Skip to content Skip to footer

Zollverein. Tambang tercantik di dunia.

Salah satu lanskap kota terlantar dan ruang terbengkalai yang menarik perhatian banyak orang adalah kompleks Zollverein di Essen, Jerman: bekas tambang batu bara terbesar di Eropa, Zeche Zollverein. Nama Zollverein diambil dari perjanjian zona pasar bebas antara 14 negara bagian Jerman pada tahun 1834.

Pada tahun 1847 di situs ini dibangun pertambangan batu bara pertama dilengkapi dengan pabrik kokas, kedua pengembangan tersebut menjadikannya sebagai kompleks industri terbesar dan termodern di Eropa. Penambangan batubara berhasil memberi kesejahteraan panjang bagi Zollverein dan seluruh kawasan Ruhr.

Sepanjang 150 tahun berikutnya Zollverein berevolusi seiring dengan perkembangan ilmu konstruksi dan penyesuaian program; pada tahun 1930-an didirikan serangkaian bangunan yang terinspirasi Bauhaus oleh arsitek Jerman Fritz Schupp  dan Martin Kremmer.

Kompleks Zollverein ini kemudian menjadi mahakarya arsitektur pertambangan, salah satu tambang batu bara paling modern pada saat itu.

Karena batu bara tidak lagi efisien secara ekonomis, Zollverein pada tahun 1986 secara bertahap mulai ditutup hingga tahun 1993, kemudian dibeli oleh pemerintah daerah Nordrhein-Westaflen untuk pelestarian, dipelihara sampai dinyatakan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2001. “Tambang Terindah di Dunia”, begitulah klaimnya.

Dalam 25 tahun terakhir Zollverein menjadi surga arsitektur, bintang-bintang arsitek dunia berkolaborasi menjadikan situs penambangan batu bara menjadi pusat budaya.

The Red Dot Design Museum

Tahun 1990an Foster + Partners merancang rumah ketel di Zollverein menjadi ruang pameran desain kontemporer terbesar di dunia – The Red-Dot Museum.

Kompleks bangunan yang terinspirasi oleh Bauhaus ini, dipugar dan dibersihkan guna menampilkan fungsionalis fasada bata merah, diikuti perubahan total pada interior, diubah menjadi galeri modern yang kontras dengan interior bangunan.

Untuk konversi ruang yang luar biasa ini, Sir Norman Foster dianugerahi “Knight Commander’s Cross of the Order of Merit of the Federal Republic of Germany,” karena kemampuannya mencapai “keseimbangan antara melestarikan yang lama dan menciptakan yang baru.”

Sir Norman Foster termasyhur dengan berbargai karya bangunan ikonik seperti Gherkin yang menjadi bagian dari landmark kota London, Great Court of British Museum, hingga Apple Park.

Situs pertambangan dimanfaatkan sebagai pusat budaya dan mengubah pusat kekuatan lama – mahakarya arkeologi industri – menjadi rumah bagi pusat seni budaya untuk mempromosikan desain kontemporer di Jerman dan luar negeri.

Pembangkit tenaga listrik kuno ini menjadi pusat dari kelompok bangunan merah, dengan isian kaca industri dan bata merah. Struktur megah dengan cerobong asap menjulang tinggi dan aula yang luas, dirayakan di dalam kompleks bagaikan katedral zaman industri –  pembangkit tenaga listrik dan aula dengan proporsi kolosal. Tantangan proyek retrofit ini adalah mengadaptasi bangunan heroik, tanpa mengubah karakternya secara mendasar.

Langkah pertama adalah konservasi, mengembalikan fasada bangunan, menghilangkan tambahan renovasi untuk mengungkap bentuk aslinya. Nuansa industri berat pada bangunan dipertahankan. Salah satu dari lima boiler asli dilestarikan sebagai contoh teknologi tahun 1930-an. Boiler lainnya dilubangi menjadi galeri yang diartikulasikan sebagai ‘kotak di dalam kotak’, fleksibilitas disandingkan dengan kekokohan industri berat. Sebuah kubus beton yang bisa menjadi ruang konferensi serta ruang pameran yang fleksibel, dapat terus diperbarui sejalan dengan pergeseran koleksi dan program.

Pengunjung masuk melalui aula tengah yang dramatis di mana struktur baja berkarat dan dinding bata terbuka selalu terlihat di antara barang pameran – mulai dari mobil hingga peralatan rumahtangga. Area pameran yang berbeda, interaksi arsitektur lama dan baru menciptakan latar belakang yang bervariasi untuk lokasi pameran, sementara sifat pameran yang berubah-ubah itu sendiri menambah elemen dinamis lebih jauh pada interaksi ini.

The Ruhr Museum

Rancangan renovasi situs Zollverein, dengan mempertahankan kualitas budaya khasnya, berfokus pada pembangunan poros di sepanjang jalur rel antara tambang batu bara dan pabrik kokas, di mana jalur pejalan kaki, jalur sepeda, dan taman bermain terjalin dengan lanskap industri yang luas. Master plan disusun pada 2001 oleh Rem Koolhaas, arsitek terkenal dari Belanda.

