Depok — 26 November 2025, setelah keberhasilannya dalam melakukan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat di SDN 01 Semper Barat Jakarta Utara pada 2024, tim penugasan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat FIB UI yang diketuai oleh Dr. Isman Pratama Nasution kembali melaksanakan pengabdian di Kampung Tugu, Jakarta Utara.
Tim Cultural Caretakers 2025 yang beranggotakan 5 mahasiswa jurusan Arkeologi, FIB UI membawakan acara bertajuk ‘Krontjongan Kuy!’ untuk memberikan edukasi mengenai warisan budaya tak benda yang ada di wilayah tersebut, yakni musik Keroncong Gaya Tugu.

Keroncong dan Identitas
Keroncong adalah salah satu warisan budaya tak benda yang lahir dan berkembang melalui akulturasi dan perpaduan budaya yang ekstensif. Keroncong merupakan genre musik yang lahir di Kampung Tugu, Jakarta. Elemen utama yang menjadi kekhasannya adalah penggunaan alat musik khas Portugis sejenis gitar kecil yang mirip ukulele, yakni Prounga dan Macina. Suara khas yang dihasilkan oleh Prounga dan Machina adalah “Crong” dan dari sini lah nama Keroncong mulai dikenal. Dahulu masyarakat Kampung Tugu juga pandai dalam membuat alat-alat musik dengan bahan yang dipakai seperti kayu nangka, kayu waru, dan kayu kenanga.
Dengan berjalannya waktu, Keroncong beradaptasi dan berakulturasi ke berbagai daerah Nusantara. Selain gaya Tugu, gaya langgam dan gaya stambul juga memiliki ciri-ciri khas yang membuktikan bahwa musik keroncong dapat berkembang dan beradaptasi dengan luas. Lagu, tokoh, dan orkes keroncong telah menjadi bagian penting sejarah kebudayaan dan identitas Indonesia, seperti lagu-lagu karya Ismail MZ, Gesang, Maladi dan lainnya.
Krontjongan Kuy!
Rabu (26/11), tim melakukan kegiatan di SMPN 231, Priok, Jakarta Utara untuk memperkenalkan sejarah lahirnya musik Keroncong di Tanah Tugu sebagai upaya melestarikan keberlangsungan musik Keroncong. Kegiatan dilakukan dengan penampilan musik Keroncong secara langsung oleh KMI (Keroncong Muda Indonesia) yang merupakan grup musik Keroncong di bawah bimbingan Krontjong Toegoe. Selain bernyanyi bersama, anak-anak juga diperkenalkan alat musik yang digunakan dalam memainkan musik Keroncong, diajarkan dan diberi kesempatan untuk mencoba memainkannya, serta diberi pengetahuan terkait sejarah lahirnya musik Keroncong di Tanah Tugu, perkembangan, adaptasi dan makna keroncong dalam identitas Indonesia. Pemaparan materi dan diskusi mengenai Sejarah Musik keroncong diisi oleh Kemas Ayassy, salah seorang tim Pengabdian, dan Jana Roseline selaku biduanita muda dari KMI.

Seperti yang dicantumkan dalam booklet yang digubah oleh Tim Cultural Caretakers, kegiatan ini bertujuan bukan hanya sebagai upaya pelestarian namun juga sebagai surat cinta untuk Keroncong dan para ‘Buaya’-nya. Maskot yang didesain oleh Salsabila Arifah adalah buaya bernama Crongkodil yang memegang Macina. Pemilihan maskot ini mengambil inspirasi dari sebutan untuk orang yang sangat pandai dalam bermain Keroncong yakni ‘Buaya Keroncong’. Maskot tersebut diimplementasikan ke produk-produk souvenir yang dibuat sebagai kenang-kenangan untuk teman-teman SMPN 231 Jakarta.
Pendekatan Melalui Lagu
Lagu-lagu yang dibawakan oleh KMI mulai dari ‘Gatu du Matu’, ‘Jali-jali’, ‘Keroncong Kemayoran’, ‘Rayuan Pulau Kelapa’, hingga ‘Hujan Gerimis’ dinikmati dengan riang oleh para siswa dan guru yang hadir di aula tempat acara dilangsungkan. Tidak hanya ragam lagu daerah dan tradisional yang dibawakan, KMI juga membawakan lagu-lagu masa kini seperti ‘Stecu-Stecu’ dan ‘Tabola bale’ yang di-keroncong-kan. Anak-anak tampak sangat antusias dalam menyanyikan lagu-lagu tersebut bersama. Dimainkannya lagu masa kini yang dibawakan dengan gaya keroncong adalah bukti bahwa genre musik ini tetap relevan hingga masa kini. Keroncong bukanlah genre music yang kuno, melainkan sama seperti genre musik lainnya yang bisa dimainkan untuk lagu apa saja. Antusiasme siswa dalam mendengarkan dan mempelajari musik Keroncong seolah memberi harapan bahwa keberlangsungan musik Keroncong terutama gaya Tugu masih akan bertahan hingga masa depan. Tak hanya para siswa, para guru dan tenaga kerja sekolah pun turut menghadiri dan meramaikan ‘Krontjongan Kuy!’ dengan penuh keceriaan.

