Skip to content Skip to footer

Ketrampilan Nenek Moyang di Laut. Warisan Budaya Bahari.

Bencana kemanusiaan di Sumatera membangkitkan ingatan pada berbagai kearifan lokal dalam memelihara alam sebagai ibu bumi, sedangkan berbagai kesulitan dalam evakuasi dan pemberian bantuan mengingatkan akan budaya bahari dan rencana pembelian Giuseppe Garibaldi, kapal induk Italia sebagai sarana pelatihan, misi kemanusiaan dan distribusi bantuan ke wilayah pulau-pulau terluar. Dengan memiliki Giuseppe Garibaldi, Indonesia semakin siap untuk membangun kapal induk sendiri pada 2027.

Berita ini memberi secercah harapan pada kebangkitan bahari Indonesia.
Jika sebuah kapal induk yang dimodifikasi sebagai drone platform hadir sebagai pusat bantuan logistik dan kesehatan tentu akan mampu menjangkau pelosok-pelosok yang sulit dicapai perahu dan helikopter. Dan bagi generasi muda sekurangnya akan menarik perhatian terhadap warisan bahari, sejarah dan potensi ke depan budaya bahari Indonesia.

Kapal induk membutuhkan ribuan generasi muda usia 20an yang dilatih untuk memiliki kecakapan menangani kompleksnya berbagai pemasalahan. Dan di Indonesia Emas 2045 mereka akan menjadi calon-calon pemimpin yang sudah teruji, handal dan mengenal seluk beluk kepulauan Nusantara.

 

Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa
Angin bertiup, layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani, bangkit sekarang
Ke laut, kita beramai-ramai

Diciptakan oleh Ibu Soed, tokoh musik tiga zaman, guru musik sejak usia 17, lagu Nenek Moyangku ini terinspirasi dari ayahnya yang merupakan pelaut Bugis. Gaung lagu ini semakin lemah sampai ke telinga seiring ditinggalkannya laut selama puluhan tahun. Orang tidak peduli dengan laut, nelayan susah mencari ikan karena reklamasi dan praktek penangkapan ikan yang mengabaikan kearifan bangsa bahari, bantaran sungai-sungai menjadi pemukiman, ketika tsunami Aceh orang tidak lari menjauhi laut, semua itu menunjukkan bahwa pengetahuan kebaharian semakin dangkal.

Kapal perang Kesultanan Banten abad 16 – Theodore de Bry

Budaya Bahari seharusnya menjadi kebanggaan Indonesia yang harus dibangkitkan kembali. Budaya Bahari pernah berjaya bahkan sebelum kedatangan bangsa Eropa seperti kerajaan bahari Sriwijaya, Singhasari, Majapahit, Demak, Gowa-Tallo, Kerajaan Ternate dan Tidore, serta kesultanan Bacan.

Kerajaan dan kesultanan tersebut hidup dengan hukum dan aturan- aturan kebahariannya, misalnya Sriwijaya mengharuskan kapal asing yang berdagang di wilayahnya menggunakan kapal Sriwijaya, Kesultanan Makasar memiliki Amanna Gappa sebagai pedoman etika pelayaran dan perdagangan, dan orang Bali punya hak Tawan Karang (Taban Karang) yang menyita kapal-kapal yang kandas di perairan Bali dan mengatur penebusannya.

Kapal Pinisi – anotherorion.com

Dari Sabang sampai Merauke cerita-cerita pesisir dan bahasa pesisir masih hidup di setiap kampung nelayan, dalam bentuk pantun, doa, tarian, dan perahu-perahu yang dibuat tanpa paku. Perahu pinisi Bugis-Makassar, jong Jawa, lis-álas Aceh, hingga padewakang Mandar adalah bukti teknologi maritim tertua dan termutakhir pada masanya. Mereka berlayar hingga Madagaskar dan Australia ratusan tahun sebelum Eropa sampai ke Maluku.

Pengetahuan navigasi bintang, ramalan cuaca lewat awan dan burung, serta seni membangun kapal tanpa gambar teknik diturunkan secara lisan dari bapak ke anak, dari nakhoda ke anak buah kapal. Bukan sekadar keterampilan; itulah identitas.

Di Lamalera, Lembata, masih ada pemburuan paus tradisional yang menangkap menggunakan tombak bambu dan perahu paledang dengan sejumlah aturan, termasuk jenis paus yang boleh mereka tangkap.

Di Kepulauan Kei, ada Haewar, hukum adat dalam menjaga kelestarian alam termasuk penangkapan ikan dengan hukum adat yang lebih ketat dari undang-undang modern.

Di pesisir Jambi, suku Duano dan suku Bajo di Boalemo, Gorontalo, hidup di atas rumah rakit dan mengenal setiap alur arus seperti kita mengenal jalan ke rumah tetangga.

Anak-anak Bajo – radarmukomuko.bacakoran.co

Sebagian warisan budaya bahari itu beberapa tahun belakangan mulai dilestarikan. Di Wakatobi, anak-anak sekolah diajak membangun perahu mini sederhana sambil mendengar cerita leluhur Bajo dari kakek mereka. Di Banyuwangi, festival Gandrung Sewu mengajak ribuan penari menampilkan gerakan yang meniru ombak dan angin musim timur. Di Bulukumba, sekolah pinisi didirikan untuk mengajarkan kembali ilmu membuat kapal tanpa paku. Di Pulau Messah, Flores, komunitas muda menghidupkan kembali tradisi menenun ikat dengan motif laut sambil mengkampanyekan pelestarian terumbu karang.

Gaung cerita-cerita dari pesisir bisa terdengar ke seluruh Nusantara. Festival Tunas Bahasa Ibu di berbagai provinsi mendorong bahasa lisan dilestarikan menjadi tulisan. Remaja di Kepulauan Aru bisa menuliskan tentang arah angin dari bau laut pagi seperti yang dituturkan kakeknya. Gadis-gadis Aceh bisa menuliskan syair-syair mengantar suami melaut dari “hikayat prang sabi” yang disenandungkan ibunya saat menidurkan mereka. Pemuda Bugis bisa menulis cara membaca bintang yang diungkapkan oleh seorang kakek yang ditemuinya di pasar.

Budaya bahari bukan romantisme masa lalu, ia adalah modal hidup bangsa kepulauan yang sedang menghadapi kenaikan air laut dan perubahan iklim. Orang-orang yang

turun-temurun mengenal laut adalah penjaga terbaik bagi 17.000 pulau kita. Merekalah yang tahu kapan harus menanam mangrove, kapan harus melarang menangkap ikan, dan kapan harus pindah kampung sebelum bencana datang.

Susunan bintang-bintang masih sama seperti yang dilihat leluhur seribu tahun silam. Selama masih ada anak-anak yang mau mendengar Cerita Dari Pesisir, meneruskan dan menghidupkannya, maka budaya bahari Nusantara tidak akan pernah karam. Ia hanya menunggu kita kembali menarik layar, mengikuti angin yang sama yang pernah membawa nenek moyang kita menaklukkan samudra.

Sumber:
Rempah dan Budaya Bahari
Urgensi Penguatan Tradisi Bahari untuk Kelestarian Laut di Indonesia Timur
Tiga Budaya Bahari di Jawa Timur yang Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Budaya Bahari Nusantara: Salah Satu Warisan Leluhur yang Ada di Tepi Laut
Menjadi Bangsa Bahari yang Sejati
Kehidupan dan Aktivitas Budaya Bahari Nagari Airhaji

Leave a Comment