“European Capital of Culture” adalah istilah yang diberikan kepada sebuah kota atau daerah yang diakui secara internasional sebagai pusat kegiatan seni dan budaya yang penting. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Uni Eropa pada tahun 1985, ketika Athena di Yunani dianugerahi status sebagai “Ibu Kota Kebudayaan Eropa” pertama.
Sejak itu, gelar “Ibu Kota Kebudayaan” diberikan oleh berbagai organisasi dan lembaga baik nasional, regional, higga internasional, untuk mengakui prestasi kota atau daerah dalam bidang seni, budaya, dan warisan. Pemilihan Ibu Kota Kebudayaan juga diselenggarakan untuk kota-kota di benua Amerika, Asia, kota-kota di negara-negara Arab juga di antara anggota ASEAN. Beberapa negara juga menyelenggarakan pemilihan Ibu Kota Kebudayaan-nya sendiri seperti Italia atau Indonesia..
Penerima gelar Ibu Kota Kebudayaan umumnya diharap memperlihatkan program kegiatan yang berkaitan dengan seni dan budaya dalam kurun waktu gelarnya, serta meningkatkan inklusivitas, pengenalan dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebudayaan. Ibu Kota Kebudayaan Eropa untuk tahun 2023 adalah Veszprém (Hongaria), Timişoara (Rumania) dan Elefsina (Yunani).

Gelar Ibu Kota Kebudayaan Eropa diberikan oleh Direktorat Jenderal Education, Youth, Sport and Culture Uni Eropa, untuk menonjolkan kekayaan budaya negara-negara anggotanya, meningkatkan rasa memiliki terhadap wilayah budaya bersama antar warga Eropa dan dengan demikian mendorong saling pengertian yang lebih baik .
European Capital of Culture berupaya untuk meningkatkan kesadaran bahwa ruang bersama budaya Eropa merupakan hasil kontribusi bersama dari berbagai negara dan kota, bahwa budaya Eropa itu merupakan hasil dari aktivitas budaya di suatu wilayah.
Dengan produk budaya lokalnya, kota dan kawasan yang menyandang predikat Ibukota Kebudayaan Eropa akan menjadi fokus perhatian, sehingga meningkatkan citra kota, meningkatkan efisiensi industri kreatif lokal dan daya tarik wisatanya.

Community building: berkontribusi pada koneksi strata sosial yang terfragmentasi dan yang tidak komunikatif.
Volunteering: Dengan melibatkan komunitas, membantu warga di wilayah tersebut dalam memperoleh pengalaman baru.
Tradition: mendukung pengembangan proyek dengan kesadaran akan nilai-nilai lokal, dan rancangan pengembangan yang menyertakannya.
Inovation: merangsang kebutuhan terhadap budaya dan ekonomi wilayah tersebut dengan menciptakan pasar baru dengan produk pasar danproduk intelektual.
Sustainability: menerapkan pengembangan yang membantu memodernisasi kawasan dengan cara melayani kepentingan lingkungan dan ekonomi jangka panjang kawasan tersebut.
Nilai-nilai yang diusung

Keterbukaan: memperkuat kohesi antar warga Uni Eropa, menciptakan sistem yang memfasilitasi pergerakan kreasi budaya, menekankan keanekaragamannya dan mendorong saling pengertian yang lebih baik.
Pengenalan: menawarkan kesempatan untuk memperkenalkan daerah yang kurang dikenal ke negara-negara Eropa lainnya.
Keterlibatan: membangkitkan minat masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah, sehingga meningkatkan ikatan antar masyarakat dan pemerintah kota.
Model: pengembangan kota yang mendapat gelar dapat menjadi model positif bagi pengembangan industri budaya di daerah lain.
Ada kesalahpahaman yang meluas mengenai program Ibukota Kebudayaan Eropa bahwa pengembangan dan realisasinya dibiayai oleh UE. Pada kenyataannya, UE hanya memberi gelar dan peluang. Investasi infrastruktur dan pengembangan program dibiayai oleh lingkungan nasional dan pemerintahannya sendiri. Umumnya mengandalkan perolehan dana dari tender, sponsor, dan dari penjualan sendiri.
Kontribusi tambahan dari Komisi Eropa berupa Melina Mercouri Award sebesar 1,5 Juta Euro diberikan pada akhir Maret tahun gelaran, dengan syarat kota yang ditunjuk tetap menghormati komitmen yang dibuatnya pada tahap pengauan proposal (Pasal 14 Keputusan 445/2014/EU).