Taman rekreasi baru ini dikelilingi bangunan-bangunan terbengkalai, rumput dan ilalang mulai tumbuh liar: hasilnya adalah pemandangan aneh, agak pasca-apokaliptik yang sunyi, sesekali terganggu oleh satwa liar, pelari, atau Bachelor party para penduduk lokal.

Jalan yang berkelok berakhir di pabrik kokas, bangunan utama taman ini: bangunan besar berkarat yang tercermin di bekas tangki pendingin; jembatan layang untuk mentransfer batu bara dan pipa pendukung sementara terowongan sedalam 1000 meter terbuka di bawah. Selain itu, ada 14 gondola “Skywheel”, atraksi kincir ria futuristik, yang membawa penumpang jauh ke dalam interior oven kokas kemudian terbang tinggi di atas lanskap Zollverein.

Pusat dari tambang batu bara adalah bekas pembangkit tenaga listriknya, bata merah dan struktur balok-I terbuka dengan proporsi yang monumental.

Rem Koolhaas berkolaborasi dengan arsitek lokal Heinrich Böll dan Hans Krabe untuk mengubah pembangkit tenaga listrik tersebut menjadi Museum Ruhr, pusat eksplorasi kekayaan sejarah kawasan ini melalui artefak geologi, arkeologi, dan fotografi. Bangunan asli sepenuhnya utuh, hampir 80% dari mesin berada di tempat aslinya, Koolhaas menciptakan sebuah monumen yang mengesankan, membuat satu tambahan mencolok: eskalator merah yang ikonik, mengarahkan pengunjung langsung ke kedalaman aula masuk yang luas.

Zollverein kini adalah pusat budaya, desain, dan sejarah industri yang semarak dan rumah bagi dua museum, Museum Ruhr dan Red Dot Museum Desain. Berbagai macam pameran, konser, teater dan pertunjukan, reading dan festival telah mengubah situs yang sebelumnya tertutup menjadi tempat umum yang semarak. Setiap tahun sekitar 1,5 juta tamu dari seluruh dunia mengunjungi situs ini. Banyak perusahaan dan institusi membuka usaha di sini.

Berikut ini cuplikan dari catatan nuansa pabrik terindah seorang pengunjung:

Sebuah kafe yang hangat melengkapi warisan dunia Industri Tambang Batubara Zollverein di Essen, Düsseldorf, Jerman. Pada sore Kamis yang gerimis, saya menikmati hidangan ikan dorada.

Kafe yang melegakan hati, setelah selama sekitar satu jam berjalan dari lantai ke lantai, ruangan ke ruangan di bangunan warisan dunia ini. Bangunan tambang batubara dan pabrik kokas ini, menyimpan banyak kisah.

Kokas diolah dari batubara untuk bahan bakar peleburan bijih besi dan bahan bakar. Mulai dibuka Februari 1847 dan sekarang usianya 176 tahun.

Salah satu kaki penting revolusi Industri di Eropa ini, tidak seperti pabrik apalagi tambang. Kami sampai di sini dalam keadaan sepi. Bukan sepi ternyata, kami masuk dari belakang rupanya.

Setiba dalam kawasan, langsung disergap bangunan dengan rancangan yang menakjubkan. Rumit dan tak tertirukan sampai hari ini.

Kawasan industri tersebut menyediakan informasi, sangat lengkap, di luar dugaan. Naik eskalator panjang dan tinggi ke lantai puncak, di sana terdapat berbagai cerita, juga tayangan video dalam satu meja. Tinggal pencet, keluar segela informasi. Tombolnya banyak, pilihlah salah satu, atau semua secara bergantian.

Ada puluhan buku tebal dan berat yang dijual. Juga pernak-pernik dan kartu pos. Tentu ada kafe dengan sajian kopi yang aduhai.

Di lantai manapun, tampak besi-besi pabrik, gerigi, roda, tuas dan entah apalagi. Juga ada foto-foto dan pakaian pekerja dan mandor dari Turki Utsmani yang sampai sekarang keturunannya hidup nyaman di Jerman.

Tambang dan pabrik ini, menurut Unesco tercantik di dunia. “Ini merupakan bukti material yang luar biasa dari evolusi dan industri penting selama 150 tahun terakhir,” tulis Unesco dalam situsnya.

Pabrik ini telah membangun rantai kebutuhan dunia akan energi dan ekonomi. Pada awalnya, demikian yang ditulis, arsitek Fritz Schupp dan Martin Kemmer mengembangkan Zollverein dalam bahasa grafik Bauhaus sebagai sekelompok bangunan yang memadukan bentuk dan fungsi dengan cara yang luar biasa.

Mesin-mesinnya, rel trem dan kereta api, roda kincir sebesar gaban, mesin-mesin, turbin, bor, menara besi menjulang, menyatu dalam mur dan baut membentuk satu bangunan yang kokoh dan unik.

“Inilah tambang terindah di dunia. Zollverein Essen jadi warisan budaya dunia UNESCO sejak 2001,” tulis Unesco. Sampai sekarang inilah komplek industri batubara terbesar dan termodern di dunia. Di masa puncak kejayaannya ada delapan ribu pekerja siang malam di sana. (catatan Khairul Jasmi, hariansinggalang.co.id)

[sumber: whc.unesco.org, archdaily.com, internationale-bauausstellungen.de, oma.com, fosterandpartners.com]

Leave a Comment