Skip to content Skip to footer

3,6 Juta Dollar untuk Pengecatan 2700 Rumah dan Bangunan Kota Tua Zanzibar Sepanjang 36 Bulan

Zanzibar adalah kota terbesar di kepulauan Zanzibar, di Tanzania. Zanzibar juga dijuluki Kepulauan Rempah-rempah, karena ditumbuhi cengkeh, pala, kayu manis, dan lada. Ekspor rempah-rempah dan pariwisata merupakan sumber pendapatan utama. Pariwisata peringkat pertama untuk benua Afrika adalah Mauritus, kepulauan yang juga berada di Samudera Hindia, Zanzibar berada di peringkat kedua..

Di kota Zanzibar ini terdapat sisi kota tua yang relatif masih utuh, dikenal dengan nama Stone Town atau Mji Mkongwe dalam bahasa Swahili yang berarti kota tua.
Stone Town menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2 Desember 2000. Ditetapkan oleh UNESCO sebagai “contoh kota dagang pesisir yang indah di Afrika Timur. Kota ini mempertahankan struktur perkotaan dan lanskap kotanya secara utuh dan memiliki banyak bangunan indah yang menyatukan elemen-elemen budaya Afrika, Arab, India, dan Eropa selama lebih dari satu milenium.”

 

FOTO: Musaddiq-Gulamhussein

Dikatakan bahwa nilai universal yang luar biasa dari Stone Town terletak pada karakter susunan klaster dan bangunan, tata letak kota, termasuk hubungan bangunan dengan ruang terbuka, jalan, dan taman, karakter tepi pantai yang indah dilihat dari laut, dan sifat akses ke laut dari darat. Semua ini masih utuh, tetapi bangunan-bangunannya rentan terhadap kerusakan dan aspek visual dari laut rentan terhadap pembangunan yang tidak tepat.

UNESCO menyayangkan hilangnya dua gudang bersejarah akibat proyek pembangunan pelabuhan Malindi dan fasilitas pelabuhan yang dirancang secara tidak tepat tanpa persetujuan sebelumnya telah menciptakan ancaman bagi integritas properti Kawasan Konservasi Perkotaan, termasuk area pelabuhan di utara.

Stone Town kini sedang berbenah. Pada Desember 2024 Presiden Zanzibar mengumumkan bahwa dana sebesar 3,6 juta Dollar AS dikucurkan untuk pengecatan Stone Town. Proyek Pengecatan 2.700 bangunan di Stone Town adalah inisiatif transformatif berdurasi 36 bulan yang bertujuan untuk merevitalisasi pesona sejarah kota sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya.

FOTO: thecitizen.co.tz

Pada peluncuran proyek pengecatan ini Presiden memuji Kementerian Pariwisata dan Purbakala serta Otoritas Stone Town atas inovasi dan upaya mereka selama ini: “Keberhasilan yang saya saksikan hari ini menunjukkan bagaimana kita dapat terus mengembangkan Stone Town di Zanzibar,” ujarnya. Ia meyakinkan bahwa pemerintah akan bekerja sama dengan mereka untuk menemukan cara-cara mengurangi biaya ini. Ia mendesak warga untuk terus melindungi kota mereka agar dapat bertahan hingga 100 tahun ke depan, dan menekankan bahwa reformasi pemerintah tidak dimaksudkan untuk menggantikan kota ini, melainkan untuk memastikan warisannya yang abadi.

Infinity Development yang melaksanakan proyek ini mengatakan: “kami menggunakan cat ramah lingkungan dan tahan lama yang sejalan dengan pedoman pelestarian yang ditetapkan oleh UNESCO dan pemerintah Zanzibar, agar tampilan baru ini bertahan selama bertahun-tahun mendatang. Inisiatif ini akan mencakup restorasi lebih dari 2.700 bangunan, berupa rumah tinggal, hotel, toko, dan restoran, masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri.”

Beberapa bangunan penting antara lain:

FOTO: yaronlevi.com

Beit-el-Ajaib atau House of Wonders, bangunan terbesar dan tertinggi di Stone Town ini dulunya adalah istana sultan dan berlokasi strategis di tepi laut. Pernah direnovasi pada 2017 lalu dengan bantuan dana dari negeri Oman. Museum ini menyajikan perjalanan masa lalu pulau ini. Arsitekturnya megah dengan pintu-pintu besarnya, lift tertua di Zanzibar, serta keindahan panorama pantai dan kota. Saat ini dalam proses rehabilitasi, tertutup untuk umum.

 

FOTO: daniwanders.com

Arab Fort atau Old Fort atau Ngome Kongwe, benteng abad ke-17 ini dibangun oleh Kesultanan Oman dari reruntuhan gereja yang didirikan oleh Portugis, pernah mengalami tambahan pada tahun 1940 dan 1990. Saat ini sedang dalam proses renovasi besar-besaran.
Meskipun signifikansi sejarahnya menarik, namun daya tarik utamanya bagi banyak orang adalah suasananya yang ramai, belanja suvenir dan makanan lokal dengan harga terjangkau, pemandangan matahari terbenam dan pertunjukan musik di malam hari. Beberapa pengulas menyebutkan bahwa tempat ini agak kumuh.

