Skip to content Skip to footer

Semarang Lama dan Expo Kolonial 1914

Kota Lama Semarang merupakan kota terbesar di Indonesia yang memiliki warisan dan aset multikultural. Terbentuk sejak abad ke-6 sebagai bagian dari Kerajaan Mataram Kuno di daerah pesisir yang disebut Bergota, Semarang berfungsi sebagai pelabuhan, namun karena sedimentasi yang terus menerus terjadi, daerah tersebut menjadi daratan.

Pada abad ke-15 para pedagang Tionghoa berdatangan dan tinggal di daerah perbukitan Semarang, Belanda (VOC) datang pada awal abad ke-16. Pada tahun 1547, Semarang mulai terdiri dari beberapa kelompok masyarakat, yang meliputi penduduk asli Jawa, Tionghoa, dan Belanda.

 

Pada tahun 1678, Kerajaan Mataram memberikan Semarang kepada VOC sebagai hadiah atas bantuan mereka dalam mengalahkan Trunojoyo. Semarang menjadi pusat administrasi VOC, berbagai bangunan bergaya Belanda dan Eropa didirikan. Ketika Kota Lama mulai berfungsi sebagai pusat militer, pada tahun 1695 didirikan Benteng Vijfhoek. Tahun 1705 terjadi berbagai pemberontakan dan tahun 1731, orang Tionghoa membantu Sultan Surakarta melawan VOC. Akibatnya pemukiman Tionghoa dipindah ke daerah Pecinan sekarang untuk pengawasan aktivitas Tionghoa. Sementara pemukiman Belanda tumbuh di sisi timur Benteng Vijfhoek, daerah yang disebut sebagai cikal bakal Kota Lama Semarang. Selain wilayah Belanda, daerah ini juga menampung pemukiman Jawa, Melayu, dan Tionghoa yang tumbuh di sepanjang muara Kali Semarang dan dipisahkan berdasarkan etnis.

Pada pertengahan abad ke-18, Semarang berkembang pesat menjadi pelabuhan terbesar ketiga di Pulau Jawa. Pada tahun 1756, benteng Vijfhoek dihancurkan dan dibangun benteng baru yang melindungi daerah Kota Lama. Namun benteng itu pun kemudian dihancurkan setelah VOC bangkrut pada tahun 1789 dan diambil alih oleh negara Belanda.

Proyek pos, telepon, telegraf (PTT) dan kereta api Hindia Belanda meningkatkan komunikasi dan transportasi. Rumah sakit, gereja, hotel, dan rumah-rumah besar dibangun di sepanjang jalan utama baru di Jalan Mataram, Bojongscheweg, dan Pontjolscheweg. Pada tahun 1893, pabrik gula memainkan peran penting dalam perekonomian dan kereta api berperan vital sebagai alat transportasi. Semarang meluas ke selatan dan sub-pusat mulai bergerak ke selatan.

Panduan Wisata

Dalam buklet yang diterbitkan Official Tourist Bureau Weltevreden (Batavia) pada tahun 1913, dikatakan bahwa Semarang, meskipun bukan pusat wisata utama, adalah salah satu tempat utama di Jawa yang layak dikunjungi, jalan-jalannya lebar dan tata kotanya indah dengan kawasan Eropa yang dibangun di atas bukit dan disebut Tjandi. Brikut ini adalah kutipannya:

“Jalur trem uap Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda, membentang dari Djokja melalui Magelang ke Ambarawa melewati beberapa wilayah yang indah dan menawan dengan panorama pegunungan dan dataran yang luar biasa; terutama di bagian jalan di atas lereng gunung Pingit, sebagian jlan kereta apinya memiliki rel bergerigi.

“Pemandangan paling indah di Jawa Tengah adalah punggung bukit Dieng dengan Gunung Sindoro dan Soembing. Khususnya Dataran Tinggi Dieng, dengan tempat-tempat kecil yang indah dan menawan seperti Bandjarnegara dan Wonosobo di lerengnya, resor wisata yang, meskipun saat ini belum begitu dikenal, layak dikunjungi oleh setiap wisatawan karena banyak pesonanya, iklimnya yang indah, pemandangannya menakjubkan, dan banyak peninggalan Hindu yang menarik.

Semarang dapat dicapai dari jalur utama kereta api, yang membentang di seluruh pulau Jawa, dengan berganti kereta di Solo, menuju Ambarawa. Ini merupakan rute terpendek dan tercepat; namun, jika wisatawan ingin melihat lebih banyak Jawa Tengah, rute tersebut bisa ditempuh dengan trem uap.

