Skip to content Skip to footer

Mengembangkan Tata Kelola Kota Pusaka yang Efektif: Studi Kasus Kota Melaka dan George Town

Melaka dan George Town, kota bersejarah di Selat Malaka, telah berkembang selama lebih dari 500 tahun melalui perdagangan dan pertukaran budaya antara Timur dan Barat di Selat Malaka. Pengaruh Asia dan Eropa telah menganugerahi kota-kota ini dengan warisan multikultural yang khas, baik yang bendawi maupun takbenda.

Dengan gedung-gedung pemerintahan, gereja-gereja, alun-alun, dan benteng-bentengnya, Melaka menunjukkan tahap awal sejarah ini yang berawal dari kesultanan Melayu abad ke-14 dan periode Portugis dan Belanda yang dimulai pada awal abad ke-16. Dengan bangunan-bangunan perumahan dan komersial, George Town mewakili era Inggris dari akhir abad ke-18. Kedua kota ini membentuk lanskap kota dengan arsitektur dan budaya yang unik dan tak tertandingi di Asia Timur dan Tenggara.

Nilai Universal yang Luar Biasa (Outstanding Universal Value – OUV) dari kota Melaka dan George Town, Malaysia, adalah sebagai contoh luar biasa kota-kota kolonial di Selat Malaka yang menunjukkan rangkaian pengaruh sejarah dan budaya yang muncul dari fungsi sebelumnya sebagai pelabuhan dagang yang menghubungkan Timur dan Barat.

Kedua kota ini merupakan pusat kota pusaka terlengkap yang masih bertahan di Selat Malaka dengan warisan hidup multikultural yang berasal dari jalur perdagangan dari Britania Raya dan Eropa melalui Timur Tengah, anak benua India, dan Kepulauan Melayu hingga Tiongkok.

Sungai Melaka – sgjbtaxis.com 2025

Kedua kota ini menjadi saksi warisan dan tradisi multikultural Asia yang hidup, tempat berbagai agama dan budaya bertemu dan hidup berdampingan. Kedua kota ini mencerminkan perpaduan unsur-unsur budaya dari Kepulauan Melayu, India, dan Tiongkok dengan unsur-unsur budaya Eropa, untuk menciptakan arsitektur, budaya, dan lanskap kota yang unik

Kota Melaka dan George Town pada tahun 2008 bersama-sama tercatat dalam Daftar Warisan Dunia  karena kayanya warisan perdagangan multikultural. Namun, kedua kota ini juga menghadapi kritik dan perasaan ‘terputus’ antara penduduk dan warisan mereka, yang dikaitkan dengan budaya asing dan kolonialisme.

Pariwisata di Malaysia meningkat bahkan sebelum kedua kota ini terdaftar. Sepanjang dekade 2000-2010, jumlah kunjungan wisatawan meningkat dari 10,2 juta menjadi 24,6 juta. Pada tahun 2024, kota Melaka, ibu kota negara bagian Malaka, dikunjungi 12,32 juta wisatawan dan 8,2 juta wisatawan mengunjungi Penang di mana George Town merupakan ibukotanya. Lonjakan ini memunculkan ketegangan antara pariwisata, pembangunan infrastruktur, serta persyaratan situs Warisan Dunia dan perlindungan Nilai Universal Luar Biasa (OUV – Outstanding Universal Value ).

Strategi pariwisata di kedua kota ini dijalankan oleh sebuah konsorsium pemangku kepentingan dari berbagai bidang terkait warisan budaya dan pejabat pemerintah yang mendorong pendekatan partisipatif, mempertimbangkan pandangan masyarakat dan pemangku kepentingan. Dalam revitalisasi kawasan tersebut, ‘ruko’ tradisional dimanfaatkan kembali secara adaptif – seperti kafe dan restoran – sementara beberapa di antaranya dimanfaatkan untuk homestay.

Prioritas dalam strategi mereka antara lain:

  • Menjadikan warisan budaya relevan dan bermakna bagi penduduk kontemporer.
  • Melindungi fitur-fitur tradisional George Town dan Melaka yang berperan penting dalam mengamankan status Warisan Dunia dan diakui memiliki OUV (misalnya, ‘ruko’ didefinisikan sebagai ‘struktur unik yang secara jelas menunjukkan pengaruh gaya Tionghoa, Melayu, India, dan Eropa, yang menyatu dan berkembang sebagai respons terhadap lingkungan setempat’.
  • Memastikan kelayakan ekonomi ruko, dengan tetap mempertahankan fasada tradisionalnya.
  • Membangun sistem tata kelola yang memfasilitasi prioritas tersebut di atas.