Keroncong dan Regenerasi Anak Muda
Setiap produk budaya memerlukan ide keberlanjutan serta keterlibatan aktif generasi muda agar tetap relevan dan hidup di tengah perubahan zaman. Selain KMI yang menjadi representasi nyata anak muda dalam upaya melestarikan Keroncong, De Meninas juga hadir, yakni sebuah kelompok pelajar tingkat SMP yang dengan semangat berlatih Keroncong sepulang sekolah. Dedikasi mereka menunjukkan bahwa minat terhadap Keroncong tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh pada generasi penerus. Baik KMI maupun De Meninas sama-sama menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap warisan budaya dapat diwariskan ketika anak muda diberi ruang untuk terlibat, berekspresi, dan mengapresiasi sebagai bagian dari identitas mereka.
Tim Cultural Caretakers berkaca dari rasa kepedulian tersebut, peran anak muda yang ikut serta melestarikan Keroncong dengan cara mengenalkan dan menyebarluaskan kepada anak-anak sekolah. Koordinator Pelaksana Kegiatan “Krontjongan Kuy!”, Naila Kinana mengatakan bahwa kegiatan Pengabdian Masyarakat ini memang disusun untuk berfokus mengenalkan Keroncong kepada anak-anak sekolah supaya dapat mewariskan dan menyerahkan peran ‘melestarikan’ kepada anak sekolah. “Musik Krontjong kan bisa mengikuti perkembangan zaman, mau pakai lagu yang viral sekarang pun bisa, bahkan kemarin sempat dimainkan lagu ‘Tabola bale’, dan anak-anak SMP-nya seneng luar biasa. Nah, yang perlu dilestarikan adalah bagaimana sejarahnya, alat musiknya dan genre ‘Keroncong’-nya supaya mereka tau musik Keroncong, khususnya gaya Tugu. Melestarikan ini kan juga mendukung supaya kita punya satu suara, bahwa Keroncong ini warisan budaya Indonesia yang harus sampai kepada generasi mendatang, jangan sampai hilang tanpa dikenal. Kita juga harus sembari mengenang dan mengapresiasi bagaimana masyarakat yang menjadi rumah dari “Keroncong Gaya Tugu” yakni Kampung Tugu sudah berjuang mempertahankan budaya Kroncong ini. Kroncong juga memerlukan ide terbaru milik anak muda supaya bisa bertahan mengikuti zaman dan beradaptasi. Oleh karena itu pengabdian ini bertujuan mewariskan bekal Kroncong kepada anak-anak sekolah supaya nanti mereka bisa melanjutkan tugas mereka untuk mempertahankan dan melestarikan Keroncong ini.” Ucap Naila, seusai kegiatan berlangsung.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 231 Jakarta, Ibu Seni Asiati, M.Pd., memberi tanggapan positif terkait keberlangsungan acara Krontjongan Kuy!. “Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi siswa-siswi SMPN 231. Melalui pendekatan yang menarik dan interaktif, para mahasiswa berhasil mengenalkan warisan budaya tak benda Keroncong Tugu dengan cara yang mudah dipahami dan menyenangkan. Antusiasme, kreativitas, serta kedekatan yang terjalin selama kegiatan membuat para siswa semakin termotivasi untuk mengenal dan melestarikan budaya Indonesia. Kehadiran para mahasiswa turut memberikan warna baru dalam proses pembelajaran dan membuka wawasan siswa mengenai pentingnya menjaga identitas budaya bangsa. Semoga mahasiswa Universitas Indonesia terus melanjutkan semangat pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam upaya pelestarian budaya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan dan dikembangkan agar semakin banyak generasi muda yang memahami nilai-nilai budaya lokal, termasuk Keroncong Tugu yang menjadi bagian penting dari sejarah dan keberagaman Indonesia. Semoga ilmu, inspirasi, dan pengalaman yang dibagikan dapat memberi dampak positif bagi siswa-siswi SMPN 231 dan menumbuhkan kecintaan mereka terhadap budaya bangsa.” Ucapnya.

Sebagai ketua Yayasan Rumah Budaya Michiels, Lisa Michiels memberi tanggapan “Kami sangat bersyukur bahwa Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh Mahasiswa dari FIB UI memilih untuk memperkenalkan musik keroncong dan budaya Kampung Tugu kepada anak-anak SMP Negeri 231 yang lokasinya berada di kawasan Kampung Tugu. Kegiatan ini merupakan kedua kalinya yang diselenggarakan oleh para mahasiswa ini. Kegiatan ini menjadi bagian dalam proses pelestarian dan pengembangan budaya Kampung Tugu sehingga diharapkan dapat meningkatkan peran masyarakat dalam turut serta menjaga dan melestarikan budaya Kampung Tugu khususnya musik keroncong. Masih sedikit yang mengetahui bahwa musik keroncong lahir di Kampung Tugu. Ironis bila guru dan siswa di lingkungan Kampung Tugu tidak mengetahui fakta sejarah ini. Harapannya apa yang dilakukan oleh para mahasiswa FIB UI dapat menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan untuk turut menjadi bagian dari pelestarian budaya Jakarta, khususnya budaya dari Kampung Tugu”

Melalui kegiatan Krontjongan Kuy! Tim Cultural Caretakers berharap bisa menjadi bagian dari pelestari budaya Krontjong Toegoe, serta akan terus melakukan kolaborasi demi mendukung Krontjong Toegoe untuk lebih maju.