Rute mengarah dari Djokja pertama ke Moentilan, dari mana Boroboedoer dapat dilihat sambil menginap semalam di hotel tepat di depan candi. Dari sana, kita dapat naik trem lagi di Magelang dan melanjutkan perjalanan ke Ambarawa (Willem I), dari mana jalur cabang yang disebutkan di atas mengarah ke jalur utama kereta api menuju Semarang. Jika singgah di Magelang atau Willem I, Hotel Loze adalah tempat penginapan pertama, sedangkan di tempat terakhir ada Hotel Ambarawa.

Semarang adalah kota ketiga di Jawa dalam hal pelabuhan, sementara menempati peringkat keempat dalam hal populasi, yang berjumlah 97.000 jiwa, di mana 5.200 di antaranya adalah orang Eropa. Kota ini terus berkembang dan meningkatkan transportasi, kondisi sanitasi, dan perdagangannya; pembangunan pelabuhan baru untuk kapal tongkang yang mengangkut kargo dari kapal uap di jalan darat ke kota, tentu akan sangat membantu dalam hal ini.

 

Bangunan-bangunan utama di kota ini adalah: Balai Kota, Klub, tempat tinggal penduduk, dan Kantor Perusahaan Kereta Api Hindia-Belanda. Berkendara di sepanjang Bojongscheweg dan melalui Randoesari ke kawasan Eropa yang indah di Tjandi, lalu kembali melalui Jalan Oengaran, akan memberikan gambaran terbaik tentang kota ini, sementara dari perbukitan di Tjandi dapat terlihat panorama Laut Jawa yang menakjubkan.

Akomodasi: Hotel du Pavilion, Hotel Jansen, Hotel Tjandi. Restoran: Smabers.”

Poster Expo Kolonial Semarang, 1914 karya Albert Hahn Sr.

Sosok dalam poster ini didasarkan pada potret karya fotografer Kassian Cephas, seorang bumiputra pertama yang menjadi fotografer profesional, yang mendapatkan pelatihan atas permintaan Sultan Hamengkubuwana VI..

Pameran Kolonial

Semarang sebagai pusat perdagangan menjadikannya sebagai lokasi perhelatan pameran akbar. Dalam rangka memperingati seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis, sekaligus memamerkan prestasi kolonialnya, pada tahun 1913 dicanangkan rencana Pameran Kolonial Semarang (Koloniale Tentoonstelling). Mendengar hal itu, Suwardi Suryaningrat (kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara) menulis sebuah esai panjang di harian De Express 1913 yang mengritik rencana itu: “Jika saya orang Belanda, saya tidak akan merayakan kemerdekaan di negara di mana kita mengingkari kemerdekaan rakyat,” katanya.

 

Pameran dagang akbar seluas 26 hektar itu diadakan dari tanggal 20 Agustus hingga 22 November 1914. Dibiayai oleh swasta dan pemerintah, menampilkan 105 bangunan, fasilitas modern, aula transportasi yang luas, dengan 1067 meter rel kereta api dan trem untuk memudahkan pengunjung mengelilingi area pameran. Brosur wisata resmi dibuat oleh Official Tourist Bureau (Weltevreden, Batavia) mempromosikan kegiatan besar tersebut. Namun, pecahnya Perang Dunia I, tiga minggu sebelum pembukaan, secara signifikan mengurangi jumlah pengunjung, sehingga hanya menarik sekitar 320.000 pengunjung.

Semarang Koloniale Tentoonstelling 1914 disebut warga Semarang sebagai Pasar Malam Sentiling ini termasuk pameran kolonial terbesar di zamannya, membentang dari Randusari sampai kaki perbukitan Candi. Dengan 20an paviliun dan puluhan stand, pameran ini menyajikan eksposisi industri eksotis berupa area perkebunan luas dilengkapi peralatan mesin dan proses pengolahannya seperti kebun tembakau, teh, kopi, coklat, tebu, kina, dan kapas. Jalur trem mencapai hingga ke sudut-sudut area perkebunan.

 

 

Bumiputra dilibatkan dalam Dewan Pameran, antara lain RM Soenario (kurator), RMAA Poerbohadiningat (bupati) dan RM Aboekassan Atmodirono (arsitek). Representasi arsitektur berupaya menunjukkan identitas Hindia Belanda modern. Atmodirono bersama dengan Maclaine Pont merancang beberapa paviliun tradisional.