Sejalan dengan pengakuan OUV-nya, warisan-warisan Melaka dan George Town didefinisi ulang sebagai ‘wisata budaya’, dengan fokus pada kota pusaka alih-alih wisata pantai yang menjadi ciri khas Malaysia. Di Melaka, Melaka World Heritage Office, dan di George Town, George Town World Heritage Incorporated (GTWHI), mengelola, memantau, dan mempromosikan fitur-fitur Warisan Dunia kota, bekerja sama dengan Perbadanan Muzium Melaka (PERZIM), Majlis Bandaraya Melaka Bersejarah (MBMB), Jabatan Warisan Negara dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pakar konservasi, serta sejarawan dan praktisi seni. Disusun program kegiatan pendidikan dan budaya. Para pemilik properti, arsitek, dan pengembang disarankan untuk menyelenggarakan lokakarya pengembangan keterampilan melibatkan anak-anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat umum melalui diskusi dan kegiatan.

George Town – Trip.com

Di George Town, pemanfaatan kembali bangunan pusaka secara adaptif didorong untuk menghasilkan kehidupan baru bagi bangunan, sesuai dengan konsep ‘Kota Pusaka yang Hidup – The Living Heritage City ’. Banyak bisnis tradisional yang sudah tidak ada lagi (semisal tukang sepatu), ruko-ruko kini menjadi kafe, restoran, dan toko di mana warga setempat secara langsung memperoleh manfaat dari masukan ekonomis pengunjung. Penelitian telah membantu menetapkan contoh-contoh positif pemanfaatan kembali yang adaptif – yang meningkatkan stabilitas dan daya tahan bangunan – namun juga yang merugikan konservasi. 

Rencana pengelolaan kota Melaka juga mengakui perlunya membentuk visi bersama melalui kemitraan antara sistem pengelolaan warisan budaya dan pariwisata budaya. Untuk melestarikan sumber daya warisan dan menonjolkan keunikan lokal, monumen dan bangunan seperti masjid, candi, dan hotel digunakan sebagai pusat interpretasi. Terdapat juga pedoman ketat terkait bangunan baru, dan bangunan tersebut tidak boleh dibangun dengan cara yang dapat mengurangi OUV situs.

Pada tahun 2012, Melaka menyelenggarakan konferensi yang menghubungkan pariwisata, warisan, dan budaya. Konferensi ini memberi kesempatan bagi para pendidik internasional, profesional industri, pembuat kebijakan, dan mahasiswa pascasarjana untuk membahas model praktik terbaik pemanfaatan situs Warisan Dunia untuk tujuan pariwisata.

Pada tahun 2021 bersama Organization of World Heritage Cities dilaksanakan proyek Improvement and Conservation of Historical Urban Environment. Karakter kuat dan unik kota tua Melaka adalah keberadaan ruang publik di tengah kota, Alun-alun Belanda yang merupakan landmark penting di kota Melaka. Tujuan proyek ini adalah menciptakan lebih banyak ruang yang serupa dengan Alun-alun Belanda atau ruang terbuka untuk umum; memprioritaskan jalan-jalan di kota untuk pejalan kaki sebagai ruang bersama dengan pengguna jalan lainnya; meningkatkan konektivitas dengan area tepi laut; penghijauan kota untuk mengurangi efek pulau panas, menciptakan suasana yang lebih sejuk, dan meningkatkan kenyamanan pejalan kaki. serta peningkatan dan pemanfaatan ruang publik.

Alun-alun Belanda – OWHC 2021

Proyek ini menyatukan Pemerintah Daerah, Dewan Kota, dan Otoritas Pariwisata Daerah untuk bekerja sama dalam meningkatkan profesionalisme produk pariwisata, kawasan warisan budaya, serta profesionalisme operator tur dan pemandu wisata; sekaligus memperkenalkan sistem perolehan pendapatan yang lebih baik untuk menguntungkan penduduk setempat. Proyek ini menjadi model dan contoh penyusunan Rencana Peningkatan Kota bagi Pemerintah Daerah lain, khususnya yang berupaya memperoleh pengakuan dari Jabatan Warisan Negara dan status Warisan Dunia.