 

FOTO: siyabona.com

Bangunan memukau ini adalah Shahi Shifakhana atau Dar-ush-Shifa, lebih dikenal dengan nama The Old Dispensary. Didirikan oleh Raja Naseer-ud-Din Haider pada tahun 1833 untuk layanan kesehatan masyarakat. Bangunannya sendiri merupakan perpaduan antara elemen arsitektur India dan Eropa, menampilkan balkon indah, detail-detail rumit dan ruang-ruang megah yang mencerminkan era kemakmuran dan perencanaan kota yang cermat. Fungsi layanan kesehatannya masih berlangsung.

Berjalan-jalan di Stone Town akan menjadi suatu kenikmatan bagi para penggemar arsitektur. Keseluruhan Stone town sendiri bagaikan museum – beragam gaya bangunan memberi gambaran sejarah pulau yang panjang dan beragam. Namun selain bangunan, ada beberapa detail kecil yang unik, salah satunya adalah Baraza.

FOTO: fundulagoon.com

Baraza, tempat duduk, atau buk dalam tradisi sebagian rumah di pulau Jawa, adalah titik fokus kehidupan masyarakat Zanzibar selama berabad-abad. Baraza mengelilingi beranda di luar rumah-rumah tradisional Swahili, atau mengapit pintu-pintu berat di rumah-rumah bandar bergaya Arab. Jalan-jalan panjang dan sempit di Stone Town memiliki tempat duduk baraza yang dibangun di kedua sisinya, alih-alih trotoar.
Baraza berkembang sebagai cara bagi pria Muslim untuk menerima tamu di rumah tanpa mengorbankan privasi wanita mereka. Kopi dan manisan akan disajikan di baraza kepada siapa pun yang datang, hanya teman terdekat atau anggota keluarga yang diajak masuk rumah. Pertemuan umum yang diselenggarakan para sultan Oman juga disebut baraza, di luar istana mereka menerima para pemohon atau memberi audiensi publik kepada pejabat yang berkunjung.

FOTO: bucketlistly-blog

Baraza saat ini masih menjadi titik pertemuan bagi semua lapisan masyarakat Stone Town. Setiap baraza kota dipenuhi orang-orang yang bersantai, bergosip, bermain kartu, minum kopi Arab yang manis dan kental, atau sekadar tidur sore. Baraza sebagai fitur arsitektur pun ada di hotel-hotel mewah di Zanzibar, hampir setiap halaman, sudut dan celah, dan bahkan di kamar mandi.

 

FOTO: Musaddiq Gulamhussein

Detail unik lainnya adalah pintu. Pintu-pintu besar terbuat dari kayu jati atau mahoni menghiasi bagian depan hampir setiap bangunan ternama. Kenop kuningan yang menonjol di pintu-pintu Stone Town adalah warisan dari India – di sana kenop-kenop kuningan digunakan sebagai pertahanan melawan gajah yang digunakan untuk mendobrak pintu-pintu benteng dalam perang suku Punjab. Tentu saja ciri khas pintu-pintu Stone Town ini murni dekoratif.

Sekilas, satu pintu Stone Town tua mungkin terlihat sangat mirip dengan pintu lainnya. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, setiap pintu sedikit berbeda. Para perajin yang mengukir pintu-pintu itu sendiri maupun relief batu di atasnya menyesuaikan setiap pintu dengan status sosial, praktik keagamaan, dan pekerjaan calon pemiliknya.
Jadi, seorang pedagang yang meraup kekayaan dari armada perahu nelayan akan tinggal di balik pintu yang pola ukirannya mengalir naik turun meliuk-liuk seperti ombak di pantai, atau mungkin tumpang tindih seperti sisik ikan marlin besar.

FOTO: wilton-photography.com

Karena larangan Islam untuk menggambarkan makhluk hidup, sebagian besar pola pintu bersifat abstrak, desainnya hanya menyiratkan objek alam yang menginspirasinya. Bagian terluar kusen pintu selalu diukir dengan rantai atau tali untuk mengikat roh jahat yang mencoba memaksa masuk ke dalam rumah. Tulisan Arab yang terukir pada hiasan batu di atas ambang pintu biasanya berupa ayat-ayat Alquran atau nama-nama pemilik rumah yang memesan pintu tersebut.

 

FOTO: Selma-Kamm

Ciri khas lain dari rumah-rumah di Stone Town adalah balkonnya. Diukir rumit dari kayu jati atau rosewood, balkon-balkon ini merupakan warisan India dan memiliki kemiripan dengan haveli di Gujarat, kampung halaman para pedagang India kaya di Zanzibar. Semakin besar balkonnya, semakin tinggi status pemiliknya.

FOTO: freepik

Yang agak mengejutkan adalah rumah kelahiran legenda musik, penyanyi grup Queen dari Inggris: Freddie Mercury. Rumah ini menjadi museum pertama yang didedikasikan untuk Freddie Mercury, resmi dibuka pada November 2019 dan menyajikan foto-foto eksklusif Freddie Mercury dari berbagai tahap kehidupannya.

Sumber:
UNESCO, Siyabona Africa, Acaciasafari, Spiritedpursuit, Citizen.tz, Alteeza.com

Leave a Comment