karno di Pulau Jawa dinantikan kawan-kawan seperjuangannya seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir dll, juga oleh penguasa militer Jepang. Dengan sebuah perahu bermotor berukuran sepanjang 8 meter, Bung Karno, istrinya, Inggit Garnasih, Kartika (anak angkat mereka), dan Riwu (pembantu keluarga sejak di Ende, Flores), dikawal dua tentara Jepang, bertolak ke Jakarta pada awal Juli 1942.
Setelah mengarungi laut bergelombang selama empat hari, perahu itu mendarat di pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta, pada 9 Juli 1942 (Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia; John D Legge, Sukarno: Sebuah Biografi Politik; Lambert Giebels, Soekarno: Biografi 1901-1950; Mohammad Hatta, Indonesian Patriot: Memoirs).
Sesampai di Jakarta, Bung Karno dan keluarganya menginap di kediaman Bung Hatta di Oranje Boulevard (kini Jalan Diponegoro – John D Legge, 1972), ada juga yang menyatakan mereka tinggal di Hotel des Indes, Harmoni (Ramadhan KH, 1988; Walentina W de Jonge, 2015) sementara yang lain menyebutkan penguasa militer Jepang sudah menyiapkan berbagai kebutuhan Bung Karno seperti kantor, staf, mobil, dan sebuah rumah (Bob Hering, Soekarno: Bapak Indonesia Merdeka).
Beberapa buku memastikan bahwa Soekarno dan keluarganya tinggal di sebuah rumah cukup besar bertingkat dua di Oranje Boulevard (Giebels, 2001; Ramadhan KH, 1988; Soebagijo IN 1983) dan Bung Karno sendiri menyatakan ”Jepang telah menyediakan sebuah rumah bertingkat dua dan manis potongannya, terletak di sebuah jalan raya Jakarta” (Cindy Adams, 2000), belakangan diketahui rumah tersebut berada di Jalan Diponegoro 11 (saat itu Oranje Boulevard).

Jl. Diponegoro no. 11 Foto: Google Map
Selang beberapa waktu, Bung Karno dan Bu Inggit merasa kurang nyaman tinggal di rumah bertingkat dua itu (Giebels, 2001), tidak cukup luas untuk menerima tamu Bung Karno yang semakin banyak. Bu Inggit menyatakan, ”suamiku tidak senang naik turun tangga di rumah bertingkat itu” (Ramadhan KH, 1988). Mereka ingin tinggal di rumah yang lebih besar dan nyaman dengan halaman luas.
Seorang pejabat Jepang, Shimizu Hithoshi, dari badan propaganda, meminta Chairul Basri untuk mencarikan rumah bagi keluarga Bung Karno. Bersama seorang teman, Adel Sofyan, keduanya bersepeda berkeliling daerah Menteng. Mereka akhirnya menemukan sebuah rumah yang luas pekarangannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Keduanya merasa rumah ini cocok, Chairul teringat pesan Bung Karno: ”Saya ingin mendiami rumah yang luas pekarangannya agar saya dapat menerima rakyat banyak” (Chairul Basri, Apa yang Saya Ingat 2003).

Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Foto: buguruku.com
Rumah itu milik seorang Belanda yang diinternir Jepang. Istrinya masih menghuni rumah tersebut. Wanita Belanda itu diminta mengosongkan rumah dan dipindahkan ke Jalan Lembang, juga di daerah Menteng. Bung Karno menyetujui untuk pindah ke Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Bu Inggit Garnasih merasa lebih nyaman, selain luas halamannya juga memiliki banyak kamar dan ada paviliunnya (Ramadhan KH, 1988).
Menurut alm Alwi Shahab, wartawan Republika, rumah itu adalah landhuis atau semacam country house yang pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak dibangun di Batavia, memiliki 12 kamar, sebuah garasi, serambi belakang, ruang depan, tengah, dan ruang makan.

Sebuah berita di koran Sin Po 5 Juli 1948 mengabarkan “Eigenaar (pemilik rumah) itoe roemah jang baroe sadja kombali dari Nederland telah menetapken mendjoeal miliknja dengen harga ƒ 250.000,- pada pemerentah repoeblik.” Artikel serupa juga dimuat koran Provinciale Overijsselsche en Zwolsche pada 12 Juli 1948 dengan menyebutnya sebagai Gedoeng Repoeblik Indonesia. Catatan Harry Poeze, dalam Recent Dutch Language Publications, menyatakan bahwa orang Belanda itu adalah Jhr. Pieter Rutger Feith seorang advokat dan pejabat Departemen Hukum dan Sejarah Batavia, yang terkonfirmasi dalam berita di Koran Pemandangan 11 Januari 1941. (Catatan: di beberapa situs web, dan buku sejarah disebutkan bahwa rumah tersebut merupakan hadiah dari seorang pengusaha keturunan Yaman, namun tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut).

Bung Karno menyampaikan keinginannya menikahi wanita lain untuk memperoleh keturunan, Bu Inggit yang tidak ingin dimadu pun mengajukan cerai. Perceraian disaksikan oleh Fatmawati (calon istri) dan beberapa tokoh penting seperti K.H. Mas Mansyur dan Ki Hajar Dewantara. Bung Karno dan Fatmawati menikah di Bengkulu bulan Juni 1943. Di Pegangsaan Timur 56, pada 22 Agustus 1943 (Lambert Giebels, 2001) Bung Karno menyelenggarakan pesta pernikahannya bersama Fatmawati. Di rumah itu pulalah Bung Karno dikaruniai putra pertama, Guntur Soekarnoputra pada 3 November 1944. Di teras rumah itu pula, Fatmawati menjahit bendera Merah Putih pada malam sebelum kemerdekaan diproklamirkan di halamannya.
DIRGAHAYU KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE-80!
Sumber: republika.co.id, detik.com, detik.com, kompas.com, x.com, kompas.com