Skip to content Skip to footer

Indonesia Ibu Kota Kebudayaan Dunia, dialog dengan Nasir Tamara

Jauh sebelum bekerja sama dengan Bimantara untuk mendirikan Global TV, Nasir Tamara mengawali karir wartawan sebagai koresponden majalah Tempo di Eropa, akhir 1970-an. Waktu itu, ia masih kuliah di University of Paris, Prancis, mengambil gelar master bidang antropologi (selesai 1978) dan ilmu politik (1979) serta Ph.D. bidang ilmu sosial (1981).

Peliputan revolusi Iran, 1979, adalah pengalaman Nasir Tamara paling dramatis sekaligus menyenangkan sebagai wartawan. “Dalam perjalanan dari Paris ke Teheran, saya merasa sangat ketakutan,” tuturnya. Saat itu, ia satu pesawat dengan tokoh oposisi utama Iran, Ayatullah Khomeini. Khomeini datang ke Iran dari pengasingan pada saat rezim Syah Iran masih eksis. “Saya hanya khawatir bagaimana seandainya revolusi itu gagal,” lanjutnya. Dari liputan itu, ia menulis buku berjudul Revolusi Iran. Buku yang membanggakannya, karena berangkat dari reportase di lapangan. (sumber:ahmad.web.id)

Leave a Comment