Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tulang Belulang Ereveld Ancol Dalam Pameran Tunggal Anwar Boa Garbobo

Pembukaan pameran tunggal seni rupa yang bertepatan dengan Gerhana Matahari Berjudul EREVELD ANCOL, Sandikala Peristiwa, Mimpi dan Ingatan telah berlangsung tanggal 8 sampai 28 April 2024.

Acara di selenggarakan Nusantara Art Stage NAS oleh seniman rupa ANWAR BOA GARBOBO menjadi perhatian tersediri bagi peserta yang hadir dalam pembukaan pameran. Terutama Sangkot Marzuki, seorang penulis buku tentang Prof. dr Akhmad Mochtar sekaligus Direktur Eijkcman institut dan Ketua Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia AIPI.

Atas apresiasinya mengutus ibu Lies selaku sekretarisnya untuk memberikan sambutan dalam pembukaan pameran tersebut. Apa yang disampaikan juga mempertajam atas korelasi karya lukisan Anwar Boa dengan kisah yang dialami Sangkot Marzuki sebagaimana buku yang ditulisnya. Pameran yang dilatarbelakangi dari mimpi ini, ternyata ada sambung rentengnya dengan persoalan Ereveld Ancol. Selaku sebuah komplek makam korban perang dunia kedua yang pernah terjadi pada masa penjajahan Jepang.

Tentu pameran Sandikala Peristiwa, Mimpi dan Ingatan Anwar Boa Garbobo selain menginspirasi, juga mengajak siapa saja untuk melakukan refleksi dan pendalaman terhadap pertistiwa yang pernah terjadi di Ereveld Ancol. Sebagaimana yang disampaikan fasilitator Acara Taufik Razhen. Karya yang simboik mampu menjadi garis penghubung persoalan pembantaian kejam ilmuwan jenius Akhmad Mochtar yang dituduh menyuntikan virus dalam tubuh ratusan Romusa di era tahun 1943 sampai 1945.

Tentu karya ini juga menyinggung adanya pohon sorga ‘hemelboom’, yang dianggap sebagai tempat pemancungan para korban. Termasuk pengorbanan si cantik Luchien Lubels, untuk menyelamatkan adiknya yang dicari penjajah jepang. Termasuk menyinggung bagaimana sekandal kejahatan dalam menutupi peristiwa perjalanan sejarah bangsa yang terjadi pada masa transisi menjelang kemerdekaan Indonesia.

Anwar Boa Garbobo, adalah pelukis yang menghidmatkan dirinya di Pasar Seni Ancol, dengan membawa narasi bawah sadar melalui visual mencekam dan mengejutkan. Lahir di Jakarta dan belajar melukis secara otodidak, ia selalu menghadirkan ingatan sebagai cara menafsirkan masa kini. Ungkapnya Taufik Razhen.

Sedang kurator pameran Asfarinal St RG, Direktur Jaringan Kota Pusaka Indonesia. Proses kreatif Pameran Tunggal Anwar Boa Garbobo dengan tema EREVELD ANCOL, dianggap punya dorongan untuk membuka beberapa pertanyaan baru sebagai cara untuk mencari alamat dan konteks peristiwa yang dimaksud.

Selain tak pernah mengunjungi EREVELD yang berada di kawasan Ancol. Ketika Anwar Boa Garbobo ditanya tentang kegemarannya untuk melukis tulang belulang, kerangka tengkorak dalam karya karyanya ; ia tak menjawab pasti. Namun citra tulang dan tengkorak selalu muncul dalam mimpi dan bayangan sadarnya, kurang lebih sejak ia bergabung di Ancol pertama kali tahun 2002.

Selalu saja tulang dan tengkorak, muncul secara sekilas disertai makhluk bawah tanah yang tak dikenal. Gambaran itu muncul dalam mimpi, atau saat melamun. Kilasan itu muncul berulang. kata Anwar Boa Garbobo dalam sebuah percakapan.

Mungkinkah penciptaan lahir dari inter-aksi, yakni aksi aksi yang saling berhubungan pada alam bawah sadar, mimpi, ingatan dan peristiwa? Apakah jaringan kehidupan yang tergelar di satu kawasan, bisa saling berhubungan dan bangkit kembali pada waktu yang berbeda. Ungkap Asfarinal.

Mencermati kegelisahan Anwar ini, tim penyelenggara bersama kurator berinisiatif untuk menyusuri Ereveld Ancol, dan menelusuri kisah kisah yang tertimbun, dipandu oleh karya karya Anwar. Menampilkan serpihan karya yang saling berkaitan, yang terjadi masa kelam perang, yang tertimbun ingatan dan tak pernah kita dengar.

Peristiwa Ahmad Mochtar, seorang dokter jenius yang dikorbankan dan berdiri didepan untuk membela sejawatnya di Lembaga Riset Eickman, digambarkan secara puitik. Melalui karya ” Kebenaran Yang Terjaga”, terlihat rangka tulang yang tergeletak dilantai, seperti ingin menjangkau panel kertas kosong yang sedang dikerjakan. Tuduhan kosong untuk peristiwa pemusnahan romusha, yang ingin dihilangkan dan dilupakan. Tegas Asfarinal selaku kurator.

Terkait dengan ini, karya “Tragedi Klender” memaparkan tubuh tubuh yang memiuh dalam lingkaran hidup mati, mengisahkan tragedi pilu sembilan ratus pekerja paksa romusha, yang tewas sia sia karena eksperimen senjata biologis. Lukisan menyayat yang menjadi monumen ingatan.

Lukisan lukisan lain juga menggambarkan situasi mencekam dan nglangut. Lansekap yang kerontang dan warna senja, berulang ulang muncul, seperti menegaskan suasana alam bawah sadar terus membawa tanda tanda.

Melalui “Percakapan Merah Putih” yang menggambarkan komunikasi mahluk rangka yang bergairah, dilatari bendera merah putih, seperti menyimpulkan tujuan dari seluruh pemaparan ini. Bahwa, seluruh peristiwa besar dan kecil yang terjadi, tidaklah sia sia dan perjuangan harus dilanjutkan. Begitu pesan Prof. Akhmad Mochtar lewat Sangkot Marzuki.

Nusantara Art Stage (NAS)
Kawasan Budaya Ali Sadikin (Kabalin)

Leave a Comment

https://indonesiaheritage-cities.org/