
FOTO: daniwanders.com
Arab Fort atau Old Fort di kota tua Stone Town ini terlihat dari kejauhan berkat tingginya tembok dan menara-menara di tiap sudutnya. Terbuka untuk umum hingga malam hari, sore hari banyak yang berkunjung untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di samudera Hindia.
Benteng Tua ini sudah lebih dari sekadar bangunan bersejarah— ia merupakan bagian dari keseharian masyarakat, bernafaskan identitas budaya Zanzibar dari musik, kerajinan hingga kulinernya. Di balik kekokohan tembok-temboknya terdapat sebuah amfiteater di satu sisi dan padang rumput hijau yang luas di sisi lainnya.
FOTO: expedia.com
Kios-kios kerajinan rakyat, sanggar seni lukis, dan kuliner khas Zanzibar berderet di sepanjang tembok benteng. Naik ke menara. di dalamnya terdapat galeri seni dan pameran, pengunjung bisa berkeliling di atas benteng menikmati pemandangan kota.
Orang-orang Arab Busaidi Oman pada awal tahun 1700-an membangun benteng ini setelah mereka mengusir Portugis dari pantai Afrika Timur pada tahun 1699. Dibangun di atas situs bekas gereja Portugis yang berasal dari tahun 1598 hingga 1612, sisa-sisa gereja tua ini masih terlihat di halaman utama.
Selama abad ke-19, benteng ini mengalami perluasan dan berfungsi sebagai penjara dan tempat tinggal bagi para pengawal Sultan Bauchi. Kata Swahili untuk penjara, gereza, diyakini berasal dari kata Portugis ireja, yang berarti gereja.
Dari tahun 1905 hingga 1928, benteng ini berfungsi sebagai depo untuk jalur kereta api yang menghubungkan Kota Zanzibar dengan kota Bububu, 10 kilometer dari Stone Town.

FOTO-FOTO: expedia.com; ariatravel.com; daniwanders.com
Ketika jalur kereta api kemudian dihapuskan pada tahun 1946, sebuah pos gerbang baru dibangun, dan lapangan utama dialihfungsikan menjadi klub tenis putri. Penambahan penting lainnya adalah sebuah pintu besar dengan pintu inset yang lebih kecil, yang diambil dari kediaman saudara Sultan Humoud B. Muhammad.
Pada tahun 1994, sebagian benteng diubah menjadi teater terbuka. Renovasi ini dilakukan dengan cukup cermat, memadukan kreativitas dengan penghormatan terhadap arsitektur asli, dengan tempat duduk baraza khas Zanzibar yang disusun dalam tata letak amfiteater. Tembok benteng dan bangunan Beit-el-Ajaib di luar, memberi latar belakang yang indah untuk pertunjukan.
Amfiteater sering digunakan untuk berbagai pertunjukan, termasuk festival musik Sauti za Busara dan Festival Film Internasional Zanzibar, serta menjadi tempat pertunjukan musik dan tari setiap harinya.

Berita menggembirakan muncul di akhir tahun 2024, ada bantuan multi-tahun dari Dubai untuk merenovasi kota Stone Town senilai 3,6 juta dollar AS. Benteng Arab menjadi obyek pertama untuk direnovasi. Infinity Development yang bertugas melaksanakan renovasi menyatakan: “Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa kami tidak mengganggu mata pencaharian masyarakat sekitar, terutama mereka yang selama ini mencari nafkah di sekitar Benteng Tua. Oleh karena itu, kami sedang membangun area lain tidak jauh dari Benteng Tua untuk merelokasi para pedagang lokal”
Perbaikan utama mencakup taman-taman indah yang menampilkan tanaman asli, menyediakan tempat peristirahatan yang tenang bagi pengunjung di tengah kekayaan warisan benteng. Fitur air yang elegan akan menambah suasana, menawarkan tempat-tempat indah untuk bersantai dan berfoto.

Halaman terbuka dan auditorium benteng diperluas untuk mengakomodasi berbagai acara, seperti konferensi, pameran seni, dan lainnya. Ruang serbaguna ini dilengkapi fasilitas modern, memastikan pengalaman berkesan bagi semua pengunjung.

Kios makanan dan minuman diperluas untuk menawarkan beragam masakan lokal dan internasional, menyediakan pilihan bersantap lezat yang mencerminkan keragaman kuliner Zanzibar.

Pengunjung dapat menyelami sejarah benteng melalui museum yang penuh dengan artefak dan pameran, mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang warisan kepulauan Zanzibar. Ruang ritel menampilkan kerajinan dan suvenir lokal, memungkinkan pengunjung untuk membawa pulang sepotong budaya Zanzibar sambil mendukung para pengrajin lokal.

Transformasi benteng ini mencakup penyelenggaraan berbagai acara, mulai dari musik live harian di amfiteater, presentasi perusahaan, hingga festival budaya, yang akan menghasilkan arus pengunjung yang berkelanjutan dan pendapatan yang substansial.
Strategi pemasaran yang inovatif, termasuk kampanye media sosial dan kemitraan dengan agen perjalanan, akan memastikan Benteng Tua tetap menjadi destinasi utama wisata budaya dan sejarah.

Melalui keterlibatan masyarakat dan dukungan bagi para pengrajin lokal, proyek ini bertujuan untuk menciptakan model pariwisata berkelanjutan yang menguntungkan semua pemangku kepentingan.
“Kami bersyukur telah dipercaya untuk merenovasi dan menghidupkan kembali Benteng Tua. Kami telah mempertimbangkan semua nilai budaya dan sejarah Benteng Tua, dan bekerja sama dengan pemerintah serta para pemangku kepentingan untuk menciptakan pengalaman unik bagi semua pengunjung, sembari terus berupaya mempromosikan Pariwisata Halal di Zanzibar,” ujar Samuel Saba, Ketua Infinity Group, pengembang properti yang berbasis di Dubai.
Beberapa catatan yang mengemuka:
Hilangnya karakter historis: Beberapa kritikus khawatir bahwa perubahan akan mengubah estetika dan mengorbankan nilai budaya dan sejarah benteng. Kekhawatiran muncul atas penggunaan semen putih dan abu-abu, yang menurut beberapa orang tidak sesuai dengan identitas arsitektur asli Stone Town, kota yang dibangun dengan batu koral.
Hilangnya keterjangkauan: Seorang warga bernama Ahmed menyatakan kekhawatiran bahwa akses gratis yang dihilangkan dan pengenaan biaya sewa kios akan menyulitkan penduduk setempat untuk membayar.
Dampak terhadap seniman lokal: Seniman seperti Mariam Hamdan telah menyuarakan kekhawatiran atas potensi hilangnya tempat pertunjukan yang vital dan berkurangnya tempat untuk memamerkan karya mereka kepada khalayak luas.
FOTO-FOTO desain renovasi: infinitydevelopments.ae
SUMBER: guardian.com; daniwanders.com; ariatravel.com; expedia.com; wikipedia;