Skip to content Skip to footer

Vijayanagara, Kerajaan Yang Terlupakan

Kompleks Monumen Hampi, yang terdaftar UNESCO sejak 1986, adalah kumpulan monumen yang dianggap sangat penting bagi sejarah perziarahan di India selatan. Di antaranya adalah kompleks candi Krishna, Achyutaraya, Vitthala, Pattabhirama, dan Lotus Mahal. Sebagai ibukota kerajaan, kompleks ini memberi gambaran tentang kerajaan Vijayanagara (1336–1646) yang jaya, makmur, terkenal dengan seni, budaya, patung, dan arsitekturnya.

Candi berbentuk kereta gajah ini menandai pintu masuk ke kompleks candi Vitthala. Candi ini menggambarkan Garuda, kereta Dewa Wisnu. Foto: outlooktraveller.com

Candi Vitthala, khususnya, mewakili puncak arsitektur Vijayanagara, hingga saat ini terus tampil sangat indah, memberi sekilas bayang-bayang kota megah di masa lalu. Candi ini dipenuhi elemen dekorasi dengan skala struktur yang sangat besar dan mewah, sementara candi-candi lainnya menunjukkan bahwa candi ini bukan hanya bangunan seremonial, tetapi juga berfungsi.

Yang unik di Hampi adalah jalan-jalan yang mengelilingi candi cukup lebar untuk dilewati kereta kuda tanpa hambatan. Menurut catatan dalam hubungan internasinal, Vijayanagara mengimpor kuda-kuda besar dan tinggi dari Arab dan Persia, serta merekrut pemanah dari Turki.

Patung monumental ini menggambarkan Nandi, sapi tunggangan Siwa. Foto: wikipedia

Ada ratusan candi Hindu di seluruh kawasan Hampi, menunjukkan kota ini pernah menjadi tempat pertemuan antara yang kuno dan yang modern di masanya. Selain yang dibangun oleh Dinasti Vijayanagara, terdapat juga candi-candi yang lebih tua, dan penggalian arkeologis yang sedang terus berlangsung mengungkap artefak yang berasal dari abad ke-2 SM, menunjukkan bahwa tempat ini telah menjadi pusat permukiman manusia jauh lebih lama dari keberadaan kekaisaran Vijayanagara. Sejauh ini, artefak yang ditemukan termasuk bukti tempat tinggal kuno, seni batu, dan bahkan pemakaman megalitik. Artefak-artefak ini menawarkan sekilas gambaran yang menarik tentang dunia yang, telah lama hilang dan terlupakan, kini mulai muncul kembali ke permukaan.

Candi Virupaksha. Foto: wikipedia

Bagi mereka yang tinggal di Vijayanagara, ibu kota kekaisaran Hindu Vijayanagara, kehidupannya sangat baik. Kota yang kaya, glamor, dan berpengaruh, selama beberapa generasi kota ini merupakan salah satu lokasi paling menakjubkan di India Selatan.

Sejarah Vijayanagara berawal dari masa yang jauh sebelum zaman kekaisaran yang menjadikan tempat itu sebagai ibu kotanya. Hampi, yang sejak awal 2 SM telah menjadi pusat ziarah, sebagaimana dibuktikan oleh artefak yang ditemukan di sana.

Terletak di tepi Sungai Tungabhadra, Hampi adalah tempat ziarah di mana para pelancong akan beristirahat di jalan dan memberi penghormatan di monumen-monumen keagamaan di sana. Situs ziarah ini berkembang selama bertahun-tahun menjadi pusat pengajaran Hindu hingga, pada abad ke-12, raja-raja Hindu menjadikan tempat itu sebagai kediaman mereka. Dengan posisinya yang strategis dan menarik di tepi sungai, belum lagi lalu lintas reguler yang dijanjikan oleh para peziarah yang berbondong-bondong datang ke sana, hanya masalah waktu sebelum daerah itu tumbuh lebih besar lagi.

Hal itu terjadi pada abad ke-14 ketika Harihara I dan Bukka, penguasa kekaisaran Vijayanagara, menetapkannya sebagai ibu kota kekaisaran mereka. Dan kota itu mulai tumbuh dengan kecepatan yang menakjubkan hingga, pada tahun 1500 M, ukurannya hanya dikalahkan oleh Beijing, dengan populasi sekitar setengah juta orang.

