Skip to content Skip to footer

Sambutan Sultan Hamengku Buwono X pada Rakernas XI JKPI 2025

AUDIO

Assalamualaikum Wr., Wb.,

Salam Damai Sejahtera bagi Kita Semua,

 

Yang saya hormati:

Ketua Presidium Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), Para Bupati/Walikota, Pimpinan Delegasi JKPI, seluruh Peserta Rakernas, dan Saudara sekalian.

Selama bertahun-tahun, kita telah berjalan bersama dalam semangat yang sama: menjaga pusaka bukan sebagai bekuan masa lalu, melainkan sebagai bagian penting dari masa depan. Dari satu Rakernas ke Rakernas JKPI berikutnya, dari satu kota ke kota lainnya, telah terbangun simpul-simpul pemahaman dan saling percaya. Kita saling berbagi strategi, berbagi tantangan, dan yang paling penting, berbagi kesadaran, bahwa menjaga pusaka adalah proses lintas generasi.

Namun, kita tentu sependapat, tantangan hari ini tidaklah sama seperti satu dekade lalu. Kita sedang menghadapi pergeseran yang jauh lebih cepat: dalam aspek sosial budaya, ekonomi, maupun cara manusia hidup dan berinteraksi dengan ruang. Konsekuensinya, di satu sisi, kita ingin setia menjaga nilai. Di sisi lain, kita tidak boleh menutup mata terhadap dinamika zaman, yang menuntut keterbukaan dan ketangkasan.

Maka Rakernas ini, menurut hemat saya, bukan hanya ruang untuk bertukar praktik baik. Melainkan, harus pula menjadi ruang refleksi yang jujur dan mendalam, karena di sinilah nilai jejaring diuji.

Refleksi yang jujur, artinya berani mengakui bahwa tidak semua pendekatan yang dulu berhasil, masih relevan hari ini. Dan refleksi yang mendalam, artinya bersedia menggali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, namun perlu ditanyakan, misalnya:

  • Apakah strategi pelestarian selama ini, sudah cukup melibatkan suara warga yang hidup di dalam kawasan pusaka itu sendiri?
  • Apakah regulasi dan kebijakan yang kita dorong, sudah memberi ruang untuk inovasi sembari tetap berpijak pada nilai?
  • Apakah pusaka kita benar-benar hadir dalam kesadaran generasi muda, atau hanya menjadi latar foto di media sosial?

Lebih jauh, ada sebuah tendensi dalam setiap upaya pelestarian, bahwa kita sering kali, —tanpa disadari—, lebih fokus pada yang tangible: pada bangunan, struktur, zona, kawasan. Dan perlahan-lahan, “lupa” pada yang intangible: nilai-nilai, ingatan kolektif, praktik hidup, dan makna yang membentuk jiwa dari tempat itu sendiri. Sehingga, penting bagi kita semua, untuk jangan sampai ikut terjebak dalam tendensi tadi, khususnya jika sejak awal misi kita adalah melestarikan yang tangible dan yang intangible.

Hadirin yang saya hormati,

Kami di DIY, mengalami sendiri bagaimana pusaka menghadapi tekanan ruang, desakan ekonomi, dan ekspektasi masyarakat yang terus berubah. Di tengah itu semua, kami belajar untuk menjaga pusaka tidak hanya sebagai objek, tetapi sebagai proses sosial yang hidup, serta yang harus terus dirawat lewat dialog, partisipasi, dan keberanian untuk membaca ulang konteks.

Kuncinya adalah bagaimana agar nilai-nilai dasar harus tetap menjadi jangkar. Tapi cara menjaganya perlu terus berkembang: lebih inklusif, lebih responsif, dan lebih berakar pada kesadaran kolektif masyarakat kota itu sendiri. Karena sejatinya, yang ingin dirawat bukan hanya objek, tetapi jati diri yang terus hidup di dalamnya.

Saya percaya, JKPI punya peran strategis untuk menjadi lokomotif dalam proses ini. Bukan hanya sebagai penjaga pusaka, tapi sebagai penggerak, yang mampu menempatkan warisan sebagai sumber daya nilai dalam membentuk masa depan kota: secara cerdas, beretika, dan kontekstual.

Sehingga, mari pastikan, bahwa Rakernas Jaringan Kota pusaka Indonesia 2025, dapat memantapkan arah bersama, agar pelestarian yang kita lakukan bukan hanya reaktif, administratif, atau simbolik, melainkan benar-benar menyentuh jantung kehidupan masyarakat. Sebab kota pusaka adalah kota yang hidup dan menghidupi; yang bukan hanya berdiri, tapi juga bermakna.

Sekian dan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 06 Agustus 2025

Leave a Comment