Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Mbaru Niang Dianugerahi Award of Excellence oleh UNESCO

Desa Wae Rebo berada di atas awan, di ketinggian 1.200 meter di pegunungan, 26 km dari Rueng, Manggarai, Flores. Pusat desa mungil ini terdiri dari 7 rumah bertingkat atau mbaru niang yang disusun berbentuk U di sekeliling altar, dan mampu menampung separuh dari 300an penduduknya..

Pada 27 Agustus 2012, UNESCO memberi penghargaan untuk mbaru niang, rumah di desa Wae Rebo, berupa Award of Excellence, anugerah tertinggi dalam UNESCO Asia-Pacific Awards for Cultural Heritage Conservation 2012. Penghargaan diberikan kepada mbaru niang karena upaya konservasi dilakukan masyarakat setempat dengan inisiatif dari Yayasan Rumah Asuh.

Dalam siaran persmya UNESCO menyebutkan, penghargaan tertinggi untuk mbaru niang menandai bentuk pengakuan baru bagi konservasi arsitektural yang mendasarkan pada warisan tak benda dan pengetahuan setempat.

Arsitek Yori Antar yang juga Ketua Yayasan Rumah Asuh mengatakan, konservasi mbaru niang sepenuhnya dilakukan masyarakat setempat. Yayasan Rumah Asuh membantu mencarikan dana, memberi saran cara konservasi, serta melakukan dokumentasi.

Ketika Yori dan tim tiba di Wae Rebo, hanya tersisa empat dari tujuh rumah yang diwariskan turun-temurun. Praktis saat itu tidak ada yang mengetahui cara membangun rumah berbentuk kerucut itu. Melalui diskusi dengan warga desa penghuni keempat rumah tradisional itu, disepakati membongkar tahap demi tahap rumah yang akan diperbaiki.

”Ketika membongkar itulah, tiap orang di desa tersebut dapat pengetahuan baru cara membangun rumah mereka. Pengetahuan itu dipakai membangun rumah baru sehingga pada tahun 2011 jumlahnya kembali lengkap tujuh rumah,” papar Yori,.

Saat itu Ny Lisa Tirto Utomo membantu konservasi dua rumah, sedangkan Arifin Panigoro dan Laksamana Sukardi masing-masing membantu untuk satu rumah.

Kebudayaan Rumah-rumah asli Indonesia sejatinya bukan sekadar bangunan, melainkan juga kebudayaan karena mencerminkan lingkungan hidup, kepercayaan, dan cara hidup komunitas setempat. Mengonservasi rumah-rumah Nusantara berarti menjaga budaya yang hidup di masyarakat. Karena itu, kegiatan Rumah Asuh juga melibatkan mahasiswa dan sejumlah lembaga pendidikan arsitektur untuk belajar dan mendokumentasikan kearifan lokal.

Menurut legenda masyarakatnya, nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau.yang bernama Empo Maro berlayar hingga ke Labuan bajo, melarikan diri dari kampungnya karena difitnah dan ingin dibunuh. Maro merantau ke beberapa kota, lalu menemukan seorang istri dan mengajak istrinya ikut berpindah bersamanya. Pada suatu malam Maro bermimpi bertemu dengan seorang petua yang menyuruhnya untuk menetap dan berkembang. Maro dan isteri kemudian mencari tempat, dan menemukan sebuah dataran luas tersembunyi di pegunungan, Maro dan istri hidup dan menetap di sana, keturunannya kini sudah mencapao generasi ke 18. Maro telah mewariskan teknik pembangunan mbaru niang yang akhirnya diganjar penghargaan oleh UNESCO.

Sumber: Wikipedia, Kompas, JPNN

 

 

Leave a Comment

https://indonesiaheritage-cities.org/