Di kota yang terkenal kaya ini, barak penjaga dan kandang gajah pun dibangun untuk membangkitkan decak kekaguman. Foto: Incredible India

Seiring pertumbuhan kota, kekayaan pun bertambah. Kota ini menjadi pusat perdagangan penting dengan para pedagang yang datang dari berbagai penjuru kerajaan untuk memanfaatkan peluang yang ditawarkan kota besar ini. Jejak arkeologis masih ada yang menunjukkan tata letak unik situs Vijayanagara sepanjang 100 kilometer, dan memberi gambaran tentang besarnya di masa kejayaannya.

Di saat banyak ibu kota India selatan secara tradisional dibentuk dari permukiman dan gedung pemerintahan yang terhubung secara longgar, ini adalah pertama kalinya sebuah kota di India selatan dibagi menjadi beberapa bagian dalam pembangunannya.

Tungabhadra Dam (Hospet Dam) Foto: turuhi.com

Vijayanagara dibangun dari tujuh lapisan pertahanan, masing-masing dibangun untuk aspek penting kehidupan yang berbeda. Di tengah benteng-benteng ini, yang dilindungi dengan ketat, terdapat istana dan pusat administrasi kota. Jalan raya yang lebar melintasi bagian-bagian tersebut untuk memungkinkan lalu lintas kereta kuda, sementara fasilitas umum – termasuk tangki dan saluran air, tempat untuk berkumpul, dan tempat ibadah tersedia di mana-mana.

Di dalam lapisan benteng pertama hingga ketiga terdapat lahan pertanian di bagian luar, diikuti oleh taman dan pemukiman. Lahan-lahan tersebut subur dan hijau, dan baik lahan pertanian maupun rumah-rumah mendapat air yang diambil dari beberapa danau. Lapisan-lapisan ini tidak hanya menyediakan rumah pinggiran kota bagi penduduk, tetapi juga kebun dan ladang yang subur. Kesan pertama yang menarik bagi pengunjung yang memasuki Vijayanagara.

Di lapisan berikutnya, antara lapisan keempat dan ketujuh terdapat pusat oerdagangan. Ratusan toko, bazaar, dan pasar tempat para pelancong dan pedagang dari seluruh dunia dapat berinteraksi. Legenda mengklaim bahwa batu permata dapat dibeli lusinan di pinggir jalan kota makmur itu, tetapi tidak diketahui kebenarannya. Yang pasti benar adalah pasar-pasar yang luas itu adalah tempat terdekat yang dapat dikunjungi para pelancong awal dengan pusat perbelanjaan. Ada tujuh pasar, masing-masing menyelenggarakan pasar pada hari yang berbeda dalam seminggu. Enam pasar lainnya menjadi ruang sosial, tempat hiburan, festival dan pameran.

Foto: indialegacy.in

Di luar wilayah pasar berdiri garis pertahanan ketujuh, dan di dalam lingkaran pertahanan ini terdapat bangunan-bangunan yang dianggap paling penting bagi Vijayanagara: struktur pemerintahan, candi, dan istana. Kota ini dirancang oleh para arsitek yang jelas memahami pentingnya melindungi bangunan-bangunan vital ini, dan semuanya dilayani oleh pasokan air yang dialiri oleh saluran air yang sudah ada sebelum Vijayanagara, dan diyakini telah didirikan sejak awal abad ke-9. Negara Wijaya banyak dipuji sebagai tempat yang indah dan kuat, namun sejarah mengatakan benteng-benteng itu terbukti tidak cukup kuat.

Vijayanagara bukan hanya kerajaan yang kaya saja, tetapi juga pusat spiritual. Raja-rajanya sangat menekankan pendidikan dan filsafat. Rakyat juga didorong untuk membayar pajak yang digunakan untuk membiayai kota mereka. Pengunjung disambut dengan tangan terbuka, dan mereka menjadi penyebar kabar tentang betapa bagusnya Vijayanagara sebagai tempat berbisnis, sehingga disinggahi banyak pedagang. Di bawah penguasa kekaisaran yang paling terkenal, Krishnadevaraya, Vijayanagara mencapai masa keemasan.

Meski banyak yang sudah pudar dan rusak, dulunya mural-mural semarak menghiasi dinding dan langit-langit berbagai candi di kota ini. Foto: Dineshkannambadi wikimedia

Pengunjung Eropa sering datang ke kota itu, dan ia menjalin aliansi yang kuat dengan para pemukim Portugis di Goa, memanfaatkan keahlian mereka untuk mengerjakan sistem pengairan Vijayanagara yang sudah tua. Ia memimpin pemerintahan yang sangat teratur di mana korupsi dihukum berat, dan menumbuhkan ketaatan dan ketertiban yang sama ke seluruh bagian kekaisarannya, yang secara teratur ia kunjungi untuk bertemu dengan rakyat.

