Oleh : Asfarinal (Mahasiswa Doktoral Arkeologi UI)

Beberapa waktu yang lalu penulis menyempatkan diri tinggal di sekitar kawasan jalan Beijing Road. Beijing Road (Jalan Beijing) di Guangzhou adalah pusat bersejarah kota dengan usia lebih dari dua milenium. Kawasan ini merupakan sumbu kota tradisional yang telah ada sejak didirikannya kota Panyu (kini Guangzhou) pada zaman Dinasti Qin–Han. Sebagai daerah perkotaan yang kontinu (tidak berpindah) sejak abad pertama SM, Beijing Road merekam lapisan sejarah kota. Pemerintah lokal bahkan telah menetapkan sebagai situs cagar budaya terdaftar (tabel peringatan di tempat). Peraturan pengelolaan kawasan pedestrian Beijing Road menekankan proteksi warisan dan promosi budaya dalam pengembangannya. Dengan kata lain, pihak berwenang menganggap penting agar ruang ini tetap melestarikan dan mengkomunikasikan konteks sejarahnya.

Lapisan Sejarah Terungkap
Pada tahun 2002–2003, saat renovasi trotoar Beijing Road, arkeolog menemukan situs “Jalan Kuno Millenium” yang mengungkap lapisan-lapisan jalan bersejarah hingga kedalaman 3 meter. Dalam penggalian itu ditemukan sisa fondasi Gongbei Lou – menara gerbang tua dari era Song–Ming–Qing – serta 11 lapis permukaan jalan silih berganti dari Dinasti Tang hingga era Republik Rakyat Tiongkok. Penemuan ini sangat langka dalam praktik arkeologi perkotaan Tiongkok; sekumpulan jalan kuno yang “saling tertekan bertahun-tahun dengan sejarah milenia” di pusat kota memukau dunia arkeologi.

Temuan struktur in situ menunjukkan lubang-lubang tiang dan pondasi bangunan berukuran besar, mengindikasikan bangunan tingkat tinggi. Misalnya, sisa penopang menara kota era Ming–Qing, serta fondasi gerbang berpilar dari Dinasti Song, ditemukan berlapis-lapis. Temuan lain meliputi fragmen dinding kota dinasti-dinasti Awal China Selatan (Han Timur, Jin, Nan) dan peninggalan tanggul tepi Danau Barat kuno. Kesemuanya membentuk stratigrafi perkotaan: lapisan-lapisan budaya material yang tebal, mulai dari pondasi awal hingga ke lapisan terkini, yang “menceritakan sejarah” perkembangan kota Guangzhou. Dalam kata lain, Beijing Road berfungsi sebagai palimpsest arkeologis, lapisan-lapisan yang terus ditulis dan dihapus oleh generasi demi generasi.
Teori Arkeologi Perkotaan: Stratifikasi dan Palimpsest
Pendekatan arkeologi perkotaan memandang kota sebagai akumulasi sisa-sisa materi berlapis. Penggalian kota tua biasanya menghasilkan stratigrafi tebal yang “menceritakan sejarah” kota tersebut. Teori stratifikasi menegaskan bahwa artefak dan konstruksi suatu masa terpendam di bawah lapisan selanjutnya. Sementara itu, konsep palimpsest urban menggambarkan kota sebagai manuskrip berlapis: sebuah “naskah” ruang yang dikoreksi berulang. Sebagaimana arkeolog Gavin Lucas catat, istilah palimpsest “ adalah kerangka kerja penting untuk memahami bagaimana lanskap, termasuk lanskap perkotaan, secara fisik merekam dan menyimpan jejak sejarah serta memori. Artinya, setiap lapisan material (dinding, jalan, objek) membawa jejak kenangan kolektif.

