Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Salzwelten, Tambang Garam berusia 7.000 tahun.

Sebuah desa mungil di kaki gunung Salzberg, pegunungan Salzkammergut, Austria, memiliki keindahan yang menakjubkan dan merupakan bagian dari pusaka dunia yang perlu dilestarikan, World Heritage Hallstatt-Dachstein / Salzkammergut Cultural Landscape. Diregistrasi UNESCO pada tahun 1997,

Hallstatt, desa di tepi Danau Hallstätter ini pertumbuhan populasinya tidak banyak, tahun 1990 tercatat 680 jiwa, kini tercatat 799 jiwa di wilayah seluas 60 km persegi, keseluruhan desa bisa dikelilingi dalam 10 menit bejalan kaki.

Lanskap ini ternyata sudah diviralkan sejak abad ke-19 oleh para pelukis dan penulis novel, yang dengan kepiawaian dan gaya masing-masing membagikan rasa takjub mereka terhadap keindahan alam Austria ini. Orang pun mulai berkunjung, hotel-hotel bertumbuhan bahkan juga pemandian air asin.

Johann Wilhelm Jankowsky, Lakeside Village, 1800's

Status sebagai World Heritage meningkatkan popularitas Hallstatt hingga setiap hari selalu saja ada wisatawan yang berkunjung, mencapai 100 orang per hari. Dari tahun 2000 hingga 2006 tercatat berkisar sekitar 20.000an kunjungan per tahunnya (Statistics Dept. Office Provincial Government Upper Austria).

Pada tahun 2007 terjadi lonjakan luar biasa, lebih dari 30.000 kunjungan, sekitar 2.000 orang per hari di puncak musim, sebagian besar berasal Asia. Ternyata peningkatan kunjungan itu merupakan dampak popularitas Spring Waltz, drama Korea yang ditayangkan pada  2006. Tinggi kunjungan relatif stabil di 30.000 kunjungan hingga tahun 2010.

Poster Spring Waltz, 2006

Minmetals Land Limited, salah satu perusahaan metal terbesar dari negeri Cina diam-diam membangun replika desa Hallstatt dengan skala 1:1 di Guangdong. Namun pada tahun 2011 dokumen dan cetak biru yang dibawa oleh salah seorang arsiteknya tertinggal di sebuah restoran di Hallstatt. Kabar bahwa Cina membuat Hallstatt palsu pun tersebar luas, menjadi kontroversi dan menimbulkan polemik. Tentu saja ini membangkitkan rasa ingin tahu, sehingga kunjungan ke Halstatt pun naik tajam nyaris mencapai 40.000 pada tahun itu dan terus naik hingga 60.000 kunjungan di tahun 2012 dan 2013. Tidak ada lagi kontroversi, “kami hanya terkejut bahwa desa Austria dibangun di sini, dan kini kami bangga atas peristiwa ini,” ujar walikota Alexander Scheutz pada Reuters saat menghadiri peluncuran Hallstatt made ini China pada 2012.

Hallstatt made ini China

Keberuntungan Hallstatt belum berhenti di situ. Walt Disney merilis film Frozen pada 2013, yang memperoleh Oscar dan termasuk Top 10 film terbesar dunia. Meski sebagian besar inspirasi kisah dan animasi bermuara di Norwegia, Nærøyfjord, namun beredar narasi bahwa kota Arandelle dalam film itu terinspirasi dari sebuah desa mungil di Austria, Halstatt.

Tak ayal kunjungan ke Hallstatt naik tajam ke 70.000 pada tahun 2014, dan terus-menerus naik setiap tahun hingga terhenti mendadak saat pandemi merebak pada tahun 2020. Sebelum pandemi, Washington Post mengabarkan bahwa Hallstatt dikunjungi 1 juta wisatawan di tahun 2018, sedangkan BBC menyebut ada 10.000 kunjungan per hari di musim turis tahun 2019.

Poster Frozen 2013

Salzwelten Hallstatt

Sebenarnya Hallstatt sudah mendunia sejak ribuan tahun lalu, bukan karena keindahannya, melainkan karena garam. Garam merupakan mineral paling berharga di era pra sejarah. Selain sebagai penyedap rasa, manusia kala itu membutuhkan garam untuk mengawetkan makanan, para penyintas membutuhkan cadangan makanan yang cukup. Pada awalnya garam diperoleh dari penguapan air asin. Di daratan benua Eropa yang jauh dari laut, garam menjadi komoditas yang sangat berharga, begitu dibutuhkan dan sulit diperoleh sehingga disebut sebagai emas putih.

Wilayah pegunungan Salzkammergut di Austria ini sangat kaya akan garam, tidak heran jika banyak tempat dinamai dengan awal kata “salz”, garam. Agak mengejutkan bahwa sepanjang era Neolitikum, zaman batu muda – 7.000 tahun lalu – wilayah ini sudah dipenuhi aktivitas penambangan garam. Dengan peralatan sangat sederhana memahat 200 meter masuk ke dalam gunung membangun sistem terowongan sepanjang 4000 meter, bertingkat-tingkat. Didorong semangat bahwa garam akan memberi kemakmuran dan kemapanan.