Bagi mereka warga Vijayanagara yang tidak ikut menikmati kekayaan, Krishnadevaraya membangun sistem sewa tanah, dan menyediakan air bersih untuk daerah pertanian. Ia berharap, hal ini akan memungkinkan orang-orang termiskin untuk mencari nafkah sendiri. Ini merupakan salah satu faktor utama kemakmuran Vijayanagara.

Vijayanagara  mengembangkan salah satu sistem pengelolaan air yang paling canggih dan berkelanjutan di masanya. Mengandalkan sungai Tungabhadra yang bergantung pada curah hujan, raja-raja membangun bendungan batu besar (anicut), sumur bertingkat dalam (pushkarni), dan sistem saluran air sepanjang 24 kilometer untuk memasok air bagi pertanian dan pusat kota Hampi.

Arsitektur hidrolik dan infrastruktur pertanian kekaisaran dikategorikan menjadi tiga sistem utama:

Jaringan Kanal: Kanal mengalihkan air dari sungai menggunakan gravitasi alami. Kanal Raya dan Kanal Hiriya merupakan jalur kehidupan penting, mengairi ribuan hektar lahan, memisahkan pusat kota dari pusat suci di Hampi, dan sangat meningkatkan pendapatan negara.

Irigasi Waduk: Waduk dan kolam buatan besar—seperti Waduk Kamalapuram—dibuat untuk menampung air hujan monsun. Sistem-sistem tersebut berfungsi sebagai sistem bertingkat dan saling terhubung yang mendukung budidaya padi, tebu, dan kapas sepanjang tahun.

Sumur dan Saluran Air: Sumur bertingkat dalam, sumur komunitas, dan saluran air di atas tanah direkayasa untuk mengangkut air untuk minum, pemandian umum (misalnya, Pemandian Ratu), dan ritual kuil.

Investasi ini didorong oleh kerajaan, para penguasa, bangsawan, dan majelis desa bekerja sama membangun dan memelihara pekerjaan-pekerjaan ini, seringkali menghasilkan pengecualian pajak bagi mereka yang mensponsori penggalian waduk baru.

Krishnadevaraya meninggal pada tahun 1529 dan tanpanya, stabilitas Vijayanagara dalam tiga dekade berikutnya merosot. Kerajaan yang sering terlibat dalam konflik panjang dengan Kesultanan Bahamani, akhirnya mengalami kekalahan telak dalam pertempuran Talikota pada tahun 1565 M, namun sisa kerajaan bertahan hingga akhirnya benar-benar runtuh pada tahun 1646 M.Selama dua abad lebih Vijayanagara terlupakan. Seorang ahli barang antik Skotlandia, Colin Mackenzie berkunjung, dengan teliti memetakan situs tersebut dan membangkitkan rasa ingin tahu dunia terhadap kota yangtelah dilupakan oleh para pelancong Eropa yang pernah menulis puja-puji atas keindahannya.

Reruntuhan itu menarik minat banyak pelancong, dan pada awal abad ke-20, upaya dilakukan untuk menggali dan melestarikan sisa-sisa Vijayanagara oleh Kantor Survei Arkeologi India.

Sedikit demi sedikit, Vijayanagara muncul dari masa lalu ketika para arkeolog bekerja dengan ketelitian yang cermat untuk mengungkap bangunan-bangunan yang pernah berdiri di dalam tembok benteng. Dengan penjaga yang berpatroli di situs tersebut, ada pertahanan yang diterapkan untuk mencegah penjarahan, meskipun tidak selalu berhasil, dan tidak lama kemudian beberapa kuil yang hancur menjadi tempat ziarah lagi.

Ketertarikan pada Vijayanagara tetap konstan sejak saat itu. Para arkeolog dari seluruh dunia datang untuk bekerja sama dengan pihak berwenang India dalam pemetaan dan pelestarian situs tersebut, dan distrik Hampi kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebagian besar candi di daerah ini sekarang dianggap dalam kondisi pelestarian yang baik, setelah sebelumnya dianggap oleh UNESCO sebagai ‘in danger‘. Kini fokusnya adalah pada pemeliharaan monumen-monumen tersebut seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung ke daerah tersebut. Untungnya, tampaknya kota yang pernah hilang ini berada di tangan yang aman.

Sumber: UNESCOwikipedia, britannica, deccanherald, A Forgotten Empire

Leave a Comment