 

 

 

Dalam kawasan industri bumiputra paviliun Semarang merupakan paviliun pertama diantara  23 paviliun yang menyajikan berbagai seni rakyat dan etnografi.  Paviliun berikutnya menampilkan kehidupan dan karya Batak-Karo dari pantai timur Sumatra, paviliun Aceh menyajikan rumah induk Pidie kuno, tarian Aceh dari suku Bedojo, kain tradisional Aceh, serta kerajinan emas dan perak khas Aceh. Paviliun Kabupaten Priangan menampilkan  ukiran  batu,  kerajinan tanduk, senjata tradisional Tjikeroeh. Paviliun Tapanuli menampilkan rumah Batak Toba, serta tenun Laguboti dan Pearadja.

 

 

 

Paviliun Bali dan Lombok menampilkan kain ikat dari Tenganan dan perhiasan emas. Paviliun Celebes memamerkan produk dari kulit kayu tumbuk asal Donggala dan kain bermotif dari koffo. Paviliun Pantai Barat Sumatra memamerkan kain emas dan perak dari Silungkang. Paviliun Jambi menampilkan gaya arsitektur Moeara Boengo, paviliun Kerinci memperkenalkan hasil hutan, sampel kayu, dan jenis bijih. Area berikutnya adalah Kampoeng Toekang, balai kerajinan rakyat dan fasilitas pos polisi, dan toilet.

 

 

 

Paviliun Surakarta dilengkapi sub-bagian Teater Solo yang menampilkan pertunjukan wayang wong. Sementara paviliun Amboina menampilkan Pendopo Ambon dengan interior khas Maluku serta kerajinan kerang dan mutiara. Paviliun Kedu memamerkan koleksi tikar bermotif. Paviliun Palembang menyajikan Songket Palembang. Paviliun Borneo dengan rumah adat dan kain tenun ikat Dayak. Paviliun Kalimantan Barat menampilkan tenun ikat Dayak, anyaman, dan ukiran kayu. Paviliun Dinas Kesehatan Sipil menyajikan upaya pemberantasan wabah penyakit.  Paviliun Surabaya memamerkan pendopo khas Jawa Timur, tikar bermotif dari Bawean, tembaga tempa. Paviliun  Yogyakarta  menampilkan seni dan kerajinan serta gambaran tentang Pasar Gede. Paviliun De Vrouw (Komite Perempuan) merepresentasikan gerakan emansipasi dan pendirian sekolah perempuan bumiputra.

 

 

 

Sekitar abad ke-19, terdapat fenomena yang disebut pameran manusia yang dikenal sebagai “human zoo” atau “pameran etnologi” yang sering menyoroti perbedaan budaya antara peradaban Barat dan non-Barat, yang terakhir dianggap memiliki gaya hidup yang lebih primitif. Pameran manusia biasanya menunjukkan betapa eksotis dan berbedanya orang-orang non-Barat. Di expo-expo dunia, human zoo biasanya menjadi daya tarik utama. Di Pameran Kolonial Semarang, keeksotisan bumiputra dipamerkan melalui tarian tradisional dan demonstrasi industri tradisional. Kawasan yang terbuka tanpa atap disediakan bagi bumiputra untuk mendemonstrasikan pembuatan payung, batik, tenun tradisional, dan topi.

Pameran Kolonial Semarang 1914 (Koloniale Tentoonstelling) adalah acara seni dan industri terbesar di Hindia Belanda, orang Eropa memandangnya sebagai pameran modernitas kerajaan yang mengagumkan, sementara sebagian bumiputra memandangnya sebagai simbol penindasan kolonial. Penempatan penduduk lokal sebagai “objek” dalam pertunjukan manusia berkontribusi pada ketidakpedulian yang mendalam dan memicu meningkatnya gerakan nasionalis Indonesia.

Ada satu warisan paviliun daerah yang tersisa dari perhelatan akbar ini berupa Rumoh Atjeh yang kini menjadi Museum Aceh di Banda Aceh.

Kalau Saya Seorang Belanda (Als ik eens Nederlander was) 

Foto-foto: Buku Riwayat Semarang, Gedenkboek van de Kolonial Tentoonstelling Semarang 1914
Sumber:  Tourist Guide to Central Java 1913, Heritage and Architecture Semarang, Space+Indigenous+Engagement+in+The+Semarang+Colonial+Exhibition,+1914, Indigenous+Engagement+in+The+Semarang+Colonial+Exhibition,+1914, koloniale-tentoonstelling-semarang-as-an-industrial-tourism-3kuc9remqb,

Leave a Comment