Pendekatan teoritis lain, dari Henri Lefebvre, melihat ruang kota sebagai produk sosial yang kompleks. Lefebvre menyatakan bahwa “ruang bersifat nyata sebagaimana komoditas nyata, karena ruang (sosial) adalah produk (sosial)”. Ruang kota terdiri atas tiga tingkatan konseptual yang saling dialektis: ruang yang dipraktikkan (lived space), yang dipersepsi (perceived space), dan yang dikonsepsikan (conceived space). Dalam konteks Beijing Road, kita dapat mengartikan wilayah ini tidak hanya sebagai objek komersial, tetapi juga arena sosial-politik bersejarah. Ruang pedestrian modern dikonsepsikan oleh perencana kota, diisi kenangan (lived) penduduk lokal, dan dipersepsi oleh pengunjung sebagai jalinan masa kini–masa lampau.
Membaca Kota Melalui Materialitas

Materialitas bangunan dan artefak di Beijing Road memberi dimensi lain pada pembacaan sejarah. Benda-benda yang digali seperti genteng, keramik, dan fragmen tembok (terlihat tersusun di atas meja pameran) bukan hanya “barang mati”: mereka adalah media pembawa makna sosial. Teori materialitas dalam arkeologi menyatakan bahwa benda material ikut membentuk identitas kolektif. Misalnya, fondasi menara Gongbei dan drum stone (batu tonggak menara) dari era Ming memperlihatkan ketinggian bangunan kota masa lalu, sementara pola setapak batu (dari era Dinasti Song) menunjukkan teknik pemadatan jalan kuno. Jejak jalan kayu dan marmer pun terlihat, menghubungkan lanskap perkotaan dengan aspek ritual maupun fungsi perdagangan di masanya. Setiap fragmen artefak “bercerita” tentang kebiasaan dan nilai masyarakat terdahulu, sesuai gagasan materialitas bahwa elemen-elemen fisik terikat pada memori kolektif.
Pelestarian dan Pengelolaan Ruang Historis

Sebagai respons atas kekayaan stratigrafi itu, pemerintah Guangzhou menerapkan kebijakan pelestarian berlapis. Misalnya, regulasi manajemen Kawasan Pejalan Kaki Beijing Road secara eksplisit menekankan “perlindungan warisan, pembagian manfaat, dan promosi budaya” dalam upaya revitalisasi.
Hal ini mencerminkan prinsip Lefebvre bahwa ruang yang dikonsepsikan harus menghormati konteks historis sosial. Di lapangan, penggalian arkeologi diselaraskan dengan proyek perlindungan situs. Setelah penemuan situs Xiaomazhan–Liushuijing baru-baru ini, otoritas setempat berkomitmen untuk melindungi relik arkeologi penting tersebut in situ. Dengan kata lain, lapisan-lapisan kota yang terkuak tidak kemudian dikonfiskasi, melainkan tetap dipertahankan di tempatnya untuk dipamerkan (misal dalam panel kaca di trotoar) – konsep yang memungkinkan ruang purbakala “hidup kembali”.

Pada akhirnya, pendekatan ini menggabungkan pelestarian fisik dengan penghidupan budaya. Representasi ruang (misalnya papan informasi, museum bawah tanah) dan ruang yang dialami (area pejalan kaki, jalan bersejarah) diselaraskan. Masyarakat lokal juga dilibatkan, agar memori kolektif sebagai aspek ruang yang dihayati tetap terjaga. Dengan demikian, Beijing Road berfungsi sebagai eksibisi palimpsest perkotaan yang berjalan: lapisan historis aktif diintegrasikan dalam kehidupan kota modern. Strategi ini memastikan bahwa transformasi arsitektural (dari petak kuno menjadi kawasan komersial modern) tidak memutihkan masa lalu, melainkan menjadikannya substrat makna bagi ruang publik hari ini.
Ditulis dimeja sudut Warung Marc FIB UI

Disarikan dari berbagai kumpulan bacaan selama di Guangzou, seperti Guangzhou- Chinadaily.com.cn dan news.southcn.com. dan beberapa sumber lainnya