Sebagian dari makam yang ditemukan pada tahun 1846

Terbukti ditemukannya kekayaan luar biasa pada sekitar 1.300 makam termasuk 2.000 jenazah di lembah Salzberg pada tahun 1846 oleh Johann Ramsauer. Ekskavasi terus dilakukan hingga kini, dan sudah mendekati jumlah 1500 makam. Temuan arkeologis dari pemakaman membuktikan bahwa garam membawa kesejahteraan pada zaman prasejarah. Artefak-artefak yang ditemukan masih terpelihara baik karena iklim khusus di gunung garam. Banyak artefak halus, bahkan mengandung ambar dan gading, yang menunjukkan mereka adalah kaum dengan tingkat kehidupan yang jauh di atas rata-rata.

Sebagian artefak yang ditemukan bersama jenazah

Sementara di tambang garam (salzwelten), di bawah tanah banyak penemuan arkeologi termasuk tangga tertua di Eropa bersama dengan tangga-tangga primitif, beliung, tali, kulit binatang, karung, kain, sisa-sisa pakaian, sepatu dan sisa-sisa makanan, bahkan juga sisa makanan yang sudah dicerna. Berkat efek garam yang mengawetkan ditambah iklim pegunungan di ketinggian 800an meter, ribuan harta karun arkeologi ini terpelihara, dan dapat memberi kita wawasan tentang kehidupan para penambang ribuan tahun lalu.

Dalam periode peradaban bangsa Kelt, era antara tahun 800 hingga 400 SM disebut sebagai “Periode Hallstatt,” namun tidak ada kerajaan Hallstatt, hanya desa Hallstat. Ribuan artefak prasejarah membuktikan bahwa seluruh Eropa Tengah dari Prancis di barat hingga Laut Baltik di timur didominasi budaya Hallstatt. Diyakini bahwa eksploitasi tambang garam membuat budaya Hallstatt berkembang luas. Makna kata Hallstatt sendiri berarti Pondok Garam dalam bahasa Kelt.

Periode Hallstatt berakhir ketika tambang garam terhenti beroperasi akibat longsor besar-besaran pada tahun 350 SM. Terowongan dan tambang pengganti pun dibangun yang memakan waktu puluhan tahun.

Pada abad 16, produksi garam di Hallstatt kembali mengalami lonjakan. Hallstatt menjadi lokasi penambangan terpenting di wilayahnya sampai dihentikannya penambangan pada tahun 1965. Namun larutan garam tetap diproduksi sekitar satu juta meter kubik per tahun. Melalui sistem pipa, larutan garam dialirkan sepanjang 40 kilometer ke pabrik garam di Ebensee, di mana kemudian diubah menjadi berbagai macam produk garam. Pipa yang terbuat dari batang pohon ini dibangun pada tahun 1595, pipa tertua di dunia.

Tambang garam Hallstatt kini dikelola oleh Salzwelten Gmbh, bagian dari Salinen Austria AG, salah satu perusahaan tertua yang memiliki pengalaman sepanjang 500 tahun dalam mengolah garam pegunungan.

Menuju tambang garam dapat dilakukan dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu 1 jam pendakian, tentu saja tidak ada ojeg seperti di pendakian gunung kita. Pendakian bisa dilakukan dalam 3 menit menggunakan kereta funicular.

Visitor Center

Sebuah bangunan berlabelkan Top of Hallstatt mendominasi Visitor Center. Di sini tersedia loker untuk menyimpan barang pribadi, toilet, wifi, juga ada Salt Shop, toko suvenir yang menawarkan berbagai barang terkait dengan tambang garam. Tiga hal yang dipromosikan sebagai Top of Halstatt adalah Salt Mine, Sky Walk, Salt Shop.

Salzbergbahn Funicular

Salzbergbahn funicular berada di area belakang Visitor Center. Kereta tanpa mesin ini ditarik ke ketinggian 300 meter menyusuri relnya menuju lokasi tambang garam. Di sepanjang perjalanan, selama tiga menit para penumpang akan disuguhi pemandangan indah lanskap desa Hallstatt dan danau Hallstätter dari ketinggian.
Setiba di ketinggian, pengunjung bisa memilih ke tambang garam, ke situs makam purbakala, atau ke sky walk – the world heritage view.

Knappenhaus

Untuk mengunjungi tambang garam berjalan sekitar 15 menit menuju Knappenhaus (rumah penambang) tempat pengunjung dipersiapkan sebelum memasuki terowongan. Tersedia jubah untuk dikenakan guna melindungi pakaian para pengunjung tambang. Di gedung ini juga diselenggarakan pameran “the life and work of miners back in the 19th century”

Dari Knappenhaus berjalan kaki menuju Terowongan Christina yang sudah dibuka sejak 1719. Pengunjung akan berjalan dalam terowongan sekitar 200 meter untuk mencapai pusat garam, bebatuan yang mengandung garam hingga 90%.

