Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seminar Nasional Resiliensi Kawasan Cagar Budaya

Sebagai upaya mendorong keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan Kawasan Cagar Budaya, Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kota Jogja menyelenggarakan Seminar Nasional pada hari Rabu 8 Mei 2024.

Seminar ‘Resilience of Cultural Heritage Areas to Encourage Sustainable Community Empowerment’ (Resiliensi Kawasan Cagar Budaya Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan), digelar di Graha Sabha Ballroom Kimaya Hotel Yogyakarta,

Brahmantara S.T., M.A. (Ketua Tim Pengembangan Bisnis Pemasaran dan Pemanfaatan Aset BLU di Museum dan Cagar Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan KEMENDIKBUDRISTEK) sebagai narasumber, menyoroti pemanfaatan teknologi digital untuk pelestarian warisan budaya dalam pendokumentasian warisan budaya. Informasi dan dokumentasi diperlukan sebagai sarana pengetahuan, pemahaman tentang suatu arti dan nilai-nilai dari keberadaan suatu objek warisan budaya.

Diuraikan mengenai Teori Warisan Digital, identifikasi dan interpretasi terhadap informasi sejarah dan nilai budaya yang tertanam dalam warisan budaya yang menjadi kunci dalam pembentukan jati diri bangsa; Etika Kerja Warisan Digital; serta Pelestarian Digital berupa replika digital warisan lanskap budaya.

Sementara narasumber Nanang Asfarinal  (Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia) mengetengahkan pentingnya ketahanan budaya karena pada masa ini terjadi distorsi budaya dan kurangnya pemanfaatan teknologi sebagai bahan pendukung. Disampaikan bahwa Kota Tangguh adalah kota yang menilai merencanakan dan bertindak untuk bersiap dan menanggapi bencana, baik alami maupun ulah manusia, baik secara tiba-tiba maupun perlahan baik diduga maupun tak terduga. Distorsi budaya mengakibatkan hilangnya nilai-nilai yang telah diyakini dan menjadi tradisi di suatu masyarakat atau bangsa.

Diungkapkan bahwa dari enam Warisan Budaya Dunia, dua berada di Indonesia yaitu Kota Sawahlunto dan Yogyakarta. Dalam mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia perlu diperhatikan regulasi, sebab dari 169 sasaran SDGs hanya 1 yang membahas tentang budaya, sementara di Indonesia terdapat beberapa UU terkait yaitu UU No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Nanang Asfarinal juga menyampaikan Indonesia membutuhkan adanya Badan Pengelola Kawasan Warisan Dunia seperti di Malaysia ada George Town World Heritage Incorporated dan PERZIM; Malay: Perbadanan Muzium Melaka. Kolaborasi antara pemerintah, media, dunia usaha, komunitas dan akademisi juga dibutuhkan untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Narasumber berikutnya, Ir. Aman Yuriadijaya, M.M (Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta) menyampaikan bahwa kebudayaan muncul bagaikan sebuah ekosistem yang didalamnya didorong oleh manusia, teritorial dan interaksi. Agar ekosistem menjadi sehat, komitmen dari masyarakat dan pemerintah dengan interaksi yang kuat menjadi kuncinya. Disbud Kota Yogyakarta dapat memberi ruang ekosistem, unsur struktural dari ekosistem dari teritorial dengan lahirnya rintisan kelurahan budaya.

Tidak hanya berhenti pada interaksi untuk mendukung ekosistem, namun kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah juga diperlukan. Profesionalisme dan kolaborasi semua unsur yang konsisten guna menyeimbangkan warisan budaya dengan pariwisata budaya dan warisan alam yang berkelanjutan.

Dia berharap, status warisan dunia akan banyak menarik investor dan menciptakan ruang legal. Sehingga, warisan budaya tak benda merupakan kekuatan besar bagi kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan warisan dunia

Seminar dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), dan beberapa civitas akademik dari perguruan tinggi.

Selain menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Festival Ruang Masyarakat Ketemu (RUMAKET) 2024, seminar ini juga merupakan persiapan Kongres Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di imana Kota Jogja menjadi tuan rumah dari 73 kepala daerah/mewakili dari Kabupaten/Kota anggota JKPI di seluruh Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti S.Sos., M.M. berharap, melalui pelestarian Kawasan Cagar Budaya, Kota Jogja memiliki aksi meregenerasi Kota dan wilayah melalui warisan budaya, seperti mempromosikan penggunaan kembali bangunan bersejarah secara adaptif dan menyeimbangkan akses terhadap warisan budaya dengan pariwisata budaya dan warisan alam yang berkelanjutan. “Harapannya kegiatan ini dapat membangun ekosistem budaya yang tidak hanya berkutat pada pembuat dan sasaran dari sebuah kebijakan melainkan melakukan sinergi bersama masyarakat dan komunitas budaya,” kata Yetti.

Diharapkan Kota Jogja dapat menjadi based practice pengelolaan KCB yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, menambah wawasan untuk bersama mendorong dan mengembangkan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan untuk mendukung pelestarian warisan budaya.

Foto: Dinas Kebudayaan Kota Jogja

Sumber: Dinas Kebudayaan Kota Jogja, warta.jogjakota, RRI, senangsenang, akurat.

Leave a Comment

https://indonesiaheritage-cities.org/