Terdapat ketidakpercayaan yang signifikan terhadap pemerintah negara bagian Penang dan Malaka, yang diyakini lebih mementingkan pembangunan skala besar daripada perlindungan lanskap kota tradisional WHS, misalnya, segera setelah status Warisan Dunia diberikan kepada George Town, OUV-nya langsung terancam oleh pembangunan hotel.

Tantangan lain adalah anggapan bahwa warisan yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia di George Town dan Melaka dianggap ‘tidak khas Malaysia’, mengandung nilai-nilai kolonial yang kemudian menjadi kafe dan restoran bergaya barat modern, menggantikan bisnis keluarga tradisional yang dijalankan di ruko-ruko bersejarah.

Para penghuni baru di kawasan kota tua Melaka dan George Town yang telah direvitalisasi didorong untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan melalui komite warga. Sebagian pendapatan dari pariwisata dialokasikan untuk tujuan konservasi. Berdasarkan penelitian terbukti bahwa 85% wisatawan bersedia berkontribusi pada segala bentuk pajak khusus jika digunakan untuk meningkatkan upaya konservasi di sekitar situs Warisan Dunia.

Keberhasilan skema kolaboratif pemangku kepentingan dan tata kelola dapat diukur melalui kepuasan wisatawan dan persepsi tentang ‘layakhuni’ yang sangat penting, karena salah satu tujuan utama rencana pengelolaan adalah menyeimbangkan kebutuhan penduduk lokal dengan OUV yang disajikan kepada pengunjung. ‘Kelayakhunian’ merupakan hal yang sulit diukur, tetapi upaya telah dilakukan untuk menilai faktor-faktor ini melalui survei warga di George Town, yang menemukan bahwa kelayakhunian telah meningkat terutama berkat peningkatan kohesi sosial dan kondisi ekonomi dari sektor pariwisata. Sementara  survei 2012-13 di Melaka menunjukkan bahwa penyajian elemen warisan budaya melebihi ekspektasi wisatawan, menunjukkan bahwa sistem tata kelola telah berhasil melestarikan struktur dan fitur bersejarah yang berkontribusi terhadap OUV Melaka.

Kampung Morten, Melaka – expatgo.com

Pelajaran dari kasus Melaka dan George Town adalah menciptakan beragam pemangku kepentingan yang diberi platform – melalui pembentukan organisasi khusus yang bertanggung jawab atas pengelolaan warisan, juga melalui integrasi konsultasi pemangku kepentingan sebagai standar dalam rencana pengelolaan. Hal ini memungkinkan warga untuk berbagi visi mereka tentang Situs Warisan Dunia dan mengidentifikasi peluang apa yang ingin mereka manfaatkan, serta berbagi pengalaman mereka sendiri tentang bagaimana keputusan pengelolaan memengaruhi masyarakat dalam jangka panjang.

Melaka dan George Town juga menunjukkan pentingnya OUV sebagai objek wisata, dan bagaimana memanfaatkan OUV sebagai alat pemasaran untuk menarik jenis pengunjung tertentu yang akan menghargai karakteristik yang ditonjolkan oleh Situs Warisan Dunia; alih-alih hanya menganggapnya sebagai destinasi wisata biasa.

Sikap pengunjung dan warga dapat, dan harus, dipantau secara berkelanjutan. Respons yang dihasilkan kemudian dapat digunakan untuk membentuk kebijakan dan memastikan bahwa metode tata kelola sesuai dengan tujuannya. Di Melaka dan George Town, survei telah dilakukan oleh lembaga dan individu eksternal, dan survei tersebut menunjukkan kolaborasi dan sumber daya yang lebih luas yang dapat digunakan oleh pengelola lokasi dalam menilai dampak tata kelola dan kebijakan mereka. 

PDF: Jalan Menuju Melaka sebagai Pusat Seni Budaya
Melaka. The Importance of Heritage Conservation Management,
Integrating Family Business Values into Cultural Heritage Stewardship at Malacca Heritage World Site,
Reframing Authenticity in Melaka,

Sumber: UNESCO: Malaysia Tourism Statistics, Bernama.comOWHC 

Leave a Comment