Suhu di dalam terowongan konstan 8 derajad Celcius. Suasana era ribuan tahun lalu bisa dirasakan saat menjelajahi terowongan, dengan meraba dinding batu yang dipahat manual, dari 65 km terowongan yang ada, 22,5 km dapat dilalui dengan berjalan kaki, mengendarai gerobak rel, atau menggunakan papan luncur kuno turun ke level bawah. Prosotan pertama sepanjang 24 meter akan membawa pengunjung meluncur cepat namun melambat ketika tiba di bawah dan berhenti secara alami. Para penambang purba menggunakan sistem papan luncur ini untuk turun hingga 12 tingkat.

Setiba di bawah pengunjung disambut balok-balok batu garam besar yang diterangi cahaya. Dari sini di mulai pengenalan sejarah tambang garam. Dikisahkan 250 juta tahun lalu seluruh area di sekitar Hallstatt adalah lautan purbakala, kemudian sekitar 100 juta tahun lalu tumbuh pegunungan Alpen yang menelan sisa-sisa laut sehingga tercipta deposit garam yang besar di dalam perut gunung. Garam ini ditemukan manusia pada Zaman Batu dan ditambang sepanjang 7.000 tahun ini.

Setelah mengenal sejarah penambangan garam, pengunjung diajak untuk meluncur ke level bawah lagi. Kali ini dengan papan luncur lebih panjang, 64 m yang memberi sensasi mengasyikkan.
Di bawah pengunjung akan mendapati danau bawah tanah yang dihiasi permainan cahaya lalu mengunjungi Bronze Age Cinema.

Bronze Age Cinema merupakan atraksi paling menarik yang berada 400 meter di bawah tanah. Bioskop menampilkan animasi realistis, menghidupkan kembali rutinitas kerja berat para penambang Zaman Perunggu. Penonton seakan sedang berdiri di tengah-tengah kesibukan 3.400 tahun lalu.
Di sini bisa dilihat tangga kayu tertua di Eropa yang ditemukan pada tahun 2002. Penelitian Natural History Museum Vienna menunjukkan bahwa tangga ini digunakan untuk membawa “emas putih” keluar dari gunung pada tahun 1344 SM. Tangga kayu tertua di Eropa ini usianya hampir 3400 tahun, tentu sudah tidak ada lagi yang menaiki tangga itu, tetapi strukturnya masih dapat dikagumi di Bronze Age Cinema.

Kunjungan diakhiri dengan menaiki kereta menuju ke luar tambang. Sepanjang perjalanan akan diperoleh perspektif seberapa jauh pengunjung berada di dalam perut gunung.
Salzwelten Hallstatt juga menawarkan tur eksklusif untuk grup maksimal 10 orang. Pemandu akan menjemput di lokasi parkir Salzbergbahn dan peserta dijamu di Ruang VIP, dilengkapi dengan headset VR menjelajahi misteri tersembunyi dari tambang garam tertua di dunia.

Rudolfsturm

Dari pemberhetian kereta funicular, pengunjung bisa menuju Rudollfsturm (Menara Rudolf) di mana Sky Walk berada, dengan menyusuri jembatan besi seraya menikmati pemandangan indah.
Rudolfsturm adalah menara pertahanan dibangun pada tahun 1284 untuk melindungi tambang garam. Hingga tahun 1954 berfungsi sebagai tempat tinggal manajer operasi tambang garam.

Desainnya mencerminkan gaya rumah musim panas kaum borjuis yang populer pada periode itu. Pada tahun 1960an kunjungan wisata meningkat pesat, ruangan pun diperluas dan kemudian dikonversikan menjadi restoran, sehingga mempertahankan nilai utilitas properti dan menjamin kelanjutan keberadaannya.

Hallstatt Skywalk

Pada tahun 2013 ditambahkan anjungan World Heritage View yang menjorok ke arah danau. Anjungan bernama “Hallstatt Skywalk” ini memiliki panjang 12 meter yang secara bertahap meruncing ke satu titik. Menapakinya bagaikan berjalan di awan, mengambang di ketinggian 360 meter di atas atap desa Hallstatt menatap keindahan Hallstatt-Dachstein yang oleh UNESCO diakui sebagai World Heritage Cultural Landscape. Bentangan keindahan lanskap pegunungan Alpen, pemandangan menakjubkan danau Hallstätter yang merefleksikan birunya langit dengan perahu dan angsa putih, pegunungan Dachstein berpadang rumput tebal hijau dengan domba dan sapi putih. []

Sumber: hallstatt.netallthatsinteresting.com, im-salzkammergut.at, standard.co.uk traveller.com.au nationalgeographic.comThe Washington Post BBC Travel, zhujiworld.com 

Leave a Comment

https://indonesiaheritage-cities.org/